Opini Publik

(Jakarta,smartinfo).—Cultip dan Center dalam Sastropoetro (1987) menyatakan bahwa opini publik adalah sejumlah akumulasi pendapat individual tentang suatu isu dalam pembicaraan secara terbuka dan berpengaruh terhadap sekelompok orang. Dengan demikian, opini publik terbentuk melalui suatu kegiatan berupa debat pembicaraan, atau pertukaran informasi antara individi-individu yang berada dalam suatu kelompok. Clyde , opini publik adalah penilaian sosial mengenai suatu masalah yang penting dan berarti, berdasarkan proses pertukaran-pertukaran yang sadar dan rasional oleh khalayaknya (Sumarno, 1990:19). Elizabeth Noelle-Neumann dalam bukunya yang berjudul Return to the Concept of Powerful Mass Media, opini publik adalah sikap atau perilaku yang harus diungkapkan seseorang kepada publik jika orang tersebut tidak mengasingkan dirinya sendiri; dalam bidang yang menimbulkan pertentangan atau perubahan, opini publik adalah sikap-sikap yang diungkapkan seseorang tanpa membahayakan pengasingan dirinya sendiri. Dengan kata lain, opini publik adalah suatu pemahaman pada sebagian orang dalam komunitas yang terus menerus menaruh perhatian terhadap beberapa pengaruh atau masalah yang sarat nilai dimana baik individu maupun pemerintah harus menghargainya paling tidak berkompromi berupa perilaku terbuka berdasarkan ancaman untuk dikeluarkan atau diasingkan dari masyarakat. Leonard W. Doob mengemukakan : “..Publik opinion refrs to people’s attitudes on an issue when they are members of the same sosial group”. Doob disini memberi tekanan kepada sikap (“attitude”) sebagai sesuatu yang bernilai psikologis terhadap sesuatu isyu, manakala mereka (dalam arti “people”) menjadi anggota dari kelompok sosial yang sama. Lalu Doob mempertanyakan, kelompok mana yang terlibat, isyu yang mana yang terlibat dan mengapa masyarakat memberi respon terhadap isyu tersebut.Hennesy yang mendefinisikan Opini Publik adalah kompleksitas keyakinan yang diungkapkan oleh sejumlah orang-orang tentang suatu persoalan mengenai kepentingan umum.

Sumber :

  1. Helena Olii ( 2007 ) Opini Publik. Jakarta. Indeks
  2. Lippman, Walter, 1998, Opini Umum Kata Pengantar Baru Oleh Michael Curtis; Kata pengantar Edisi Indonesia, Mochtar Lubis; Penerjemah, S. Maimoen – Ed. 1 , Cet. 1. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Pengertian Opini Publik

Menurut Cultip dan Center (Sastropetro, 1987:41), opini merupakan suatu ekspresi tentang sikap mengenai suatu masalah yang bersifat kontroversial. Sementara Albig(Sunaryo, 1984:31) memaparkan bahwa opini timbul sebagai suatu jawaban terbuka terhadap suatu persoalan atau isu. Subjek dari suatu opini biasanya adalah masalah baru. Opini berupa reaksi pertama dimana orang mempunyai perasaan ragu-ragu dengan sesuatu yang lain dari kebiasaan, ketidakcocokan dan adanya perubahan penilaian. Unsur-unsur ini mendorong orang untuk saling mempertahankannya. Irish dan Proto (dalam Susanto, 1985:91) menyatakan bahwa suatu pendapat harus dinyatakan terlebih dahulu agar dapat dinilai sebagai pendapat umum atau opini publik. Hal ini disebabkan karena sesuatu yang belum dinyatakan belum bisa disebut opini karena belum mengalami proses komunikasi,melainkan masih merupakan sikap. Suatu pendapat akan menjadi isu apabila mengandung unsur kemungkinan pro dan kontra suatu pendapat (tentang suatu kejadian) yang telah dinyatakan dan dengan demikian ia akan menimbulkan adanya pendapat baru yang menyenangkan atau tidak baginya . Sedangkan Clyde L. King menyatakan bahwa opini publik adalah suatu penilaian sosial mengenai suatu hal yang penting dan berarti atas dasar pertukaran fikiran yang dilakukan oleh individu-individu dengan sadar dan rasional (Sastropoetro, 1987:53). Jadi timbulnya opini publik adalah efek komunikasi dalam bentuk pernyataan yang bersifat kontroversial dari sejumlah orang sebagai pengekspresian sikap. Menurut Elizabeth Noelle-Neumann dalam bukunya yang berjudul Return to the Concept of Powerful Mass Media, opini publik adalah sikap atau perilaku yang harus diungkapkan seseorang kepada publik jika orang tersebut tidak mengasingkan dirinya sendiri; dalam bidang yang menimbulkan pertentangan atau perubahan, opini publik adalah sikap-sikap yang diungkapkan seseorang tanpa membahayakan pengasingan dirinya sendiri. Dengan kata lain, opini publik adalah suatu pemahaman pada sebagian orang dalam komunitas yang terus menerus menaruh perhatian terhadap beberapa pengaruh atau masalah yang sarat nilai dimana baik individu maupun pemerintah harus menghargainya paling tidak berkompromi berupa perilaku terbuka berdasarkan ancaman untuk dikeluarkan atau diasingkan dari masyarakat. Opini publik atau pendapat umum diartikan sebagai apa yang dipikirkan, sebagai pendangan dan perasaan yang sedang berkembang di kalangan masyarakat tertentu mengenai setiap isu yang menarik perhatian rakyat (Eriyanto, 1999 : 3). Opini publik adalah kegiatan dari komunikasi politik. Opini adalah ekspresi mengenai sekelompok orang mengenai suatu isu. Sedangkan, Publik adalah sekelompok orang yang memiliki kepentingan yang sama dan yang memiliki keterikatan atau terpengaruh terhadap hal itu. Opini publik menurut Bernard Hennesy adalah kompleks preferensi terhadap suatu isu yang berkaitan dengan umum yang dilakukan oleh sekelompok orang. Menurut James Bryces dalam “Modern Democracy” opini public merupakan kumpulan pendapat dari sejumlah orang tentang masalah-masalah yang dapat mempengaruhi atau menarik minat atau perhatian masyarakat didalam suatu daerah tertentu. Opini publik dapat didefinisikan sebagai koleksi kompleks pendapat orang yang berbeda dan jumlah semua pandangan mereka. Selain itu, opini public juga merupakan jawaban terbuka terhadap suatu persoalan atau isu ataupun jawaban yang dinyatakan berdasarkan kata-kata yang diajukan secara tertulis ataupun lisan (Soenarjo,1997, p.85). Dari situlah publik yang membentuk opini memiliki kepentingan-kepentingan umum yang mempersatukan anggota-anggotanya, menciptakan suatu kesamaan pandangan dan mengarah kepada kebulatan pendapat tentang persoalan, sehingga terbentuklah opini public (Soenarjo,1997). Menurut Dan nimno (2006:3), opini publik merupakan proses yang menggabungkan pikiran, perasaan, dan usul yang diungkapkan oleh warga negara secara pribadi terhadap pilihan kebijakan yang dibuat oleh pejabat pemerintah yang bertanggung jawab atas dicapainya ketertiban sosial dalam situasi yang mengandung konflik, perbantahan, dan perselisihan pendapat tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya. Secara sederhana opini public merupakan kegiatan untuk mengungkapkan atau menyampaikan apa yang oleh masyarakat tertentu diyakini, dinilai dan diharapkan oleh seseorang untuk kepentingan mereka dari situasi tertentu (issue diharapkan dapat menguntungkan pribadi atau kelompok). Opini public dilukiskan sebagai proses yang menggabungkan pikiran, perasaan dan usul yang diungkapkan oleh warga Negara secara pribadi terhadap pilihan kebijakan yang dibuat oleh pejabat pemerintah yang bertanggungjawab atas dicapainya ketertiban social dalam siutuasi yang mengandung konflik perbantahan dan perselisihan pandapat tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana melakukannya. Opini public akan memunculkan citra personal seseorang tentang politik melalui suatu interpretasi yang akan menghasilkan opini pribadi. Setiap opini merefleksikan organisasi yang komplek yang terdiri atas tiga komponen yaitu kepercayaan, nilai dan pengharapan.

Ruang lingkup opini public:

Berdasarkan distribusinya opini public terbagi menjadi tiga yaitu opini public yang tunggal (ungkapan rakyat) disebut opini yang banyak, opini public beberapa orang (ungkapan kelompok) disebut opini yang sedikit dan opini public banyak orang (ungkapan massa) disebut opini yang satu. Ketiganya merupakan wajah opini public yaitu opini massa, kelompok dan opini rakyat. Dengan kata lain, opini publik dapat menimbulkan kontroversi, antara pemerintah dan masyarakat sendiri. Namun, tidak jarang juga opini publik justru diarahkan untuk menguatkan kekuatan para elit politik. Dari hal itulah, opini publik juga tidak sepenuhnya mencerminkan kehendak rakyat; sesuai dengan hati nurani masing-masing individu. Arti opini publik yang pramodern dewasa ini mempunyai arti penting dalam dua hal (Bernad Hennessy, 1990). Pertama, opini publik sebagai tekanan dari teman sejawat tetap merupakan hambatan bagi keterlibatan warga negara secara penuh. Minimnya sikap toleransi terhadap pandangan minoritas pun terjadi di banyak negara. Kedua, pemerintah mempunyai sumber yang luas untuk menciptakan, memperkuat, dan mengarahkan tekanan untuk menyesuaikan diri. Oleh karena itu, para elit politik tidak akan tanggung-tanggung melakukan manipulasi informasi dan kebohongan yang blak-blakan bila “kepentingan vital” mereka dirasakan terancam. Hal tersebut menunjukkan bahwa hanya segelintir orang saja yang tidak takut terisolasi jarena mereka mampu mengatakan hal yang bertentangan dengan kebijakan elit politik dan mampu membongkar kebobrokan sistem yang ada.

Karakteristik Opini Publik

Karakteristik utama opini pribadi yaitu opini mempunyai isu [opini adalah tentang sesuatu], arah [percaya-tidak percaya, mendukung-menentang], dan intensitas [kuat, sedang atau lemah]. Opini public juga mempunyai ciri-ciri tertentu. Pertama, terdapat juga isu, arah, dan intensitas mengenai opini public. Ciri-ciri ini menyangkut opini public tentang tokoh politik, partai, peristiwa dan segala jenis isu politik. Kedua, kontroversi menandai opini publik; artinya sesuatu yang tidak disepakati seluruh rakyat. Ketiga, opini public mempunyai volume berdasarkan kenyataan bahwa kontroversi itu menyentuh semua orang yang merasakan konsekuensi langsung dan tak langsung daripadanya meskipun mereka bukan pihak pada pertikaian yang semula. Keempat, opini public itu relative tetap. Penyebaran mayoritas dan minoritas sering berubah seperti pandangan individual, tetapi opini public tetap bertahan. Dan yang kelima, opini public mempunyai tampilan yang pluralitas.

Tiga wajah opini publik :

1.Wajah Opini Massa

Pengungkapan yang sebagian besar tidak terorganisasi yang disebut sebagai public, komunitas, opini latar belakang, consensus, atau suasana public. Opini massa berasal dari perseorangan yang mencapai pilihan personal dan konsidensi pilihan ini melalui selektivitas konvergen, suatu alat mencapai ketertiban social yang telah di kemukakan penting dalam menghasilkan pimpinan simbolik , persuasi massa, dan komunikasi massa.

2.Wajah Opini Kelompok

Setiap kelompok merupakan public tersendiri yang dipengaruhi oleh kosekuensi pertikaian tertentu dengan berbagai cara. Wajah opini public ini muncul baik melalui alat control social yang terorganisasi (seperti propaganda) maupun melalui member dan menerima dari kelompok yang melakukan negosiasi dengan satu sama lain.

3.Wajah Opini Rakyat

Yaitu jumlah opini perseorangan seperti yang diukur oleh polling dan survei politik, kecenderungan ukuran yang lain , pilihan membeli pada konsumen pemberian suara pada pemilihan umum, dan sebagainya.

Opini public diturunkan dari proses control social, konvergensi seleksi diri, dan negosiasi serta merupakan gabungan dari kesalinglingkupan propaganda, periklanan, dan retorik media organisasi, massa dan personal.

Dua hal yang menyangkut ciri pluralitas opini publik :

Pertama, opini public tidak identik dengan yang mana pun dari ketiga wajah ini; opini public adalah pengungkapan kolektif dari kepercayaan, nilai, dan pengharapan personal yang tampil melalui saling pengaruh dari ketiga manifestasi. Jika kita memperhitungkan opini public sepenuhnya, kita harus memperhatikan tidak hanya objek, tetapi juga kesalinglingkupan opini massa, pandanagn berbagai kelompok dan opini rakyat.

Kedua, ketiga wajah opini public itu bisa tidak konsisten terhadap satu sama lain; atinya, opini massa oleh para pemimpin dilambangkan sebagai public, posisi kelompok terorganisasi, dan opini rakyat yang diukur bisa saling berkontradiksi.

    Elemen-elemen Opini Publik

    Lima elemen opini publik:

  1. Isu Masyarakat yang memiliki keterkaitan dan kepentingan
  2. Kompleksitas preferensi
  3. Ekspresi Sejumlah orang membahasnya
  4. Dua dimensi untuk melihat opini publik:
  5. Preferensi: mendukung atau menolak
  6. Intensitas: sudah mengukur seberapa jauh preferensi tersebut.

Faktor-faktor yang mempengaruhi opini public

  1. Sosialisasi politik, beserta agen-agennya
  2. Budaya politik
  3. Ideologi negara dan agama
  4. Struktur ekonomi dan strata social
  5. Struktur negara
  6. Kekuatan Opini Publik

Ada tiga bentuk kekuatan opini public yang ada, diantaranya :

Kekuatan opini publik secara sosiologi

Manusia sebagai makhluk sosial sudah tentu akan berhubungan dengan manusia yang lain, baik sebagai pribadi maupun dalam kelompok bersama dengan individu atau kelompok-kelompok lainnya. Dalam kehidupannya sebagai makhluk sosial, manusia akan selalu memelihara, meningkatkan kehidupan yang harmonis di antara sesamanya. Sebagai anggota masyarakat manusia akan juga meningkatkan kerja sama dengan manusia lain sebagai anggota kelompok atau organisasi, dalam mencapai tujuannya meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Tindakan-tindakan manusia dalam memelihara kehidupan itu akan berpengaruh pada kehidupannya sebagai anggota masyarakat. Karena itu dalam berhubungan dengan manusia lain, tindakan-tindakan manusia itu perlu memperhatikan lingkungan & akan memperhatikan lingkungan yang berhubungan dengan permasalahan yang timbul. Hal itu terjadi mengingat tiap manusia mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi suatu persoalan yang muncul. Pengaruh kelompok atau organisasi juga akan turut mewarnai pandangannya terhadap masalah-masalah yang menimpanya, apalagi kalau masalah itu mengandung hal yang kontroversial. Persoalan atau masalah yang dapat menimbulkan bermacam opini itu biasanya yang menyangkut kepentingan umum, seperti yang terjadi saat sekarang di Indonesia. Krisis tidak berdiri sendiri, tetapi berhubungan dengan masalah lainnya, karena krisis itu juga menimbulkan pengaruh pada bidang-bidang lainnya. Sastroputro menyatakan bahwa perbedaan pandangan manusia itu bila mana orang berbicara tentang:

  1. Demokrasi,
  2. kehidupan yang layak,
  3. keputusan yang adil,
  4. kemakmuran yang tinggi,
  5. hidup/pesta sederhana,
  6. batas kenakalan remaja yang wajar,
  7. harga-harga yang murah,dan sebagainya (Sastroputro, 1987, 118).

Masalah-masalah tersebut jika muncul atau dibicarakan orang, hampir semuanya bisa mendatangkan perbedaan-perbedaan opini. Persoalan sembilan bahan pokok yang akhir-akhir ini mengalami kenaikan yang sampai dua-tiga kali lipat, kecuali merupakan masalah ekonomi, dampaknya menyangkut berbagai masalah sosial yang meresahkan rakyat. Kurs Dollar A.S. terhadap Rupiah yang sampai saat ini tidak menentu menyebabkan nilai Rupiah sangat lemah sehingga harga barang-barang impor seperti suku cadang kendaraan bermotor, barang-barang elektronika, bahan baku yang diperlukan industri dasar terutama bahan baku obat-obatan, plastik, & lain sebagainya naik sangat tajam.

Akibat yang dirasakan dengan kenaikan harga barang-barang itu berdampak sosial yang sangat dalam. Dengan banyaknya pabrik-pabrik yang tidak sanggup lagi memproduksi barang-barang karena kesulitan mendatangkan bahan baku & L/C yang datang dari pengusaha-pengusaha atau bank di Indonesia tidak diterima atau ditolak, sedangkan untuk membeli secara tunai tidak ada dananya. Hal ini menyebabkan banyak pabrik mengkhawatirkan produksinya, & dampaknya adalah PHK pegawai. Pemutusan hubungan kerja ini dampaknya secara sosial sangat terasa.

Persoalan ini menyebabkan timbulnya opini di kalangan masyarakat, yang secara sosiologis tidak bisa selesai dalam waktu tiga-empat bulan. Timbulnya opini dalam mengatasi permasalahan ekonomi, mengundang banyak opini-opini lain di kalangan para pakar. Opini para pakar itu menyebabkan pembentukan opini yang lebih besar sehingga melahirkan opini publik yang sesuai dengan cara pandang & pendekatan masing-masing latar belakang keilmuan para pakar itu sendiri.

Hal ini dapat dipahami karena tiap individu mempunyai alasan masing-masing dalam menanggapi masalah yang muncul dalam masyarakat. Jika opini kelompok tertentu diyakini sebagai opini yang dirasakan benar oleh individu dalam masyarakat, maka akan menjadi opini publik yang kuat & akhirnya dapat diterima berbagai pihak atau kelompok lainnya.

Opini publik yang didukung oleh kelompok-kelompok lain di luar kelompoknya sendiri, ini akan memberikan kekuatan terhadap individu atau kelompok dalam meresponsi permasalahan yang ada. Sementara persoalan itu sendiri sampai saat ini belum terpecahkan, imbasnya di bidang sosial makin terasa, & ini menyebabkan timbul kembali permasalahan-permasalahan sosial & budaya yang lain. Karena itu opini publik secara sosiologis mempunyai kekuatan yang kuat di masyarakat karena tiap individu atau kelompok masing-masing akan berhubungan & saling berinteraksi satu sama lain.

Kekuatan opini publik secara psikologis

Opini publik menurut Dubb merupakan sikap orang-orang mengenai suatu soal. Sikapnya itu adalah sikap manusia selaku pribadi maupun kelompok (S. Soenarjo, 1997, 28). Dari pendapat Dubb tersebut jelas bahwa dalam sikap seseorang itu pasti akan turut berpengaruh keseluruhan latar belakang orang tersebut. Dengan demikian itu berarti jika seseorang akan melahirkan opini terhadap suatu permasalahan, maka sikap orang tersebut adalah hasil dari rangsangan dari dalam manusia itu sendiri, sehingga apapun dari orang itu, misalnya pendidikan, pengalaman, perasaan, & pengetahuannya akan turut memberi warna terhadap opininya. & opini yang dihasilkan dari sekumpulan orang itu akan menjadi opini publik orang-orang itu. Astrid Soesanto (1975) menyatakan bahwa manusia pada umumnya mempunyai keinginan untuk mendasarkan tindakannya sebanyak mungkin atas pendapat umum (opini publik). Selanjutnya Soesanto menyatakan bahwa antara opini publik & sikap-sikap pribadi mempunyai hubungan yang erat.
Pengalaman pribadinya menentukan sikap & sikapnya itu bergantung juga pada pengalaman masyarakatnya sendiri, yaitu lingkungan yang memberi pada individu norma-norma tentang segala sesuatu yang benar & salah. Jadi secara psikologis sikap seseorang itu akan mempengaruhi segala opini yang dihasilkannya. Opini publik baru muncul jika ada permasalahan atau persoalan yang menyangkut kepentingan orang banyak/kelompok tertentu. Masalahnya itu sendiri yang menghendaki pemecahan yang segera, karena jika masalah yang timbul itu tidak diselesaikan akan menyebabkan masalah-masalah lain yang lebih rumit & menimbulkan masalah lain yang lebih kompleks. Permasalahan yang menyebabkan adanya individu-individu yang merasa kurang puas atau tidak senang terhadap masalah yang muncul itu mengakibatkan timbulnya opini yang juga bermacam-macam. Opini yang timbul bergantung pada luas tidaknya masalah, menyangkut kepentingan orang banyak atau individu tertentu dalam hubungannya selaku makhluk sosial yang bermasyarakat. Opini yang timbul dari individu mengenai suatu kejadian atau masalah-masalah lain, biasanya akan dipengaruhi oleh berbagai faktor internal yang ada pada diri komunikator seperti; pendidikan, pengalaman, status diri, penghasilan. asal dirinya, dst. Sehubungan dengan itu secara psikologis opini seseorang itu kekuatannya bergantung kepada orang lain yang diajak berdiskusi atau dikemukakan pada kelompok yang lebih besar. Seandainya kelompok yang lebih besar itu mau menerima atau meyakini opini itu benar, sebagai suatu pikiran yang telah diterima sebagai pikiran umum, maka opini itu akan menjadi opini publik. Opini publik yang terbentuk itu akan mempunyai kekuatan yang besar, apa lagi orang yang mempunyai opini itu dari lapisan tertentu misalnya pemuka pendapat atau orang-orang yang dianggap mempunyai kredibilitas tertentu dalam masyarakat. Sebaliknya jika seseorang mempunyai pengetahuan mengenai suatu masalah & dapat mempertanggungjawabkan buah pikiran mengenai sesuatu masalah tersebut & ia tak ada kesempatan untuk mengemukakan kepada orang lain, maka ia akan menyimpan suatu perasaan tidak enak atau tidak terpuaskan hatinya. Memang seharusnya suatu opini yang hendak dikemukakan sebelum diutarakan perlu mempertimbangkan juga opini atau pendapat orang lain. Opini yang akan dikemukakan sudah sepatutnya perlu dipikirkan terlebih dahulu, sehingga jika bertentangan dengan yang berlaku umum dapat dihindari. Sebaliknya juga jika sesuai dengan kaidah-kaidah umum, sehingga apa yang dikemukakan itu mendapat tanggapan yang positif itu memperlihatkan bahwa opininya bermutu. Dengan mempelajari opini publik seseorang dapat menentukan atau memperkirakan tindakan apa yang perlu dilakukan, sehingga kehati-hatian perlu dipertimbangkan.
Dengan demikian secara psikologis opini publik itu sebenarnya sangat dipengaruhi oleh pribadi-pribadi yang mempunyai kedudukan atau tempat dalam organisasi profesi atau lembaga-lembaga kemasyarakatan. Sikap & perilaku dari seseorang yang mempunyai kedudukan yang baik dalam organisasi profesi jika bisa memanfaatkan situasi & berlaku jujur dalam profesinya akan sangat dihargai & dihormati oleh segenap anggota masyarakat. Karena itu apapun tugas pekerjaan yang diemban seseorang jika dilakukan dengan berpijak pada kepentingan umum, apapun opini yang dikeluarkannya akan dianggap mewakili profesi di belakangnya. Ini berarti bahwa opini publik yang dihasilkannya akan sangat mempunyai kekuatan yang penting.

Kekuatan opini publik secara politis

Opini publik dalam lingkup kegiatan politik dapat dibentuk oleh perilaku tokoh-tokoh politik. Kemampuan berkomunikasi para tokoh politik merupakan kunci pokok keberhasilan membentuk opini publik di berbagai lapisan masyarakat. Pihak pemerintah tentu selalu menginginkan adanya opini publik yang mendukung segala kebijakan pemerintah karena dengan segala usaha akan selalu menciptakan suasana seperti yang diharapkannya. Hal itu dilakukan pemerintah agar masyarakat pada umumnya tetap mendukung & melaksanakan semua program yang telah disiapkan & ditetapkan melalui undang-undang. Pemerintah mengharapkan agar publik yang mempunyai kekuatan dalam opininya tetap berpihak & mau menjalankan segala sesuatu yang berhubungan dengan segala usaha pembangunan. Opini dari publik-publik yang dominan dalam masyarakat yang kemudian menjadi opini publik khusus atau tertentu itu perlu dipelihara, dibina, & dipupuk agar tetap dapat mendukung pemerintah. Publik yang dimaksud dalam kegiatan politik misalnya: kaum cendekiawan yang kebanyakan berasal dari kampus, kaum profesional sesuai dengan bidangnya, pemuka-pemuka agama dengan organisasi keagamaanya, & kaum wanita dengan organisasinya yang cukup banyak. Saat sekarang ini adalah para mahasiswa dari berbagai kampus baik negeri maupun swasta dengan organisasi kemahasiswaannya, & banyak lagi yang lain yang bisa melahirkan opini sesuai dengan publiknya. Opini dari publik-publik khusus tersebut tidak bisa diabaikan oleh pemerintah yang sedang membangun seperti Indonesia, apa lagi dalam keadaan krisis seperti saat sekarang. Menyepelekan opini dari mereka bisa mengakibatkan kurangnya dukungan dari publik-publik tersebut. Opini publik dari kelompok-kelompok khusus itu muncul begitu saja, karena itu pemerintah sebenarnya perlu bersyukur, dengan tidak mengeluarkan biaya, mendapatkan masukan-masukan dari masyarakat melalui kelompok-kelompok khusus tersebut. Pemerintah dengan aparat terkait tinggal meneliti & mempelajari opini-opini itu, kemudian menyusun program perbaikan atau cara-cara penanggulangan dengan segera. Respons yang positif dari pemerintah secara terbuka diperlukan agar publik yang memberikan opininya merasa diperhatikan. Memang ada opini publik dari kelompok-kelompok khusus itu tidak selamanya didukung oleh fakta yang benar, itu tidak menjadi persoalan karena opini itu bukan suatu fakta, maka kebenarannya perlu diteliti. Adanya masukan itulah yang perlu diperhatikan pemerintah, karena untuk opini yang faktual dan tepat, harus diciptakan dan pasti mengeluarkan biaya. Sebenarnya di Indonesia badan yang memberi masukan bagi pemerintah sudah ada misalnya DPA, juga DPR jika berfungsi dengan baik dapat memperhatikan opini publik dari kelompok-kelompok khusus itu, hingga dalam membuat undang-undang yang menjadi pekerjaannya juga memperhatikan aspirasi rakyat yang disalurkan melalui organisasi-organisasi kemasyarakatan yang memberi masukkan. Opini publik secara politis walaupun tidak selalu berdasarkan fakta dan tidak berdasarkan diskusi di antara publik-publik yang ada dalam masyarakat, apa lagi diskusi sosial di antara publik-publik tertentu misalnya para mahasiswa terhadap keadaan ekonomi negara, tetap secara moral memiliki kekuatan yang diyakini oleh segenap lapisan masyarakat. Secara kualitas opini publik dari kampus ini memang mungkin kurang berdasarkan pemikiran yang matang, karena memang opininya berasal dari tindakan atau pemikiran yang spontan. Pemikiran spontan itu tidak berarti kurang mutunya, karena para mahasiswa mengeluarkan opininya berdasarkan “waktu” yang cukup lama merenungi masalah yang muncul dalam masyarakat. Karena itu sewajarnya pemikiran yang berbentuk opini publik kampus itu mendapat tempat bagi pengambil keputusan dalam membuat kebijakan atau keputusan dalam menanggapi situasi yang melanda negara, lebih-lebih situasi yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia yang mengalami krisis. Sudah barang tentu walaupun opini publik kampus itu terjadi dengan spontan, tetapi jika itu berlangsung hampir di kota-kota besar yang memiliki perguruan tinggi, selayaknya diyakini sebagai usaha para mahasiswa yang ingin melihat negaranya maju & terbebas dari krisis. Opini publik kampus tidak & bukan satu-satunya yang perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Sebab ternyata yang memiliki perhatian terhadap negara dalam krisis seperti di Indonesia ini juga dari publik-publik lain, misalnya dari lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya seperti dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Lembaga ini terus memperjuangkan nasib para konsumen di Indonesia. Djoenaesih Sunarjo (1987, 81) mengemukakan secara politis mengapa opini publik dipelajari, karena bagi politisi akan mengetahui apa yang diinginkan oleh lawan politiknya didukung atau tidak oleh pengikutnya & bahkan politiknya dapat digunakan untuk menekan lawan. Sebaliknya dengan adanya opini publik akan diketahui pikiran atau siasat dari lawan atau saingan. Mempelajari kekuatan opini publik seperti yang telah diutarakan, baik secara sosiologis, psikologis, maupun politis mempunyai banyak keuntungan dari pada kerugian, sekalipun yang namanya opini publik menurut Adinegoro (dalam Sunarjo, 1987, 27) tidak berdasarkan pemikiran yang masak atau kurang berpikir jauh ke depan, tidak ada organisasinya, tidak ada pimpinannya & tidak bergerak cepat, tetapi jika dilihat dari kefaktualannya artinya sudah terjadi kejadiannya, maka opini publik memberikan manfaat-manfaat yang cukup banyak.

Sastroputro (1987, 119-123), memperinci kekuatan opini publik, sbb.:

  1. Opini publik dapat menjadi suatu hukuman sosial terhadap orang atau sekelompok orang yang terkena hukuman tsb.
  2. Opini publik sebagai pendukung bagi kelangsungan berlakunya norma sopan santun & susila, baik antara yang muda dengan yang lebih tua maupun antara yang lebih muda dengan sesamanya.
  3. Opini publik dapat mempertahankan eksistensi suatu lembaga atau bahkan bisa juga menghancurkan suatu lembaga.
  4. Opini publik dapat mempertahankan atau menghancurkan suatu kebudayaan.
  5. Opini publik dapat pula melestarikan norma sosial.

Tahap-tahap pembentukan opini public

Suatu isu dapat berkembang menjadi isu umum dan tidak tetap sebagai masalah pribadi jika konfliknya menyebabkan isu itu menjangkau keluar dari pihak-pihak yang langsungberurusan.Tahap pertama pempublikasian konflik pribadi ialah munculnya pertikaian yang memiliki potensi menjadi isu; yang kedua ialah munculnya kepemimpinan untuk melakukan publikasi. Kepemimpinan seperti itu dapat dilaksanakan oleh suatu pihak dari pertikaian yang semula, seseorang yang bekomunikasi melampaui orang-orang yang dikenalnya secara pribadi.Dalam peran kepemimpinan, komunikator politik mengungkap sikap pertikaian dan isu dengan kata-kata yang jelas, menyederhanakan kerumitannya dengan menggodokkannya menjadi penarikan perhatian, lambang yang bergema dan menggeneralisasikannya bagi khalayak yang banyak. Melalui segala cara pembicaraan dan persuasi pengaruh, pemimpin politik merumuskan isu itu gar dapat dipahami, menarik, dan mencapai kehidupan sebanyak-banyaknya rakyat. Jika kepemimpinan telah merangsang komunikasi tentang suatu isu melalui saluran massa, interpersonal, dan organisasi, maka terbukalah jalan bagi fase ketiga dari pembentukan opini, yaitu munculnya interpretasi personal. Melalui “sampling personal” orang menjadi tahu tentang opini orang lain yang berada diluar lingkungan kenalan langsung mereka. Sampling personal tidak hanya menyajikan gambaran tentang apa yang akan dilakukan oleh orang lain, juga meminta perhatian orang lain kepada serangkaian pilihan yang terbuka bagi orang itu. Ringkasnya, interpretasi personal memberikan gambaran tentang opini yang ada, apa yang mungkin dilakukan oleh orang lain dan apa yang dapat diterima oleh individu. Ini menuju tahap akhir pembentukan opini, tahap yang menyesuaikan opini pribadi setiap orang kepada persepsinya tentang opini yang lebih luas , yakni opini publik. Pada tahap ini terdiri atas pilihan individu untuk menyingkapkan atau tidak menyingkapkan opini pribadi. Melalui sampling personal, orang sampai kepada pandangan mengenai apakah setiap opini yang dapat diterima secara pribadi juga dapat diterima oleh mayoritas oleh dari sesuatu yang dipersepsi sebagai publik. Jika seseorang mempersepsikan bahwa pandangannya sejalan dengan iklim dan atau kecendrungan opini, orang itu cendrung bertindak dengan suatu cara di depan umum untuk mengungkapkan opini pribainya. Ini membantu penyusunan opini publik secara kolektif. Singkatnya, orang mengikuti arus opini yang dipersepsi dapat mengungkapkan pandanganya dengan raa aman bahwa ia tidak memulai perjalanan yang membangkitkan kecemasan bahwa akan datang badai celaan dari orang lain. Sebaliknya, memulai pengungkapan opini itu ia akan menurunkan jenis jaminan, presisi yang menurunkan teori Sullivan adalah kebutuhan esesial manusia. Bila seseorang mempersepsi bahwa iklim dan atau kecenderungan opini itu menentang pandangan pribainya, bahwa opini mayoritas tidak sesuai dengan dirinya. Dalam hal ini Neole-Neumann, orang merasa khawatir terhadap pengucilan dri sendiri, baik dalam arti mendapat celaan masyarakat maupun karena ia mulai meragukan kemampuannya sendiri dalam mengadakaan pertimbangan: “Di titik inilah individu dalam kaadaan rawan; di sinilah kelompok sosial dapat menghukumnya karena ia tidak dapat mengikuti aturan. Konsep tenang opini, sanksi, dan hukuman publik sangat erat pertaliannya satu sama lain”. Karena kawatir akan terisolasi, maka orang cenderung untuk sama sekali tidak mengungkapan opininya. Warga negara tetap diam. Jika tanggapkan seperti itu tersebar luas, akibatnya ialah apa yang oleh Neolle-Neumann disebut “spiral kebungkaman”, gejala bertambahnya jumlah orang yang ragu-ragu menyuarakan pandangannya karena khawatir karena termasuk ke dalam minoritas. Jadi, pembentukan opini adalah proses empat tahap yang melibatkan kesalinglingkupan aspek personal, social dan politik melalui munculnya :

  1. Pertikaian yang mempunyai potensi menjadi isu,
  2. Kepemimpinan politik,
  3. Interpretasi personal dan pertimbangan social,
  4. Kesediaan mengungkap opini pribadi didepan umum.

Pandangan itu mengandung beberapa implikasi. Namun sebelum itu ada dua hal yang perlu dibicarakan. Pertama, dalam memberikan peran utama kepada intepretasi personal yang aktif dalam membentuk opini, kita tidak mengulang esensi contoh manusia rasional dari perilaku manusia. Sebagian besar interpretasi terjadi sehari-hari, secara rutin, dianggap wajar tanpa benar-benar mencurahkan banyak pikiran terhadap samplingpersonal, pertimbangan social, atau perkiraan apa yang dipikirkan, dirasakan atau dipikirkan oleh orang lain. Kedua, yang perlu dibicarakan mengenai pembentukan opini sebelum kita meninjau implikasi pandangan kita, ialah mengenal karakteristik opini dan opini public. Contoh pembentukan opini publik yang terjadi saat ini ialah masalah pembayaran pajak. maraknya pemberitaan mengenai markus

Tahap-tahapan besar dalam pembentukan opini , yaitu:

  1. Awareness yaitu tahap pertama yang memfokuskan pada pemberian informasi yang ingin disampaikan kepada public.
  2. attention atau perhatian terhadap sebuah pesan meliputi media apa yang menyampaikan atau yang memuat pesan tersebut dan siapa penerima pesan atau audience.
  3. comprehension, pada tahapan ini si penerima mengerti atas isi pesan yang diterimanya berdasarkan dua hal yaitu repetition atau pengulangan akan pesan tersebut dan crediblity atau kredibilitas dari komunikator.
  4. retention yaitu kemampuan untuk mengingat kembali sebuah pesan yang diterimanya.
  5. Acceptance, yaitu tahap dimana si penerima pesan dapat menerima pesan yang telah disampaikan oleh komunikator. Untuk ke tahap action , maka harus melalui dua variabel acceptance atau dua tahapan yaitu :(a.). interest yaitu ketertarikan komunikan terhadap pesan dibagi menjadi dua yaitu secara logic atau nalar dan yang kedua adalah secara emotion. (b.)attitude atau sikap si penerima terhadap pesan tersebut, sikap memiliki tiga variabel yaitu: Compliance, identification & internalization.
  6. Action (Opini)

Proses pembentukan opini public melalui konstruksi

Opini adalah tindakan mengungkapkan apa yang dipercayai, dinilai dan diharapkan seseorang dari objek dan situasi tertentu.

Opini memiliki beberapa proses yang dikenal dengan konstruksi, yaitu :

  1. Konstruksi personal. Opini berupa pengamatan dan interpretasi atas sesuatu secara sendiri-sendiri dan subjektif.
  2. Konstruksi sosial. Konstruksi ini terdiri dari (a.) Opini kelompok. Opini pribadi di atas kemudian diangkat dalam kelompok tertentu. Maka jadilah opini kelompok.(b.) Opini rakyat Opini yang tersistematiskan melalui jalur yang bebas seperti pemilihan umum atau hasil polling.(c.) Opini massa yaitu opini yang berserakan, ini bisa berbentuk budaya atau konsensus. Inilah yang oleh para politikus disebut sebagai opini publik.(d.) Konstruksi politik. Ketiga opini hasil konstruksi sosial diatas dihubungkan dengan kegiatan pejabat publik yang mengurus masalah kebijakan umum. Inilah opini publik yang dikaji dalam komunikasi politik.

Dampak opini publik

Opini Publik terjadi akibat persepsi-persepsi yang timbul dan kemudian berkembang. Karena opini publik bukan organisasi dan tidak ada pemimpinnya maka opini publik tidak bisa dikendalikan, pasti selalu ada pro dan kontra. Perbedaan-perbedaan tersebutlah yang kemudian menjadi dampak di masyarakat. Dampak opini publik bisa positif bisa negatif bagi masyarakat. Dampak negatifnya adalah menyebarluasnya desas-desus akan sesuatu hal tanpa bukti akibat opini publik. Contohnya, supersemar yang sampai sekarang masih tidak jelas apakah benar-benar ada atau hanya rekayasa politik saja. Dampak positifnya seperti misalnya menyebarluasnya berita baik seeseorang akibat opini publik yang dapat meningkatkan prestise orang yang diberitakan. Sebagian dari dampak opini publik yang banyak adalah terbentuknya mitos, ideologi dan utopia. Opini masyarakat kebanyakan yang lama-lama seakan telah menempel pada kehidupan masyarakat dan bertahan lama hingga sekarang. Mitos di Indonesia banyak yang menyuguhkan bukti yang dikait-kaitkan pada cerita. Misalnya, Gunung Tangkuban Perahu yang dianggap menjadi bukti dari cerita Sangkuriang. Ideologi di Indonesia adalah pancasila yang dihasilkan dari pemikiran panjang setelah melihat dan mengenali keadaan bangsa. Utopia adalah harapan-harapan yang indah-indah yang dianggap seperti surga bagi manusia. Diperkirakan opini dan istilah ini muncul dari harapan-harapan masyarakat akan kedamaian di dunia yang hingga kini belum tercapai di dunia.

Prinsip-prinsip opini publik

Pendekatan prinsip terhadap kajian opini publik dapat dibagi menjadi empat kategori:

  1. Pengukuran kuantitatif terhadap distribusi opini
  2. Penelitian terhadap hubungan internal antara opini individu yang membentuk opini publik pada suatu permasalahan
  3. Deskripsi tentang atau analisis terhadap peran publik dari opini publik
  4. Kajian baik terhadap media komunikasi yang memunculkan gagasan yang menjadi dasar opini maupun terhadap penggunaan media oleh pelaku propaganda dan manipulasi.

Syarat-syarat opini publik

Tumbuhnya opini publik yang baik, sehat dan tepat memerlukan beberapa syarat berikut ini:

  1. Harus ada kebebasan berpikir dan mengeluarkan pendapat/perasaan serta kebebasan pers
  2. Minat rakyat terhadap soal-soal pemerintahan cukup besar
  3. Pendidikan politik yang cukup tinggi sudah dimiliki rakyat
  4. Kesediaan masyarakat mengutamakan kehendah atau kepentingan bersama
  5. Alat-alat yang biasa digunakan untuk membentuk opini publik adalah pers, organisasi politik, dan organisasi non-politik.

Cara-cara untuk mengukur opini publik dapat dilakukan dengan :

  1. Polling; pengumpulan suara/pendapat masyarakat secara lisan atau tertulis
  2. Attitude scales; dilakukan dengan maksud menetapkan bebera banyak orang yang setuju atau tidak setuju mengenai suatu masalah
  3. Interview; yang bersifat umum atau terbuka
  4. Tulisan-tulisan dalam surat kabar yang mengemukakan pendapatnya dengan maksud memancing timbulnya reaksi yang berwujud tulisan balasan dari pihak lain. Dari tulisan balasan tersebut diambil kecenderungan opini publik.

Disini kita akan membahas pengaruh polling terhadap Opini Publik.

POLLING

Pengertian polling

Polling adalah suatu kerja pengumpulan pendapat umum dengan menggunakan teknik dan prosedur ilmiah (Eriyanto,1999:75). Hal ini untuk membedakan dengan kerja pengumpulan pendapat unum lain yang tidak menggunakan penelitian ilmiah, seperti diskusi, demonstrasi, atau pengukuaran ekspresi pendapat umum lainnya. Metode yang digunakan dalam mengenali pendapat umum dalam polling adalah metode survei, yakni suatu metode dimana objek adalah orang atau individu dan menggunakan kuisioner sebagai alat untuk mendapatkan data atau informasi. Ada beberapa defenisi kunci yang dapat menggambarkan polling secara keseluruhan. Polling adalah metode yang memakai sampel untuk menggambarkan sikap atau pendapat populasi. Meskipun memakai sampel, hasilnya dimaksudkan untuk dapat digenaralisasikan pada populasi yang luas. Karena itu dalam penerapan sampel, sangat disarankan untuk memakai prinsip probabilitas sehingga hasil sampel adalah representasi dari populasi sesungguhnya. Polling hanya bisa digunakan untuk menggambarkan sikap atau perilaku (Eriyanto,1999:75). Ia adalah metode yang tepat untuk mengetahui apa yang publik pikirkan, apa yang publik rasakan terhadap suatu isu atau masalah. Ia dapat mengukur pendapat orang lain mengenai suatu permasalahan yang kontradikasi dalam masyarakat. Polling menggambarkan preferensi, atau intensitas terhadap pilihan pendapat, tapi hanya berhenti sampai di sana. Ia tidak dapat menjelaskan kenapa seseorang melakukan pilihan tersebut. Polling digunakan untuk menggambarkan secara sistematis fakta atau karakteristik secara akurat. Akumulasi data yang diperoleh semata-mata untuk deskripsi, ia tidak berusaha untuk mengkaji hipotesis atau menguji konsep tertentu. Polling digunakan untuk mendapatkan informasi tentang suatu fenomena dalam hal ini yang ingin didapat dari polling adalah sikap, pandangan, keyakinan masyarakat terhadap isu-isu yang berkembang. Karena itu dapat juga dikatakan bahwa polling adalah penerapan praktis dari metode survei, pemakaian metode survei untuk mengukur pendapat pulik terhadap isu-isu politik. Pengertian ini untuk membandingkan dengan penerapan praktis dari metode survei untuk keperluan lain. Dalam pelaksanaannya polling lebih sederhana dari survei akademik. Sifat kesederhanaan itu karena polling menuntut hasil yang cepat, agar hasilnyasecepatnya dapat dipublikasikan. Pertanyaan yang ditanyakan kepada publik juga tidak banyak, biasanya tidak lebih dari 20 pertanyaan. Seperti yang dikatakan oleh Cellinda C. Lake (dalam Eriyanto, 1999:77) berikut ini:
“Polling adalah cara sistematis, ilmiah dan terpercaya, mengumpulkan informasi dari sampel orang yang digunakan untuk mengenaralisasikan pada kelompok atau populasi yang lebih luas darimana sampel itu diambil. Polling tidak didesain untuk menyelidiki atau mengidentifikasi individu untuk keperluan ini, lebih murah dan efisien dengan cara lain seperti penyelidikan telefon. Kesalahan menentukan tujuan polling ini dapat mengakibatkan bias informasi yang didapat. Polling juga tidak dimaksudkan untuk menggambarkan banyak individu secara mendalam. Untuk keperluan ini, studi kasus adalah cara yang lebih efisien. Polling adalah suatupengukuran pada satu waktu untuk mengetahui sikap, perilaku, kepercayaan dan hubungan antara semua paraameter. Lewat generalisasi, hasilnya kemudian dapat diterapkan untuk masyarakat yang lebih luas.

Peran polling sebagai salah satu metode pengekspresian pendapat umum adalah:

  1. Pembentukan Kepercayaan
    Angka-angka statistik yang dihasilkan polling juga akan berperan dalam mempengaruhi kepercayaan khalayak terhadapa isu yang berkembang dalam masyarakat. Misalnya dari hasil polling menyatakan bahwa 80% dari sampel setuju atas kenaikan BBM dan merupakan solusi terbaik dalam menyelesaikan permasalahan sat ini. Jika hasil tersebut dimuat di seluruh media massa, maka akan mempengaruhi kepercayaan publik dalam memandang isu BBM. Kepercayaan sering dipakai untuk pernyataan yang mempunyai komponen normatif. khususnya yang berhubungan dengan agama, perilaku moral, norma sosial, dan sebagainya. Dengan kepercayaan, seseorang dibantu untuk melihat realitas dunia, berada diantara benar dan salah. Kepercayaan sering dihubungkan dengan dunia nyata dan menyediakan pengertian tentang bagaimana nilai dipakai dalam situasi yang berbeda.

    Sebagai contoh,

    seseorang yang mempunyai sikap nilai berdiri diatas kaki sendiri akan percaya bahwa kemakmuran hanya bisa dicapai lewat kerja keras.

  2. Pembentukan Sikap

    Sikap masyarakat dalam merespon suatu isu, merupakan tindakan kongkrit. Sikap pada khlayak tidak muncul secara spontan. Sikap pada khlayak akan timbul dari apa yang dipersepsikan dan apa yang dipercayai khalayak. Sikap lebih mengarah kepada orientasi umum pandangan dari suatu pemikiran, seperti konservatif, liberal, atau tradisional. Sikap seseorang dipengaruhi oleh nilai-nilai dasar yang dimiliki seseorang. Nilai-nilai dasar itu seperti kesamaan hukum, hak asasi, demokrasi, keadilan, dan sebagainya.

  3. Pembentukan Pendapat

    Polling mengukur apa yang difikirkan oleh masyarakat mengenai suatu isu atau masalah. Setelah data atau fakta tersebut sudah diketahui maka hasil polling tersebut akan mempengaruhi pendapat khalayak dalam memandang isu tersebut. Suatu pendapat akan menjadi isu apabila ia mengandung unsur memungkinkan pro dan kontra suatu pendapat. Disini mengacu kepada totalitas pendapat para anggota masyarakat tentang suatu isu. Hal ini berarti berbagai pendapat individu yang dibayangkan dan diukur serta dimiliki oleh masyarakat bersangkutan tentang suatu isu. Pendapat menghubungkan antara nilai yang diyakini atau kepercayaan yang dipercaya ketika menilai isu atau kejadian setiap hari. (Eriyanto, 1999 : 214-215). Polling merupakan pengumpulan suara / pendapat masyarakat secara lisan ataupun tertulis polling opinion adalah aktivitas untuk mengetahui pendapat publik tentang sebuah isu tertentu. Bisa isu lama, isu baru yang sedang hangat/aktual, atau isu lama yang kembali menghangat. Isu yang diangkat biasanya berkaitan dengan aspek sosial kemasyarakatan yang menjadi perhatian publik. Dengan metode ilmiah, khususnya teknik sampling untuk memperoleh reponden dan statistik, hasil polling dapat dipertanggungjawabkan.

  4. Contoh Kasus

    Kasus Polling Media Online: 97% Publik Kecewa Kinerja KPK pada Kasus Century

Sabtu, 15 Juni 2013
Polling pekanan periode 6-14 Juni 2013 yang dilakukan media online pkspiyungan.org dengan topik Penanganan Kasus Century oleh KPK menggambarkan mayoritas publik sangat kecewa dengan kinerja KPK. Sebanyak total 97.2 % publik kecewa atas Penanganan Century oleh KPK.

Hasil Poling selengkapnya:

– 90,7 % (8640 Vote) SANGAT KECEWA
– 6,5 % (617 Vote) KECEWA
– 2,8 % (270 Vote) TIDAK

Total Vote = 9527

Analisis

Dalam kasus ini kami menarik suatu teori yang di terapkan dalam keterkakaitan polling terhadap pembentukan opini public. Teori yang di gunakan adalah teori spiral kebisuan yang dimana teori ini merupakan gejala atau fenomena yang melibatan saluran komunikasi personal dan komunikasi melalui media. Media berfungsi menyebarluaskan opini public yang menghasilkan pendapat atau pandangan yang dominan. Dengan kata lain , orang tidak akan memiliki opini bersifat permanen atau statis. Pengaruh media terhadap polling dapat menimbulkan opini public kepada diri individu yang sering kali sangat halus sehingga tidak terasa, namun terkadang sangat kuat dan langsung. Masalah korupsi menjadi bahan pembicaraan yang hangat dibicarakan public akhir-akhir ini terutama yang disajikan dalam media massa baik lokal maupun nasional. Ada yang pro dan ada pula yang kontra terhadap masalah tersebut. Karena korupsi semakin merajalela setiap tahunnya ada saja kasus yang terungkap dan menjadi sorotan public. Keterkaitan Polling dengan Opini Publik adalah dengan adanya polling ini banyak masyarakat yang menganggap bahwa kinerja kerja KPK dalam mengatasi kasus menurun atau kurang tegas, sehingga masyarakat menjadi ragu akan kinerja dan kemampuan KPK dalam mengatasi masalah kasus korupsi yang terjadi di Indonesia. Dalam masalah kasus Bank Century ini saja KPK tidak mampu mengusut tuntas. Apalagi sekarang makin banyak kasus korupsi yang dilakukan oleh para politisi di Indonesia. Sehingga membuat masyarakat semakin tidak percaya akan kinerja KPK di Indonesia ini. Bagaimana Indonesia bias menjadi Negara maju apabila para pemegang kekuasaan di Indonesia hanya mementingkan kepentingan pribadi tanpa melihat masyarakat yang tidak semua bias hidup dengan layak. Dan dalam hasil polling dalam kasus di atas ini menujukkan bahwa banyak masyarakat atau public yang sangat kecewa atas hasil kinerja KPK terhadap kasus Bank Century, dan anggapan masyarakat lainpun akan menilai bahwa KPK tidak bekerja dengan baik secara maksimal. Polling ini juga dapat menurunkan citra dari KPK di mata public karena mereka sebagai komisi pemberantasan korupsi di Indonesia tidak dapat menangani kasus koropsi. Kinerja merka akan di anggap buruk dalam menangani kasus. Jadi apa tugas mereka apabila tidak bias menangani kasus secara baik untuk kedepannya. Mungkin akan banyak lagi kasus korupsi yang lebih merugikan masyarakat di Indonesia. Maka dari itu perlunya perbaikan keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk dievaluasi. Karena sudah waktunya kita melakukan evaluasi terhadap KPK. Bukan lembaganya yang kita hilangkan, tetapi dengan cara mereka (para pimpinan KPK) dalam menjalankan penanganan koropsi di Indonesia. Agar para koruptor tidak melakukan lagi korupsi dan tidak aka nada lagi koruptor lainnya. Melihat sekarang tingkat kepercayaan KPK oleh publik makin menurun. KPK seharusnya untuk tidak sensitif bila mendapatkan kritik dan saran dari masyarakat. Karena kritik adalah hal wajar, untuk meningkatkan kinerja KPKagar menjadi lebih baik lagi. Jadi, bisa disimpulkan bahwa polling melalui media online ini sangat berpengaruh terhadap opini public masyarakat yang dimana teori spiral kebisuan dominan membuat asumsi dasar dan pandangan masyarakat terhadap KPK dan nama baik (citra) KPK akan menurun di mata public karena hasil dari polling masyarakat sangat kecewa akan kinerja KPK yang tidak bisa secara maksimal menangani kasus korupsi Bank Century.

Sumber :

  1. Solihin,Olih.2014 : Opini public, Bandung, hlm 54-55
  2. http://www.pkspiyungan.org/2013/06/polling-media-online-97-publik-kecewa.html
  3. https://qoechil.wordpress.com/2012/05/06/defenisi-dan-ruang-laingkup-opini-publik/
  4. http://zizer.wordpress.com/2009/12/08/public-opinion-opini-publik/ 0 in Share.
  5. http://tugaskimochi.blogspot.co.id/2016/06/makalah-pengaruh-polling-terhadap-opini.html
Iklan

Terima Kasih

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: