Oleh: tonz94 | 10 Maret 2010

Teori Komunikasi

THEORY ORGANIZATIONAL COMMUNICATION
1. Adaptive Structuration Theory
2. Attraction-Selection-Attrition Framework
3. Competing Values Framework
4. Contingency Theories
5. Enactment Theory
6. Framing in Organizations
7. Groupthink
8. Media Richness Theory
9. Network Theory and Analysis in Organizations
10. Sensemaking
11. Structurational Theory
12. System Theory
13. Uncertainty Reduction Theory

THEORY INTERPERSONAL COMMUNICATION AND RELATIONS
1. Language Expectancy Theory
2. Network Theory and Analysis
3. Sensemaking
4. Social Identity Theory
5. Symbolic Interactionism
6. Social Cognitive Theory
7. Speech Act
8. Theory of Planned Behavior/ Reasoned Action
9. Uncertainty Reduction Theory
10. Attribution Theory
11. ACT Theory
12. Argumentation Theory
13. Contagion Theories
14. Classical Rhetoric
15. Cognitive Dissonance Theory
16. Elaboration Likelihood Model
17. Expectancy Value Model
18. Interpretative and Interaction Theories

THEORY MASS MEDIA
1. Agenda-setting Theory
2. Priming
3. Framing
4. Cultivation Theory
5. Dependency Theory
6. Hypodermic Needle Theory
7. Knowledge Gap
8. Media Richness Theory
9. Medium Theory
10. Spiral of Silence
11. Two Step Flow Theory

THEORY COMMUNICATION AND INFORMATION TECHNOLOGY
1. Adaptive Structuration Theory
2. Computer Mediated Communication
3. Contextual Design
4. Diffusion of Innovations Theory
5. Information Theories
6. Minimalism
7. Network Theory and Analysis
8. Reduces Social Cues Approach
9. Social Identity Model of Deindivuation Effects
10. Social Presence Theory

THEORY COMMUNICATION AND INFORMATION TECHNOLOGY
1. Framing
2. Language Expectancy Theory
3. Model of Text Comprehension
4. Network Theory and Analysis
5. Priming
6. Psycho-Linguistic Theory
7. System Theory

THEORY LANGUAGE THEORIES AND LINGUISTICS
1. Altercasting
2. Argumentation Theory
3. Classical Rhetoric
4. Coordinated Management of Meaning
5. Language Expectancy Theory
6. Model of Text Comprehension
7. Psycho-Linguistic Theory
8. Speech Act

THEORY MEDIA, CULTURE AND SOCIETY
1. Altercasting
2. Domestication
3. Cultivation Theory
4. Gatekeeping
5. Knowledge Gap
6. Medium Theory
7. Mental Models
8. Modernization Theory
9. Spiral of Silence

THEORY HEALTH COMMUNICATION
1. Elaboration Likelihood Model
2. Health Belief Model
3. Protection Motivation Theory
4. Social Cognitive Theory
5. Social Support
6. Theory of Planned Behavior/Reasoned Action
7. Transactional Model of Stress and Coping

Oleh: tonz94 | 19 Februari 2010

Strategi Pengembangan E-Government

Masyarakat mengharapkan layanan publik yang terintegrasi tidak tersekat-sekat oleh batasan organisasi dan kewenangan birokrasi. Dunia usaha memerlukan informasi dan dukungan interaktif dari pemerintah untuk dapat menjawab perubahan pasar dan tantangan persaingan global secara cepat. Kelancaran arus informasi untuk menunjang hubungan dengan lembaga-lembaga negara, serta untuk menstimulasi partisipasi masyarakat merupakan faktor penting dalam pembentukan kebijakan negara yang baik. Oleh karena itu, pelayanan publik harus transparan, terpercaya, serta terjangkau oleh masyarakat luas melalui jaringan komunikasi dan informasi

Oleh: tonz94 | 19 Februari 2010

Perkembangan Teknologi Komunikasi

Manusia adalah mahluk sosial, disamping Sandang, pangan, dan Papan sebagai kebutuhan utamanya, maka sebagai mahluk sosial manusia membutuhkan untuk berkomunikasi diantara sesamanya sebagai kebutuhan utamanya untuk dapat saling berhubungan satu dengan yang lainnya;

Oleh: tonz94 | 9 Januari 2010

ADVERTORIAL

Definition dari An advertorial atau infomercial adalah iklan yang dirancang untuk mensimulasikan isi editorial. Tulisan advertorial adalah iklan. Hanya saja, berbeda dengan iklan display, pada dasarnya, advertorial terkesan sebagai suatu berita sebagaimana dalam surat kabar atau majalah pada umumnya. Bedanya, tulisan seperti berita itu memang mengakomodir sesuai dengan kemauan klien (pemasang iklan), sembari memberi tulisan informatif kepada pembaca.

Narasumber atau klien membayar sejumlah uang untuk memasang tulisan tersebut di media. Sama halnya seperti membeli halaman untuk iklan display. Cuma beda tujuan. Iklan display bertujuan untuk membangkitkan minat khalayak sesuai pesan yang diiklankan, agar mereka tertarik membeli produk atau jasa yang ditawarkan, sehingga menghasilkan keluaran bersifat kuantitatif.

Sedangkan, tulisan advertorial lebih cocok menjadi bagian dari aktifitas below the line. Seperti target yang ingin diraih oleh kehumasan, dalam artikel sebanyak 3500 karakter, klien mencoba membangun kesadaran merek (brand awareness), citra merek, citra perusahaan (corporate image), atau menyajikan informasi agar pembaca lebih mengenal produk atau jasa.

Mungkinkah yang bagus-bagus saja diceritakan? Bisa jadi karena memang tulisan menganut azas ‘positive thinking’ atau karena sesuai kemauan klien. Dan sudah menjadi kewajiban moral agar setiap tulisan advertorial mecantumkan tulisan “Advertorial” atau “Iklan” pada tulisan tersebut agar pembaca bisa membedakannya dengan berita. Dalam penulisan advertorial tetap mengacu pada konsep 5W + 1 H seperti pembuatan berita. 5 W = Who (siapa), What (apa), Where (di mana/lokasi), When (kapan), dan Why (kenapa). Ditambah 1 H sebagai how (bagaimana).

Dalam proses pembuatan Advertorial, kadang terjadi klien membebaskan copy writer memunculkan angle yang menarik menurut copy writer. Ada pula klien yang sebelumnya sudah mewanti-wanti agar dalam tulisan tersebut muncul : A, B, C.. Kemudian dalam penulisan iklan pun terjadi kesesuaian dengan pembaca media tempat iklan itu dimunculkan. Sebagai contoh, suatu perusahaan consumer goods memasang iklan shampo dengan fokus utama pada kencan impian. Tentu saja, tips tentang kencan yang oke, dalam bahasa yang ringan dan yummy memang cocok di majalah remaja. Akan tetapi, apakah bisa memunculkan angle atau gaya bahasa yang sama jika tulisan tersebut muncul di majalah segmen dewasa? Tentu kita harus kembali berpikir tentang segmen pembaca yang mature, 25-40 tahun ke atas, tentu tidak perlu di ajarkan tentang kencan. Tapi bisa saja mereka jadi ingin tahu dating seperti apa yang diimpikan oleh seorang selebritas.

Bagaimana mengolah tulisan dalam advertorial agar ‘sedap’ di baca tanpa membuat orang segera membalik halaman atau melewatkannya. Ini menjadi tantangan tersendiri agar tulisan itu tetap menarik untuk di simak, seperti halnya Anda membaca berita.

Refrensi
http://www.advertorial.org/what-is-an-advertorial.html
http://netsains.com/2007/08/advertorial-juga-mengenal-kaidah-jurnalistik/

Oleh: tonz94 | 9 Januari 2010

EDITORIAL

MEROMBAK PENGELOLAAN ANGGARAN

BURUKNYA perencanaan dan penggunaan anggaran di negeri ini nyaris bukan kisah baru. Ia seperti penyakit menahun yang tidak sembuh-sembuh kendati sudah diketahui penyebabnya. Begitulah yang terjadi setiap kita mendengar tidak tuntasnya penyerapan anggaran, baik oleh pemerintah pusat, lebih-lebih pemerintah daerah.

Begitu pula ketika kita menyaksikan anggaran itu amat lamban terserap dalam sepuluh bulan, lalu tiba-tiba secara cepat bisa terserap signifikan hanya dalam kurun dua bulan di akhir tahun. Padahal, banyak yang mafhum bahwa penyerapan anggaran berarti belanja dan belanja merupakan penggerak roda perekonomian. Toh tetap saja, pengelola anggaran seolah tak mau ambil pusing.

Sudah tak berbilang ancaman sanksi pemotongan anggaran didengungkan bagi departemen, lembaga, atau pemerintah daerah yang gagal menyerap anggaran. Tapi, angka penyerapan anggaran bergeming di level 80% sampai 90%, tidak pernah sampai 100%. Bahkan, mulai ada kegemaran di sejumlah daerah untuk menaikkan besaran sisa lebih penggunaan anggaran atau silpa.

Lalu, silpa itu dianggap sebagai prestasi dalam mendongkrak pendapatan asli daerah. Masih amat jauh untuk berharap bahwa anggaran merupakan mata rantai penting penggerak ekonomi. Dengan mental pengelolaan yang buruk, anggaran berlebih justru bisa menjadi malapetaka baru, yakni pemanfaatan anggaran untuk kepentingan di luar hakikat penggunaan sebuah anggaran.

Itu pula yang harus dicermati menyikapi penyerahan daftar isian pelaksanaan anggaran atau DIPA oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada para menteri, pemimpin lembaga, dan gubernur, Selasa (5/1) lalu. Penyerahan DIPA mestinya diartikan sebagai pelaksanaan anggaran secara serius melalui program kerja yang konkret dan langsung menyentuh hajat hidup masyarakat.

Selain itu, penyerahan DIPA mestinya merupakan amanah bagi pengelola anggaran untuk menggunakan dana secara jujur, transparan, dan akuntabel. Teramat mahal ongkosnya jika amanah mengelola anggaran sebesar Rp1.047,7 triliun itu ditunaikan secara main-main, bahkan buruk. Karena itu, mesti ada parameter yang jelas soal mekanisme hukuman dan apresiasi terkait dengan pengelolaan anggaran.

Mereka yang mampu menggerakkan anggaran menjadi stimulus ekonomi dan terserap secara penuh amat berhak mendapat apresiasi berupa penambahan dana tahun berikutnya. Sebaliknya, mereka yang hanya menumpuk anggaran dan menyimpannya di Sertifikat Bank Indonesia demi dinikmati bunganya harus menerima hukuman pemotongan anggaran tahun berikutnya.

Mekanisme itu mesti dilaksanakan secara konkret, bukan hanya menjadi aturan resmi pelengkap manajemen pemerintahan. Terlalu banyak modal yang disia-siakan akibat buruknya pengelolaan anggaran. Mulai kali ini, demi kesejahteraan rakyat, sudahi itu semua.

Sumber :
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/01/01/115806/70/13/Merombak-Pengelolaan-Anggaran….8 Januari 2010

Oleh: tonz94 | 24 Desember 2009

MEDIA MASSA

Media massa atau Pers adalah suatu istilah yang mulai dipergunakan pada tahun 1920-an untuk mengistilahkan jenis media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. Dalam pembicaraan sehari-hari, istilah ini sering disingkat menjadi media.

Masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah memiliki ketergantungan dan kebutuhan terhadap media massa yang lebih tinggi daripada masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi karena pilihan mereka yang terbatas. Masyarakat dengan tingkat ekonomi lebih tinggi memiliki lebih banyak pilihan dan akses banyak media massa, termasuk bertanya langsung pada sumber/ ahli dibandingkan mengandalkan informasi yang mereka dapat dari media massa tertentu.

Media massa tradisional
Media massa tradisional adalah media massa dengan otoritas dan memiliki organisasi yang jelas sebagai media massa dimana terdapat ciri-ciri seperti:
1.Informasi dari lingkungan diseleksi, diterjemahkan dan didistribusikan
2.Media massa menjadi perantara dan mengirim informasinya melalui saluran tertentu.
3.Penerima pesan tidak pasif dan merupakan bagian dari masyarakat dan menyeleksi informasi yang mereka terima.
4.Interaksi antara sumber berita dan penerima sedikit.

Macam-macam media massa tradisional
surat kabar
majalah
radio
televisi
film (layar lebar).

Media massa modern
Seiring dengan perkembangan teknologi dan sosial budaya, telah berkembang media-media lain yang kemudian dikelompokkan ke dalam media massa seperti internet dan telepon selular.
Media massa yang lebih modern ini memiliki ciri-ciri seperti:
1.Sumber dapat mentransmisikan pesannya kepada banyak penerima (melalui SMS atau internet misalnya)
2.Isi pesan tidak hanya disediakan oleh lembaga atau organisasi namun juga oleh individual
3.Tidak ada perantara, interaksi terjadi pada individu
4.Komunikasi mengalir (berlangsung) ke dalam
5.Penerima yang menentukan waktu interaksi

Pengaruh media massa pada budaya

Menurut Karl Erik Rosengren pengaruh media cukup kompleks, dampak bisa dilihat dari:
1.skala kecil (individu) dan luas (masyarakat)
2.kecepatannya, yaitu cepat (dalam hitungan jam dan hari) dan lambat (puluhan tahun/ abad) dampak itu terjadi.

Pengaruh media bisa ditelusuri dari fungsi komunikasi massa, Harold Laswell pada artikel klasiknya tahun 1948 mengemukakan model sederhana yang sering dikutip untuk model komunikasi hingga sekarang, yaitu :
1.Siapa (who)
2.Pesannya apa (says what)
3.Saluran yang digunakan (in what channel)
4.Kepada siapa (to whom)
5.Apa dampaknya (with what effect)

Model ini adalah garis besar dari elemen-elemen dasar komunikasi. Dari model tersebut, Laswell mengidentifikasi tiga dari keempat fungsi media.

Fungsi-fungsi media massa pada budaya
1.Fungsi pengawasan (surveillance), penyediaan informasi tentang lingkungan.
2.Fungsi penghubungan (correlation), dimana terjadi penyajian pilihan solusi untuk suatu masalah.
3.Fungsi pentransferan budaya (transmission), adanya sosialisasi dan pendidikan.
4.Fungsi hiburan (entertainment) yang diperkenalkan oleh Charles Wright yang mengembangkan model Laswell dengan memperkenalkan model dua belas kategori dan daftar fungsi. Pada model ini Charles Wright menambahkan fungsi hiburan. Wright juga membedakan antara fungsi positif (fungsi) dan fungsi negatif (disfungsi).

Pengaruh media massa pada pribadi

Secara perlahan-lahan namun efektif, media membentuk pandangan pemirsanya terhadap bagaimana seseorang melihat pribadinya dan bagaimana seseorang seharusnya berhubungan dengan dunia sehari-hari.
Pertama, media memperlihatkan pada pemirsanya bagaimana standar hidup layak bagi seorang manusia, dari sini pemirsa menilai apakah lingkungan mereka sudah layak, atau apakah ia telah memenuhi standar itu – dan gambaran ini banyak dipengaruhi dari apa yang pemirsa lihat dari media.

Kedua, penawaran-penawaran yang dilakukan oleh media bisa jadi mempengaruhi apa yang pemirsanya inginkan, sebagai contoh media mengilustrasikan kehidupan keluarga ideal, dan pemirsanya mulai membandingkan dan membicarakan kehidupan keluarga tersebut, dimana kehidupan keluarga ilustrasi itu terlihat begitu sempurna sehingga kesalahan mereka menjadi menu pembicaraan sehari-hari pemirsanya, atau mereka mulai menertawakan prilaku tokoh yang aneh dan hal-hal kecil yang terjadi pada tokoh tersebut.

Ketiga, media visual dapat memenuhi kebutuhan pemirsanya akan kepribadian yang lebih baik, pintar, cantik/ tampan, dan kuat. Contohnya anak-anak kecil dengan cepat mengidentifikasikan mereka sebagai penyihir seperti Harry Potter, atau putri raja seperti tokoh Disney. Bagi pemirsa dewasa, proses pengidolaaan ini terjadi dengan lebih halus, mungkin remaja ABG akan meniru gaya bicara idola mereka, meniru cara mereka berpakaian. Sementara untuk orang dewasa mereka mengkomunikasikan gambar yang mereka lihat dengan gambaran yang mereka inginkan untuk mereka secara lebih halus. Mungkin saat kita menyisir rambut kita dengan cara tertentu kita melihat diri kita mirip “gaya rambut lupus”, atau menggunakan kacamata a’la “Catatan si Boy”.

Keempat, bagi remaja dan kaum muda, mereka tidak hanya berhenti sebagai penonton atau pendengar, mereka juga menjadi “penentu”, dimana mereka menentukan arah media populer saat mereka berekspresi dan mengemukakan pendapatnya. Penawaran yang dilakukan oleh media bisa jadi mendukung pemirsanya menjadi lebih baik atau mengempiskan kepercayaan dirinya. Media bisa membuat pemirsanya merasa senang akan diri mereka, merasa cukup, atau merasa rendah dari yang lain.

Referensi
1.Gamble, Teri and Michael. Communication works. Seventh edition.
2.C. Wright Mills, The Mass Society, Chapter in the Power Elite,1956
3.http://id.wikipedia.org/wiki/Media_massa

Oleh: tonz94 | 20 Desember 2009

KONSTRUKSI SOSIAL TEKNOLOGI

Wacana demokrasi kontemporer di Indonesia selalu memfokuskan diri pada issu sekitar perimbangan kekuatan antara negara dan masyarakat, issu representasi dalam pemerintahan, dan yang terakhir mengenai peran partai-partai politik dan perpecahannya. Sangat sedikit perhatian -untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali -diberikan kepada issu mengenai bagaimana teknologi berperan dalam proses demokratisasi. Sebaliknya, para ahli teknologi kita jarang sekali melihat signifikansi aspek-aspek sosial politik dalam proses pengembangan teknologi sehingga tidak jarang menimbulkan diskrepansi antara teknologi yang dikembangkan dengan realitas sosial politik. Tulisan ini merupakan start up bagi dialog dua arah antara para ahli sosial dan politik dengan ahli teknologi dalam mencari suatu pemahaman relasi dua wilayah tersebut yang selama ini tidak pernah bersentuhan, baik dalam wacana akademis maupun dalam wacana praktis.

Ada dua alasan diperlukannya suatu pemahaman yang baik tentang keterkaitan antara demokrasi dan teknologi. Pertama adalah bahwa sistem demokrasi yang baik pada situasi tertentu akan sangat tergantung pada teknologi. Sebagai misal adalah teknologi telekomunikasi yang digunakan dalam proses penyebaran berita-berita politik yang merupakah hak setiap warga negara. Atau misalnya teknologi komputasi yang digunakan dalam proses penghitungan suara dalam pemilihan umum. Peran teknologi menjadi penting ketika kita menyadari bahwa sistem demokrasi yang baik dapat dimanipulasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan melalui penguasaan teknologi tersebut.

Jika alasan pertama menyorot pada bagaimana teknologi mempengaruhi sistem demokrasi, maka alasan kedua berada pada anak panah yang sebaliknya, yakni demokrasi mempengaruhi proses pengembangan teknologi. Pengembangan teknologi di suatu negara, baik negara dimana peran pemerintah sangat kuat maupun negara liberal seperti di Amerika Serikat, tidak pernah lepas dari peran pemerintah. Teknologi mempengaruhi sistem demokrasiPemerintahlah yang memiliki kekuasaan untuk membuat suatu kebijakan teknologi (technology policy). Point of interest di sini adalah fakta bahwa pengembangan teknologi merupakan hasil dari suatu proses politik. Keberhasilan tim Manhattan Project dalam mengembangkan bom hidrogen yang digunakan dalam tragedi Hiroshima dan Nagasaki setengah abad lebih yang lalu adalah salah satu contoh pengembangan teknologi yang didasari atas motif politik (political impetus). Di Indonesia, kebijakan teknologi menjadi penting jika kita melihat fakta bahwa telah begitu banyak dana pengembangan teknologi dikeluarkan oleh pemerintah tetapi tidak memberikan dampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

KONSTRUKSI SOSIAL TEKNOLOGI

Ketika era reformasi digulirkan oleh kalangan mahasiswa di Jakarta dan diikuti oleh kampus-kampus dikota yang lain, ada satu hal yang membedakan secara signifikan gerakan mahasiswa 1998 ini dengan apa yang dilakukan oleh senior-senior mereka di tahun-tahun sebelumnya. Faktor penting tersebut adalah penggunaan internet. Secara fungsional internet adalah media pertukaran informasi yang tidak berbeda fungsinya dari sebutlah itu telepon, koran, faksimil. Tetapi internet memiliki empat karakteristik yang membuatnya menjadi superior dibanding media komunikasi lainnya. Pertama adalah biaya penggunaan yang relatif murah. Kedua adalah sifatnya yang real time. Ketiga adalah sifatnya yang borderless. Tidak ada sekat-sekat ruang di media ini yang memungkinkan tiap orang dapat saling terkoneksi dengan baik. Keempat, dan ini yang paling penting, internet menyediakan ruang-ruang publik yang tidak dapat ditembus oleh otoritas penguasa. Ketika Tempo dibredel oleh Harmoko atas nama penguasa Orde Baru, bukan berarti kematian bagi Tempo. Internet lalu menjadi alternatif yang sangat jitu dalam penyebaran berita-berita politik aktual oleh Tempo.

Karakteristik-karakteristik tersebut menjadikan internet media yang paling efektif dalam gerakan reformasi tahun 1998. Berita-berita politik dapat disebar tanpa adanya hambatan dari penguasa. Aksi-aksi demokrasi dapat terkonsolidasi dengan mudah lewat penggunaan internet khususnya pengiriman surat lewat e-mail. Para pendukung gerakan reformasi mendapat feedback yang cepat melalui internet. Secara umum bahkan bisa dilihat bagaimana internet merubah perilaku individual dan sosial masyarakat khususnya di wilayah-wilayah yang memiliki infratsruktur teknologi pendukung internet yang memadai seperti di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Dari teknologi yang kelihatannya sepele ini, gerakan reformasi mendapat momentum politik yang besar. Kajian yang lengkap mengenai internet dan proses reformasi di Indonesia dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Merlyna Lim, kandidat doktor Science, Technology, and Society Studies (STS) University of Twente.

Tentunya internet bukanlah satu-satunya faktor teknologis yang bermain. Telepon selular dan televisi adalah faktor teknologis yang berperan cukup penting dalam akselerasi momentum politik gerakan reformasi 1998. Tetapi internetlah yang saya kira memberikan suatu kesempatan yang baru bagi para pelaku refromasi untuk saling berinteraksi secara lebih intensif.

Michael Dertozous, pelopor ArpaNet yang merupakan cikal bakal internet, tidak pernah membayangkan atau dengan sengaja menciptakan teknologi yang berdampak pada sistem demokrasi di Indonesia. Datang ke Indonesiapun mungkin dia belum pernah. Evolusi pemfungsian internet dari sarana komunikasi antar komputer menjadi media demokratisasi dapat dipahami dalam kerangka teori kontruksi sosial teknologi(social construction of technology) dimana perkembangan teknologi tidaklah bersifat linier (Bijker, 1987).

Berkembanganya suatu teknologi adalah hasil dari konstruksi sosial (socially constructed). Suatu teknologi berkembang sebagai suatu hasil bentukan sosial (social shaping) di mana teknologi tersebut berada. Ahli teknik dan ahli desain yang merancang suatu produk teknologi “hanyalah” agen-agen teknis yang “tunduk” pada proses sosial antara produk teknologi dan masyarakat pengguna. Teknologi bukanlah suatu entitas vakum dan bebas nilai. Ketika berinteraksi dengan masyarakat pengguna, teknologi mengalami proses appropriation (diterjemahkan secara bebas sebagai penyesuaian). Appropriation adalah suatu proses pemberian makna oleh kelompok-kelompok masyarakat berdasarkan nilai-nilai serta kepentingan yang ada pada masyarakat tersebut terhadap suatu produk teknologi Pemberian makna yang beragam, baik antar individu maupun anta kelompok, menjadikan proses perkembangan (evolusi) teknologi menjadi multikultural.

Dari penjelasan ini kita bisa memahami bagaimana “nilai” suatu produk teknologi pada suatu kelompok sosial tertentu berbeda dengan kelompok sosial lainnya karena perbedaan budaya kedua kelompok tersebut Sebagai misal, kecenderungan orang Indonesia dalam memaknai produk teknologi sebagai bagian dari gaya hidup menghasilkan nilai guna yang berbeda dengan orang Eropa yang memperlakukan produk teknologi semata-mata sebagai instrumen. Contoh yang gamblang adalah telepon seluler yang bagi orang Indonesia dianggap bukan hanya sebagai alat telekomunikasi, seperti yang dilakukan oleh orang Eropa, tetapi sebagai simbol status. Perbedaan “makna” ini berimplikasi pada proses appropriation yang berbeda terhadap produk teknologi yang sama yang mempengaruhi proses perkembangan teknologi tersebut.

Proses appropriation teknologi ini terjadi dalam teknologi internet dalam kaitannya dengan proses demokratisasi di Indonesia. Setiap fungsi teknis yang terangkum dalam internet mengalami proses penyesuaian yang tidak hanya berimplikasi pada fungsi teknis, tetapi juga fungsi sosial (dan politik).

Proses appropriation menjadi krusial ketika teknologi menjadi alat (manipulasi) politik yang ampuh. Penguasaan teknologi pencitraan melalui satelit oleh negara-negara maju adalah salah satu bukti bagaimana negara-negara tersebut mampu mendominasi konstelasi politik dunia melalui teknologi. Atau bagaimana CNN yang pro-barat dengan jaringan teknologi broadcasting yang sangat luas mampu menghegemoni berita-berita dunia. Di Indonesia, kasus penguasaan teknologi sebagai alat politik bisa dilihat ketika Golongan Karya masih berkuasa pada era Orde Baru dimana televisi dan beberapa media lainnya dijadikan alat propaganda yang ampuh.

Apa yang dijelaskan di atas ingin menunjukkan bagaimana peran teknologi dalam sistem demokrasi. Pada satu sisi teknologi dapat membantu proses demokratisasi tetapi pada sisi lain penguasaan teknologi oleh kelompok tertentu pada dapat mempengaruhi berjalannya sistem demokrasi.

DEMOKRATISASI TEKNOLOGI

Issu demokratisasi dalam teknologi dapat dilihat dalam konteks proses kebijakan. Seperti telah disebutkan sebelumnya, perkembangan teknologi sedikit banyak bergantung pada kebijakan pemerintah. Dalam konteks ini, pengembangan teknologi adalah political statement dalam arti kata bahwa teknologi merupakan representasi kepentingan-kepentingan politis. Hal ini jelas terbukti pada kebijakan teknologi di beberapa negara di mana perkembangan teknologi sangat tergantung pada keputusan politik pemerintah untuk mencapai political ends tertentu atas negara lain.

Proyek pengembangan teknologi dirgantara di era Habibie adalah contoh kasus yang sangat kontekstual. Pengembangan teknologi canggih, khususnya industri dirgantara merupakan political statement untuk mengangkat citra Indonesia di mana internasional. Sebagai political statement, teknologi canggih yang dikembangkan sangat sarat dengan muatan-muatan politik (political impetus) yang sayangnya justru menjadikan proyek-proyek tersebut jauh dari realitas sosial ekonomi masyarakat.

Dari sekian banyak alternatif teknologi yang dapat dikembangkan, keputusan Habibie untuk mengembangkan teknologi dirgantara tidak lepas dari kerangka teknologi sebagai political statement. Dengan dukungan politik yang utuh dari Presiden Suharto pada masa itu, kebijakan Habibie dalam pengembangan teknologi canggih seakan-akan menjadi suatu keharusan dan setiap warga negara Indonesia patut mendukung. Tetapi harga yang harus dibayar teramat mahal. Krisis finansial yang melanda IPTN (sekarang PTDI) dan terhentinya proyek N250 dan N2130 menjadi salah satu bukti ketidaktepatan kebijakan teknologi yang dibuat oleh Habibie.

Kebijakan teknologi Habibie tidak saja gagal dalam proyek pengembangan teknologi canggih, tapi juga telah mengorbankan sektor lainnya untuk berkembang karena tersedotnya dana ke sektor teknologi canggih yang menyerap dana triliunan rupiah. Pengembangan teknologi pertanian misalnya, atau jenis teknologi lainnya yang lebih menyentuh kebutuhan nyata masyarakat luas menjadi terhambat dana yang terbatas.

Kegagalan kebijakan teknologi Habibie sangat erat terkait dengan sistem politik otoriter di era Orde Baru. Kedekatan Habibie dengan Presiden Suharto menjadikan proses kebijakan teknologi menjadi sangat tertutup dan cenderung one-man-show sehingga manipulasi sangat mungkin terjadi. Ketidaktepatan kebijakan (inappropriate policy) yang dibuat Habibie adalah bentuk governing mentality yang cenderung menafikan keterlibatan publik dalam proses pengambilan keputusan (Campbell, 2000).

Dari kasus kebijakan teknologi Habibie, kita bisa melihat pentingnya demokrasi bagi perkembangan teknologi yang lebih tepat dan bijak. Demokrasi memungkinkan proses pembuatan kebijakan teknologi tidak lagi didominasi oleh individu tertentu atau kelompok tertentu melainkan menjadi agenda publik. Keterlibatan publik dalam proses pembuatan kebijakan teknologi memberi peluang terjadinya proses negosiasi antara para pembuat kebijakan dan masyarakat. Dan melalui proses negosiasi tersebut dapat dicapai suatu kebijakan teknologi yang lebih tepat bagi masyarakat. Dengan kata lain, tanpa adanya suatu sistem demokrasi yang baik, maka sangat sulit untuk mengharapkan kebijakan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat luas dapat tercapai maksimal.

Agenda demokratisasi teknologi di Indonesia dapat dimulai dengan transparansi proses pembuatan kebijakan teknologi. Dominasi para elit-elit teknologi yang berada dilembaga pemerintah seperti BPPT, Kementerian Riset dan Teknologi, dan berbagai bentuk dewan riset yang ada sudah selayaknya diimbangi dengan partisipasi publik secara luas.

Referensi
http://www.theindonesianinstitute.org/

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori