Oleh: tonz94 | 23 Desember 2008

KONSTRUKSI SOSIAL TEKNOLOGI(4)

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI

APPROACHES

KONSTRUKSI SOSIAL TEKNOLOGI

Demokrasi dan Teknologi

 

Wacana demokrasi kontemporer di Indonesia selalu memfokuskan diri pada issu sekitar perimbangan kekuatan antara negara dan masyarakat, issu representasi dalam pemerintahan, dan yang terakhir mengenai peran partai-partai politik dan perpecahannya. Sangat sedikit perhatian -untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali -diberikan kepada issu mengenai bagaimana teknologi berperan dalam proses demokratisasi. Sebaliknya, para ahli teknologi kita jarang sekali melihat signifikansi aspek-aspek sosial politik dalam proses pengembangan teknologi sehingga tidak jarang menimbulkan diskrepansi antara teknologi yang dikembangkan dengan realitas sosial politik. Tulisan ini merupakan start up bagi dialog dua arah antara para ahli sosial dan politik dengan ahli teknologi dalam mencari suatu pemahaman relasi dua wilayah tersebut yang selama ini tidak pernah bersentuhan, baik dalam wacana akademis maupun dalam wacana praktis. 

Ada dua alasan diperlukannya suatu pemahaman yang baik tentang keterkaitan antara demokrasi dan teknologi. Pertama adalah bahwa sistem demokrasi yang baik pada situasi tertentu akan sangat tergantung pada teknologi. Sebagai misal adalah teknologi telekomunikasi yang digunakan dalam proses penyebaran berita-berita politik yang merupakah hak setiap warga negara. Atau misalnya teknologi komputasi yang digunakan dalam proses penghitungan suara dalam pemilihan umum. Peran teknologi menjadi penting ketika kita menyadari bahwa sistem demokrasi yang baik dapat dimanipulasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan melalui penguasaan teknologi  tersebut.

Jika alasan pertama menyorot pada bagaimana teknologi mempengaruhi sistem demokrasi, maka alasan kedua berada pada anak panah yang sebaliknya, yakni demokrasi mempengaruhi proses pengembangan teknologi. Pengembangan teknologi di suatu negara, baik negara dimana peran pemerintah sangat kuat maupun negara liberal seperti di Amerika Serikat, tidak pernah lepas dari peran pemerintah. Pemerintahlah yang memiliki kekuasaan untuk membuat suatu kebijakan teknologi (technology policy). Point of interest di sini adalah fakta bahwa pengembangan teknologi merupakan hasil dari suatu proses politik. Keberhasilan tim Manhattan Project dalam mengembangkan bom hidrogen yang digunakan dalam tragedi Hiroshima dan Nagasaki setengah abad lebih yang lalu adalah salah satu contoh pengembangan teknologi yang didasari atas motif politik (political impetus). Di Indonesia, kebijakan teknologi menjadi penting jika kita melihat fakta bahwa telah begitu banyak dana pengembangan teknologi dikeluarkan oleh pemerintah tetapi tidak memberikan dampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.    

 

KONSTRUKSI SOSIAL TEKNOLOGI 

Ketika era reformasi digulirkan oleh kalangan mahasiswa di Jakarta dan diikuti oleh kampus-kampus dikota yang lain, ada satu hal yang membedakan secara signifikan gerakan mahasiswa 1998 ini dengan apa yang dilakukan oleh senior-senior mereka di tahun-tahun sebelumnya. Faktor penting tersebut adalah penggunaan internet. 

Secara fungsional internet adalah media pertukaran informasi yang tidak berbeda fungsinya dari sebutlah itu telepon, koran, faksimil. Tetapi internet memiliki empat karakteristik yang membuatnya menjadi superior dibanding media komunikasi lainnya. Pertama adalah biaya penggunaan yang relatif murah. Kedua adalah sifatnya yang real time. Ketiga adalah sifatnya yang borderless. Tidak ada sekat-sekat ruang di media ini yang memungkinkan tiap orang dapat saling terkoneksi dengan baik. Keempat, dan ini yang paling penting, internet menyediakan ruang-ruang publik yang tidak dapat ditembus oleh otoritas penguasa.  Ketika Tempo dibredel oleh Harmoko atas nama penguasa Orde Baru, bukan berarti kematian bagi Tempo. Internet lalu menjadi alternatif yang sangat jitu dalam penyebaran berita-berita politik aktual oleh Tempo.

Karakteristik-karakteristik tersebut menjadikan internet media yang paling efektif dalam gerakan reformasi tahun 1998. Berita-berita politik dapat disebar tanpa adanya hambatan dari penguasa. Aksi-aksi demokrasi dapat terkonsolidasi dengan mudah lewat penggunaan internet khususnya pengiriman surat lewat e-mail. Para pendukung gerakan reformasi mendapat feedback yang cepat melalui internet. Secara umum bahkan bisa dilihat bagaimana internet merubah perilaku individual dan sosial masyarakat khususnya di wilayah-wilayah yang memiliki infratsruktur teknologi pendukung internet yang memadai seperti di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Dari teknologi yang kelihatannya sepele ini, gerakan reformasi mendapat momentum politik yang besar. Kajian yang lengkap mengenai internet dan proses reformasi di Indonesia dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Merlyna Lim, kandidat doktor Science, Technology, and Society Studies (STS) University of Twente.

 

Tentunya internet bukanlah satu-satunya faktor teknologis yang bermain. Telepon selular dan televisi  adalah faktor teknologis yang berperan cukup penting dalam akselerasi momentum politik gerakan reformasi 1998. Tetapi internetlah yang saya kira memberikan suatu kesempatan yang baru bagi para pelaku refromasi untuk saling berinteraksi secara lebih intensif.

Michael Dertozous,  pelopor ArpaNet yang merupakan cikal bakal internet, tidak pernah membayangkan atau dengan sengaja menciptakan teknologi yang berdampak pada sistem demokrasi di Indonesia. Datang ke Indonesiapun mungkin dia belum pernah.  Evolusi pemfungsian internet dari sarana komunikasi antar komputer menjadi media demokratisasi dapat dipahami dalam kerangka teori kontruksi sosial teknologi(social construction of technology) dimana perkembangan teknologi tidaklah bersifat linier (Bijker, 1987).

Berkembanganya suatu teknologi adalah hasil dari konstruksi sosial (socially constructed). Suatu teknologi berkembang sebagai suatu hasil bentukan sosial (social shaping) di mana teknologi tersebut berada.   Ahli teknik dan ahli desain yang merancang suatu produk teknologi “hanyalah” agen-agen teknis yang “tunduk” pada proses sosial antara produk teknologi dan masyarakat pengguna.  Teknologi bukanlah suatu entitas vakum dan bebas nilai. Ketika berinteraksi dengan masyarakat pengguna, teknologi mengalami proses appropriation (diterjemahkan secara bebas sebagai penyesuaian). Appropriation adalah suatu proses pemberian makna oleh kelompok-kelompok masyarakat berdasarkan nilai-nilai serta kepentingan yang ada pada masyarakat tersebut terhadap suatu produk teknologi Pemberian makna yang beragam, baik antar individu maupun anta kelompok, menjadikan proses perkembangan (evolusi) teknologi menjadi multikultural. 

Dari penjelasan ini kita bisa memahami bagaimana “nilai” suatu produk teknologi pada suatu kelompok sosial tertentu berbeda dengan kelompok sosial lainnya karena perbedaan budaya kedua kelompok tersebut Sebagai misal, kecenderungan orang Indonesia dalam memaknai  produk teknologi sebagai bagian dari gaya hidup menghasilkan nilai guna yang berbeda dengan orang Eropa yang memperlakukan produk teknologi semata-mata sebagai instrumen. Contoh yang gamblang adalah telepon seluler yang bagi orang Indonesia dianggap bukan hanya sebagai alat telekomunikasi, seperti yang dilakukan oleh orang Eropa, tetapi sebagai simbol status. Perbedaan “makna” ini berimplikasi pada proses appropriation yang berbeda terhadap produk teknologi yang sama yang mempengaruhi proses perkembangan teknologi tersebut.  

Proses appropriation teknologi ini terjadi dalam teknologi internet dalam kaitannya dengan proses demokratisasi di Indonesia. Setiap fungsi teknis yang terangkum dalam  internet mengalami proses penyesuaian yang tidak hanya berimplikasi pada fungsi teknis, tetapi juga fungsi sosial (dan politik).

Proses appropriation menjadi krusial ketika teknologi menjadi alat (manipulasi) politik yang ampuh. Penguasaan teknologi pencitraan melalui satelit oleh negara-negara maju adalah salah satu bukti bagaimana negara-negara tersebut mampu mendominasi konstelasi politik dunia melalui teknologi. Atau bagaimana CNN yang pro-barat dengan jaringan teknologi broadcasting yang sangat luas mampu menghegemoni berita-berita dunia. Di Indonesia, kasus penguasaan teknologi sebagai alat politik bisa dilihat ketika Golongan Karya masih berkuasa pada era Orde Baru dimana televisi dan beberapa media lainnya dijadikan alat propaganda yang ampuh.

Apa yang dijelaskan di atas ingin menunjukkan bagaimana peran teknologi dalam sistem demokrasi. Pada satu sisi teknologi dapat membantu proses demokratisasi tetapi pada sisi lain penguasaan teknologi oleh kelompok tertentu pada dapat mempengaruhi berjalannya sistem demokrasi.

 

DEMOKRATISASI TEKNOLOGI 

Issu demokratisasi dalam teknologi dapat dilihat dalam konteks proses kebijakan. Seperti telah disebutkan sebelumnya, perkembangan teknologi sedikit banyak bergantung pada kebijakan pemerintah. Dalam konteks ini, pengembangan teknologi adalah political statement dalam arti kata bahwa teknologi merupakan representasi kepentingan-kepentingan politis. Hal ini jelas terbukti pada kebijakan teknologi di beberapa negara di mana perkembangan teknologi sangat tergantung pada keputusan politik pemerintah untuk mencapai political ends tertentu atas negara lain.

Proyek pengembangan teknologi dirgantara di era Habibie adalah contoh kasus yang sangat kontekstual.  Pengembangan teknologi canggih, khususnya industri dirgantara merupakan political statement untuk mengangkat citra Indonesia di mana internasional. Sebagai political statement, teknologi canggih yang dikembangkan sangat sarat dengan muatan-muatan politik (political impetus) yang sayangnya justru menjadikan proyek-proyek tersebut jauh dari realitas sosial ekonomi masyarakat.

Dari sekian banyak alternatif teknologi yang dapat dikembangkan, keputusan Habibie untuk mengembangkan teknologi dirgantara tidak lepas dari kerangka teknologi sebagai political statement. Dengan dukungan politik yang utuh dari Presiden Suharto pada masa itu, kebijakan Habibie dalam pengembangan teknologi canggih seakan-akan menjadi suatu keharusan dan setiap warga negara Indonesia patut mendukung. Tetapi harga yang harus dibayar teramat mahal. Krisis finansial yang melanda IPTN (sekarang PTDI) dan terhentinya proyek N250 dan N2130 menjadi salah satu bukti ketidaktepatan kebijakan teknologi yang dibuat oleh Habibie.

Kebijakan teknologi Habibie tidak saja gagal dalam proyek pengembangan teknologi canggih, tapi juga telah mengorbankan sektor lainnya untuk berkembang karena tersedotnya dana ke sektor teknologi canggih yang menyerap dana triliunan rupiah. Pengembangan teknologi pertanian misalnya, atau jenis teknologi lainnya yang lebih menyentuh kebutuhan nyata masyarakat luas menjadi terhambat dana yang terbatas. 

Kegagalan kebijakan teknologi Habibie sangat erat terkait dengan sistem politik otoriter di era Orde Baru. Kedekatan Habibie dengan Presiden Suharto menjadikan proses kebijakan teknologi menjadi sangat tertutup dan cenderung one-man-show sehingga manipulasi sangat mungkin terjadi.  Ketidaktepatan kebijakan (inappropriate policy) yang dibuat Habibie adalah bentuk governing mentality yang cenderung menafikan keterlibatan publik dalam proses pengambilan keputusan (Campbell, 2000).  

Dari kasus kebijakan teknologi Habibie, kita bisa melihat pentingnya demokrasi bagi perkembangan teknologi yang lebih tepat dan bijak. Demokrasi memungkinkan proses pembuatan kebijakan teknologi tidak lagi didominasi oleh individu tertentu atau kelompok tertentu melainkan menjadi agenda publik. Keterlibatan publik dalam proses pembuatan kebijakan teknologi memberi peluang terjadinya proses negosiasi antara para pembuat kebijakan dan masyarakat. Dan melalui proses negosiasi tersebut dapat dicapai suatu kebijakan teknologi yang lebih tepat bagi masyarakat. Dengan kata lain, tanpa adanya suatu sistem demokrasi yang baik, maka sangat sulit untuk mengharapkan kebijakan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat luas dapat tercapai maksimal.

Agenda demokratisasi teknologi di Indonesia dapat dimulai dengan transparansi proses pembuatan kebijakan teknologi. Dominasi para elit-elit teknologi yang berada dilembaga pemerintah seperti BPPT, Kementerian Riset dan Teknologi, dan berbagai bentuk dewan riset yang ada sudah selayaknya diimbangi dengan partisipasi publik secara luas.

 

 

Referensi

http://www.theindonesianinstitute.org/gdemo02.htm

Oleh: tonz94 | 23 Desember 2008

DETERMINISME TEKNOLOGI(4)

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI

APPROACHES

DETERMINISME TEKNOLOGI

TEKNOLOGI adalah salah satu elemen sosial ekonomi yang memainkan peranan penting dalam proses modernisasi masyarakat Barat. Ketika gagasan modernitas mengalir ke masyarakat dunia ketiga, teknologi menjadi prasyarat fundamental demi terwujudnya sistem sosial ekonomi yang modern di masyarakat tersebut. Oleh karena itu, berbagai upaya modernisasi masyarakat dunia ketiga mengikutsertakan program transfer teknologi dalam agenda utama.

Program ini bekerja atas dasar suatu asumsi bahwa teknologi bersifat netral dan bebas konteks; bahwa teknologi dapat bekerja melintasi batas-batas sosial, politik, dan kultural sehingga bersifat universal. Jika suatu teknologi dapat bekerja dengan baik di masyarakat Barat, dia pun akan bekerja dengan baik di masyarakat mana pun di muka bumi ini.

Selama puluhan tahun, gagasan transfer teknologi diterima tanpa sikap kritis oleh masyarakat dunia ketiga sebagai suatu keharusan dalam mencapai modernitas yang diinginkan. Akan tetapi, kenyataan menunjukkan bahwa perkembangan teknologi di dunia ketiga tidak tercapai secara optimal. Implikasi program transfer teknologi bahkan memperkuat struktur ketergantungan teknologi dunia ketiga terhadap negara-negara Barat.

 

DETERMINISME TEKNOLOGI

Satu karakteristik kuat yang melandasi program transfer teknologi di dunia ketiga adalah determinisme teknologi yang menjadi titik pandang para pengembang teknologi dalam melihat relasi antara teknologi dan masyarakat. Determinisme teknologi berpusat pada kepercayaan bahwa penerapan teknologi Barat di masyarakat dunia ketiga akan memberi stimulus positif bagi bergeraknya sistem sosial menuju ke kondisi modernitas. Titik pandang ini melihat hubungan antara teknologi Barat dan masyarakat dunia ketiga sebagai relasi satu arah; masyarakat dunia ketiga wajib tunduk dan patuh pada sistem teknologi Barat.

Paradigma determinisme teknologi melandasi program-program pengembangan teknologi di dunia ketiga, khususnya di Indonesia ketika B.J. Habibie menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi. Dengan dukungan ekonomi politik dari institusi negara, gagasan transfer teknologi, atau dalam retorika Habibie, perebutan teknologi, diimplementasikan secara naif; masyarakat dijadikan subjek pasif dalam proses pengembangan teknologi.

Determinisme teknologi adalah konsep yang bermasalah karena memberikan perhatian yang begitu serius terhadap pengembangan teknologi tetapi menafikan faktor-faktor sosial yang bekerja ketika suatu masyarakat berinteraksi dengan teknologi tersebut. Keraguan terhadap determinisme teknologi telah dilontarkan oleh beberapa pemikir seperti Merrit Roe Smith, Leo Marx, David Noble, dan Andrew Feenberg karena konsep ini cenderung memaksakan bekerjanya sistem teknologi pada masyarakat yang menghasikan dampak sosial, politik, dan kultural yang sangat serius.

 

TEKNOLOGI DAN MASYARAKAT

Untuk melihat dengan bijak permasalahan teknologi di dunia ketiga, kita membutuhkan setidaknya tiga pemahaman yang mendalam tentang relasi antara teknologi dan masyarakat. Konsep pertama adalah apa yang disebut oleh sejarawan teknologi Thomas Hughes sebagai sistem teknologi (technological system). Hughes menjelaskan bahwa bekerjanya suatu teknologi dengan baik adalah hasil dari interaksi saling mendukung antara sistem teknikal (technical systems) dan sistem sosial (social systems). Hughes yang mempelajari proses elektrifikasi di Amerika Serikat pada akhir abad 19 mengatakan bahwa dalam bekerjanya suatu sistem teknologi, sistem teknikal dan sistem sosial saling membentuk satu sama lain.

Dengan menggunakan konsep sistem teknologi yang ditawarkan oleh Hughes, kita dapat melihat gagalnya program transfer teknologi di dunia ketiga sebagai akibat tidak bertemunya sistem teknologi Barat dengan sistem sosial masyarakat dunia ketiga. Bagi para penganut determinisme teknologi, sistem sosial masyarakat dunia ketiga-lah yang mestinya didekonstruksi mengikuti sistem teknologi Barat. Argumen ini dilandasi suatu asumsi bahwa teknologi yang dihasilkan oleh negara Barat adalah produk rasionalitas yang sempurna dan sudah teruji kemampuannya dalam memajukan masyarakat Barat.

Pada kenyataannya, mengubah sistem sosial masyarakat dunia ketiga agar sesuai dengan sistem teknologi Barat bukanlah pekerjaan mudah karena adanya inersi yang bekerja dalam sistem sosial. Pemaksaan pengoperasian teknologi Barat di masyarakat dunia ketiga yang tidak kompatibel dengan sistem sosial dunia ketiga pada akhirnya menimbulkan berbagai bencana teknologi (technological disasters). Tragedi Bhopal di India yang menelan ribuan korban adalah salah satu pelajaran penting bagaimana tidak bertemunya sistem sosial masyarakat lokal dengan sistem teknikal teknologi Barat menghasilkan kegagalan dalam pengoperasian teknologi.

Dimensi lain yang patut diperhatikan dalam melihat relasi antara teknologi Barat dan dunia ketiga adalah penggunaan teknologi untuk mencapai tujuan-tujuan politik. Langdon Winner, seorang pemikir politik teknologi, menjelaskan bahwa agenda politik dapat masuk ke dalam konfigurasi teknologi. Contoh klasik yang ditawarkan oleh Winner adalah Jembatan Long Islands di daerah New York yang di desain oleh Robert Moses. Menurut Winner, Robert Moses dengan sengaja mendesain jembatan dengan begitu rendah agar kaum kelas bawah kulit hitam dan hispanik yang biasanya mengendarai bis kota tidak dapat memasuki daerah tersebut.

Penjelasan Winner tentang muatan politik dalam konfigurasi teknologi membangkitkan daya kritis kita untuk menyadari bahwa teknologi bukanlah suatu entitas yang netral. Sebagai karya manusia yang memiliki ideologi dan kepentingan tertentu, teknologi dapat menjadi media yang efektif bagi praktik hegemoni ideologi dan kepentingan tersebut. Dengan melihat relasi antara teknologi Barat dan masyarakat dunia ketiga kita dapat mengatakan bahwa konfigurasi teknologi Barat yang selama ini diserap oleh dunia ketiga melanggengkan kepentingan-kepentingan Barat di dunia ketiga.

Pemahaman relasi antara teknologi dan masyarakat juga dapat mengacu pada apa yang ditawarkan oleh sosiolog teknologi seperti Wiebe Bijker, Trevor Pinch, dan John Law dengan apa yang mereka sebut sebagai konstruksi sosial teknologi (social construction of technology). Konsep ini memahami teknologi sebagai produk sosial karena dia dihasilkan melalui negosiasi dan interaksi yang terjadi dalam suatu sistem sosial. Tesis utama konstruksi sosial teknologi adalah bahwa perkembangan teknologi bukanlah linear seperti yang dianut dalam determinisme teknologi, melainkan jauh lebih kompleks dan sangat beragam mengikuti keberagaman sistem sosial yang ada.

Pemahaman bahwa teknologi dikonstruksi secara sosial membuka pandangan kita bahwa teknologi Barat bukanlah satu-satunya bentuk teknologi yang dapat dibangun oleh peradaban manusia. Teknologi Barat hanyalah salah satu dari sekian banyak alternatif bentuk sistem teknologi yang dapat dibangun oleh manusia sesuai dengan konteks ruang dan waktu. Pengembangan teknologi yang semata-mata beorientasi pada teknologi Barat justru menyangkal keberagaman sistem sosial dan kreativitas manusia dalam menghasilkan artefak-artefak teknologis yang bermanfaat.

 

TRANSLASI TEKNOLOGI

Dalam melihat permasalahan teknologi di dunia ketiga, yang perlu dicermati adalah paradigma transfer teknologi yang menganggap bahwa teknologi dapat diterapkan dengan begitu saja dari satu masyarakat ke masyarakat yang lain. Paradigma demikian ingkar pada fakta bahwa teknologi selalu berada dalam konteks sosial, politikal, dan kultural. Walaupun demikian, patut dicatat bahwa mengkritisi penggunaan teknologi Barat dalam masyarakat dunia ketiga bukanlah berarti menolak sama sekali teknologi Barat dan menjadi antiteknologi.

Pada hakikatnya tidak ada satupun kelompok manusia di muka bumi yang dapat lepas dari teknologi, apa pun bentuknya. Teknologi adalah karya manusia dalam menanggulangi keterbatasan-keterbatasan mereka dalam alam. Yang membutuhkan perhatian serius saat ini adalah persoalan bagaimana masyarakat dunia ketiga mampu membangun teknologi yang sesuai dengan sistem sosial dan nilai kultural yang mereka miliki, bukan dengan mengubah sistem sosial dan nilai kultural mereka.

Di sini konsep translasi teknologi (technology translation) yang ditawarkan oleh Joan Fujimura menjadi menarik. Konsep ini lahir dari studi Fujimura terhadap masyarakat Jepang dalam membangun teknologi mereka. Pada prinsipnya suatu teknologi dibangun atas hasil interpretasi manusia terhadap suatu kondisi; teknologi disusun atas makna yang menjadi dasar pengoperasiannya. Oleh karena itu, teknologi dapat dianggap sebagai suatu bahasa yang ketika berpindah dari satu masyarakat ke masyarakat lain mengalami penyelarasan sesuai dengan karakter dan logika berpikir yang digunakan dalam sistem bahasa tersebut.

Menurut Fujimura, keberhasilan pengembangan teknologi di Jepang bukanlah semata-mata karena kemampuan mereka menguasai pengetahuan teknologi Barat, melainkan bersumber dari kemampuan mereka untuk mentranslasi makna-makna yang terkandung dalam sistem teknologi Barat ke dalam sistem sosial dan nilai kultural masyarakat Jepang. Dengan demikian, pengembangan teknologi tidak lagi merujuk semata-mata pada sistem materialitasnya, tetapi lebih pada jaringan sistem sosial dan nilai kultural yang berada di balik semua itu.*** 

Referensi

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0703/24/0804.htm

Masalah Teknologi di Dunia Ketiga

 

 

 

 

Oleh: tonz94 | 22 Desember 2008

DIFUSI INOVASI(5)

BAHAN AJAR ( 5 )

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI

COMMUNICATION TECHNOLOGY ADOPTION

DIFUSI INOVASI

Disampaikan oleh

Soekartono, S.IP., M.Si

tonz94@gmail.com

 

 

 

1.       PENDAHULUAN

Seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi suatu organisasi dalam rangka menjalankan tugasnya serta  mewujudkan visi dan misinya antara lain dilakukan dengan menerapkan teknologi komunikasi sebagai salah satu media dalam pengelolaan informasi. Penerapan teknologi suatu organisasi disebabkan oleh beberapa hal yang berbeda satu sama lain, antara lain : kebutuhan dan kepentingan organisasi itu sendiri, kebijakan pemerintah atau paksaan dari negara-negara maju.

Dalam penerapan teknologi komunikasi perlu memperhatikan struktur organisasi yang menampung hasil inovasi baru, kemampuan teknis sumber daya manusia dan budaya yang ada dalam organisasi.

 

Dengan tidak adanya wadah yang menampung hasil inovasi berpengaruh pada proses difusi inovasi yang menimbulkan kecendrungan untuk menolak karena individu merasa tidak jelas dalam melakukan aktivitas yang berkaitan dengan hasil inovasi yang telah diadopsi oleh organisasi.  Selain itu penolakan ataupun keterlambatan penerimaan disebabkan adanya budaya dan kemampuan teknis. Budaya yang ada dan telah lama berkembang serta menjadi kepercayaan yang merupakan pegangan bagi setiap anggota organisasi. Dengan kondisi tersebut masuknya budaya yang dibawa oleh teknologi yang diadopsi menimbulkan pro dan kontra di tengah – tengah suatu masyarakat. Pro dan kontra tersebut tercermin dalam berbagai sikap dan tanggapan dari anggota masyarakat yang bersangkutan, ketika proses yang dimaksud berlangsung di tengah – tengah mereka. Sedangkan kemampuan teknis yang dimiliki oleh sumber daya manusia dalam kondisi tidak terlatih untuk menggunakannya.

Menurut Rogers (1995: 375), organisasi dibuat untuk menangani tugas-tugas rutin dalam skala besar melalui suatu aturan tentang hubungan antar manusia. Struktur diperlukan untuk menampung hasil inovasi, selain itu dapat menjadi penghubung antara satu inovasi dan inovasi yang lain sehingga dapat saling terkait yang pada akhir akan terintegrasi secara ke sisteman.

 

 

 

2.       UNSUR DIFUSI INOVASI 

Menurut Everett M. Rogers (1995:10)  difusi (penyebarserapan) inovasi  terdiri dari unsur – unsur :

1.       inovasi (inovation),

2.       saluran komunikasi (communication channels),

3.       waktu (time),

4.       sistem sosial (social system).

              

Inovasi merupakan suatu ide, cara – cara ataupun objek yang dioperasikan oleh seseorang sebagai sesuatu yang baru. Baru tidaklah semata – mata dalam ukuran waktu sejak ditemukannya atau pertama kali digunakannya inovasi tersebut. Menurut Rogers,(1995) kebaruan dalam persepsi atau kebaruan subjektif hal yang dimaksud bagi seseorang, yang menentukan reaksinya terhadap inovasi tersebut. Pengertian ”baru”-nya suatu inovasi tidak mesti sebagai pengetahuan baru pula. Sebab jika suatu inovasi telah diketahui oleh seseorang untuk jangka waktu tertentu, namun individu itu belum memutuskan sikap apakah menyukainya atau tidak, belum pula menyatakan menerima atau menolak, maka baginya hal itu tetap suatu inovasi. Jadi, kebaruan inovasi tercermin dari pengetahuan, sikap, ataupun putusan terhadap inovasi yang bersangkutan. Dengan begitu, bisa saja sesuatu yang disebut sebagai inovasi bagi suatu masyarakat, namun tidak lagi dirasakan sebagai hal yang baru oleh orang atau masyarakat lainnya. Suatu inovasi biasanya terdiri dari dua komponen, yakni komponen ide dan komponen objek (aspek material atau produk fisik dari ide). Setiap inovasi memiliki komponen ide, namun banyak juga yang tidak mempunyai rujukan fisik. Penerimaan terhadap suatu inovasi yang memiliki kedua komponen tersebut memerlukan adopsi berupa tindakan (action). Sedang untuk inovasi yang hanya mempunyai komponen ide, penerimaannya pada hakekatnya lebih merupakan suatu putusan simbolik. Sehingga penerimaan terhadap suatu inovasi dalam organisasi tergantung dari proses inovasi yang dilakukan.

Saluran komunikasi (communication channels), digunakan untuk menyebarluaskan inovasi yang telah diadopsi oleh organisasi kepada masyarakat ataupun kepada anggotanya. Saluran komunikasi yang digunakan untuk penyebarluasan inovasi kepada masyarakat luas dilakukan melalui media elektronik, media cetak maupun media baru.    Saluran komunikasi untuk penyebarluasan inovasi dalam organisasi dilakukan melalui komunikasi organisasi  mengacu kepada struktur yang ada dalam organisasi secara hirarkhi sedangkan komunikasi interpersonal, dilakukan antar sesama karyawan maupun dengan  atasan dalam bentuk tatap muka, seperti forum sosialisasi atau diklat/kursus. Waktu,  selain itu dalam penyebarserapan inovasi kepada karyawan diperlukan adanya waktu dan  adanya pemahaman terhadap sistem sosial yang ada dalam organisasi seperti budaya. Setiap budaya mengembangkan harapan-harapan yang tertulis maupun tidak tertulis tentang perilaku (aturan dan norma-norma) yang mempengaruhi para anggota budaya itu. Tetapi orang – orang tidak hanya dipengaruhi oleh budaya tersebut, mereka menciptakan budaya.

Sistem Sosial,  setiap organisasi memiliki satu budaya atau lebih yang memuat perilaku-perilaku yang diharapkan – tertulis atau tidak tertulis. Budaya suatu kelompok dapat digolongkan sebagai ”seperangkat pemahaman atau makna yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang(Pace and Faules, 1993: 91). Makna tersebut pada dasarnya diakui secara diam-diam oleh para anggotanya, jelas relevan bagi kelompok tertentu  dan khusus untuk kelompok tersebut. Dengan demikian budaya yang meliputi interaksi selama beberapa waktu, harapan-harapan perilaku, membentuk dan dibentuk, sifat-sifat khas yang memisahkan sebuah budaya dengan budaya lainnya.

 

 

3.       KARAKTERISTIK  DIFUSI INOVASI

Dalam difusi inovasi, ada lima karateristik yang menandai setiap gagasan atau cara baru, diterima oleh masyarakat (Rogers, Everett  M,1995 :15), yaitu :

1.       Keuntungan – keuntungan relatif (relative advantages),  yaitu apakah cara – cara atau gagasan baru ini memberikan sesuatu keuntungan relatif bagi mereka yang kelak menerimanya.

2.       Keserasian (compatibility); yaitu apakah inovasi yang hendak di difusikan itu serasi dengan nilai – nilai, sistem kepercayaan, gagasan yang lebih dahulu diperkenalkan sebelumnya, kebutuhan, selera, adat – istiadat dan sebagainya dari masyarakat yang bersangkutan.

3.       Kerumitan (complexity); yakni apakah inovasi tersebut dirasakan rumit. Pada umumnya masyarakat tidak atau kurang berminat pada hal-hal yang rumit, sebab selain sukar untuk dipahami, juga cenderung dirasakan merupakan tambahan beban yang baru.

4.       Dapat dicobakan (trialability); yakni bahwa sesuatu inovasi akan lebih cepat diterima, bila dapat dicobakan dulu dalam ukuran kecil sebelum orang terlanjur menerimanya secara menyeluruh. Ini adalah cerminan prinsip manusia yang selalu ingin menghindari suatu resiko yang besar dari perbuatannya, sebelum ”nasi menjadi bubur”.

5.       Dapat dilihat (observability); jika suatu inovasi dapat disaksikan dengan mata, dapat terlihat langsung hasilnya, maka orang akan lebih mudah untuk mempertimbangkan untuk menerimanya, ketimbang bila inovasi itu berupa sesuatu yang abstrak, yang hanya dapat diwujudkan dalam pikiran, atau hanya dapat dibayangkan. Kelima karakteristik tersebut menentukan bagaimana tingkat penerimaan terhadap sesuatu inovasi yang di difusikan di tengah – tengah suatu masyarakat.

 

 

Menurut Arnold Pacey (1983: 6) praktek teknologi dipengaruhi oleh  aspek budaya, aspek organisasi dan aspek teknik. Ketiga aspek tersebut harus selalu ada tanpa satupun bisa ditinggalkan. Kalau ada salah satu aspek yang diabaikan, maka teknologi tersebut dalam perkembangannya hanya akan menjadi teknologi yang gagal diterapkan. Interaksi ketiga aspek tersebut membentuk dua (2) lapisan (Pacey, Arnold, 1983: 49) yaitu lapisan pemakai (user sphere) dan lapisan keahlian (expert sphere). 

Implikasi yang disebabkan oleh ketiga aspek terhadap proses implementasi dari suatu inovasi teknologi komunikasi perlu diperhitungkan, sehingga kemampuan dan pemahaman yang telah ada dapat diamanfaatkan dalam melakukan suatu inovasi. Untuk itu dalam melakukan adopsi suatu inovasi, agar  dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Hal ini mengingat difusi inovasi tidak dapat terjadi secara serempak mengingat sumber daya yang ada dalam ketiga aspek tersebut  mempunyai kemampuan yang berbeda.

 

Gambar 3         

 Diagramatic definitions of ‘technology’ and ‘tehnology practice’

(Arnold Pacey, 1983 : 6)

 

4.       ADOPSI INOVASI

   Adanya  keinginan masyarakat akan informasi yang tersedia setiap saat serta dapat diakses dengan cepat menuntut organisasi melakukan perubahan dalam sistem pengelolaan informasi,  dengan cara mengadopsi teknologi komunikasi yang sesuai dengan kebutuhannya. Adopsi terhadap suatu inovasi teknologi disatu sisi sebagai suatu keputusan organisasi yang perlu diikuti dengan proses penyebarserapan (difusi) inovasi kepada user yang akan menggunakan, sehingga proses penerimaan terhadap inovasi yang dilakukan organisasi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan dapat tercapai. Menurut Everett M.Rogers (1995: 372), keputusan menerima inovasi dalam organisasi merupakan suatu hasil konsensus sebagian anggota organisasi yang mempunyai kekuasaan, status atau keahlian teknis (Authority Innovation-Decisions).

 

 Ada tiga (3) tipe keputusan inovasi dalam organisasi, yaitu :

1.       Optional Innovation-Decisions, pilihan untuk mengadopsi atau menolak suatu inovasi, secara bebas terhadap suatu keputusan yang dibuat dalam suatu sistem;

2.       Collective Innovation-Decisions, pilihan untuk mengadopsi atau menolak suatu inovasi yang dibuat dengan konsensus/perjanjian selama menjadi anggota dari suatu sistem;

3.       Authority Innovation-Decisions, pilihan untuk mengadopsi atau menolak suatu inovasi yang dibuat oleh relative sedikit orang – orang dalam suatu system yang mempunyai kekuasaan, status atau keahlian teknis. (Rogers, Everett M,1995: 372).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5.       PENERIMAAN INOVASI              

Penerimaan suatu inovasi  seseorang atau organisasi dilakukan melalui sejumlah tahapan yang disebut tahap putusan inovasi (Rogers, Everett M, 1995: 20), yaitu

1. Tahap pengetahuan (knowledge). Tahap di mana seseorang sadar, tahu, bahwa ada sesuatu inovasi.

2. Tahap bujukan (persuasion). Tahap ketika seseorang sedang mempertimbangkan atau sedang membentuk sikap terhadap inovasi yang telah diketahui tadi, apakah ia menyukainya atau tidak.

3. Tahap putusan (decision). Tahap dimana seseorang membuat putusan apakah menerima atau menolak inovasi yang dimaksud.

4. Tahap implementasi (implementation). Tahap seseorang melaksanakan keputusan yang telah dibuatnya mengenai sesuatu inovasi.

5. Tahap pemastian (confirmation). Tahap seseorang memastikan atau mengkonfirmasikan putusan yang telah diambilnya tersebut.

 

Gambar 1

A Model of Stages in The Innovation – Decision Process (Rogers, Everett M, 1995 : 163)

 

 

 

 

 

6.       PENERIMAAN INOVASI PADA LEVEL ORGANISASI

Proses inovasi dalam organisasi terdiri dari 5 tahapan; 2 tahap dalam inisiatif subproses dan 3 tahap dalam implementasi subproses, yaitu :

1.       Agenda Setting

            Agenda setting terjadi dalam proses inovasi ketika suatu masalah umum organisasi yang mungkin membuat suatu kebutuhan yang dirasakan untuk suatu inovasi didefinisikan. Proses agenda setting berlangsung sepanjang waktu dalam setiap sistem. Agenda seting adalah cara dimana kebutuhan, masalah dan isu menggelembung ke atas sampai ke suatu sistem dan diprioritaskan dalam suatu hirarkhi untuk diperhatikan. Tahapan agenda setting dalam proses inovasi dalam organisasi adalah untuk mengidentifikasikan dan membuat prioritas kebutuhan di satu sisi, dan untuk meneliti lingkungan organisasi untuk menempatkan inovasi yang berdaya guna potensial bertemu dengan masalah organisasi. (Rogers, 1995 : 391)

 

2.       Matching

            Matching didefinisikan sebagai tahapan dalam proses inovasi yang mana suatu masalah dari agenda organisasi diisi dengan suatu inovasi dan penyesuaian ini telah direncanakan dan didesain.(Rogers, 1995 : 394)

 

3.       Redefining/Restructuring

            Pada tahap ini, inovasi yang diambil dari luar organisasi secara bertahap mulai menghilang karakter luarnya. Redefining/restrukturing terjadi ketika inovasi direkayasa kembali untuk mengakomodasi kebutuhan dan struktur organisasi lebih dekat lagi dan ketika struktur organisasi dimodifikasikan agar sesuai dengan inovasi. (Rogers, 1995:394).

            Inovasi dan struktur organisasi. Tidak hanya inovasi yang dimodifikasi kedalam organisasi, struktur organisasi mungkin dirubah untuk menyesuaikan dengan inovasi. Dalam kasus yang lain, inovasi mungkin mempengaruhi struktur dari keseluruhan organisasi, sebagaimana ketika sistem elektronic mail diperkenalkan dalam suatu organisasi. Tiba – tiba, setiap karyawan mempunyai akses komunikasi langsung dengan top level organisasi. (Rogers, 1995: 395). Teknologi telah sering diasumsikan menjadi suatu sasaran dan kekuatan eksternal yang mempengaruhi struktur organisasi. Sesuatu yang lebih baru dan realistik memandang teknologi dalam suatu organisasi dilihat sebagai produk dari hubungan manusia, sebagaimana artinya adalah secara perlahan – lahan pekerjaan diambil setelah melewati diskusi (Orlikowski, 1992).

            Inovation dan uncertainty (ketidakpastian), inovasi hubungan komputer membuat ketidakpastian dalam suatu organisasi, suatu tempat yang tidak nyaman dalam suatu sistem seringkali memimpin untuk menahan teknologi. Ketidakpastian ini satu alasan untuk kesulitan khususnya bahwa teknologi komputer setiap waktu mengalami bagian dalam proses implementasi (Gerwin, 1998) menemukan ada gunanya untuk mengidentifikasikan 3 tipe berbeda dari ketidakpastian dalam investigasi bantuan teknologi manufacturing komputer.

(a).   Ketidakpastian teknik, tahapan dimana sulit bagi suatu organisasi untuk memisahkan reliabilitas, kapasitas dan ketelitian dari teknologi baru atau apakah teknologi yang lebih baru yang akan datang segera membuat inovasi menjadi absolut

(b).   Ketidakpastian finansial, tahapan dimana implementasi dari inovasi akan menghasilkan suatu balasan yang attractif pada investasi dan apakah balasan yang akan datang dapat diprediksi secara akurat.

(c).   Ketidakpastian sosial, tahapan dimana konflik terjadi selama implementasi dari inovasi dilaksanakan

4.       Clarifying

            Klarifikasi terjadi sebagaimana inovasi diletakkan kedalam penggunaan secara lebih menyebar dalam suatu organisasi, maka makna dari ide – ide baru secara bertahap menjadi terungkap pada anggota organisasi. Terlalu cepat implementasi dari suatu inovasi pada tingkat klarifikasi sering menghasilkan malapetaka. Tahapan klarifikasi dalam proses inovasi dalam suatu organisasi mengandung konstruksi sosial. Ketika suatu ide baru pertama kali diimplementasikan dalam suatu organisasi, hal itu mempunyai sedikit makna bagi anggota organisasi.

 

5.       Routinizing

            Rutinitas terjadi ketika inovasi telah menjadi bagian dari organisasi kedalam aktivitas – aktivitas sehari – hari dalam organisasi dan inovasi kehilangan sebagian identitasnya. Pada point ini, proses inovasi dalam organisasi telah komplit. Anggota organisasi tidak berpikir panjang tentang inovasi sebagai suatu ide baru.(Rogers, Everett M, 1995 : 391)

 

 

AGENDA – SETTING

Decision

I.         INITIATION

II.        IMPLEMENTATION

THE INNOVATION PROCESS

 IN AN ORGANIZATION

General  organizational problems that may create a perceived need for innovation

Filling a

Problem from the organization’s agenda with an innovation

The innovation is modified and re-invented to fit the organization, and organizational structure are altered

The relationship between the organization

and the

innovation is defined more clearly

The innovation

Becomes an

Ongoing

Element in the

Organization’s

Activities, and loses its

identity

MATCHING

REDEFINING/

RESTRUCTURING

CLARIFYING

ROUTINIZING

#1

#2

#3

#4

#5

 

Gambar 2

Five Stages In The Innovation Process In An Organization

(Rogers, Everett M, 1995 : 392)

 

 

 

 

 

7.       TAHAPAN PENERAPAN INOVASI

Proses inovasi mempunyai urutan dari tahap – tahap atau sub proses :

1.       Adopsi

2.       Testing, implementasi terbatas untuk menguji keakuratan, kesesuaian dan akibat – akibat yang mungkin

3.       Instalasi, proses menyambung inovasi kepada struktur yang luas dan aktivitas dari organisasi

4.       Pelembagaan, proses merubah status dari inovasi dari elemen – elemen baru kemudian membuatnya menjadi bagian yang integral dari suatu sistem. Pada penyelesaian proses ini, inovasi tidak bisa diidentifikasikan lebih lama pada organisasi sebagai inovasi. Hal itu menjadi bagian dari aturan – aturan organisasi, aktivitas yang berkesinambungan dan bagian integral dari fungsi totalnya. (Rogers dan Argawala-Rogers, 1976: 163)

 

 

Menurut Everett M.Rogers and Rekha Agarwala – Rogers(1976: 159) faktor – faktor yang mempengaruhi secara alami/aturan dari proses inovasi, yaitu :

1.       Knowledge of Innovation and Reinvention

Kemungkinan dari suatu organisasi membawa suatu inovasi dan memasukannya kedalam struktur adalah dipengaruhi oleh seberapa jauh kesadaran organisasi terhadap inovasi dan persepsinya tentang karakteristik mereka yang menonjol. Faktor pengetahuan ini dipengaruhi oleh sebagian oleh karakteristik personel – personel dalam organisasi (seperti kosmopolitasn dan profesionalisme mereka) dan sebagian oleh definisi proses penelitian. Perilaku dimana suatu masalah dan pendukung inovasi didefinisikan oleh organisasi menentukan apapun inovasi yang akan diadopsi. Inovasi harus dirasakan sebagai solusi yang potensial terhadap kesenjangan performance terhadap adopsi yang terjadi. Penelitian pada inovasi dalam organisasi telah mengasumsikan bahwa ide tentang suatu teknologi baru, yaitu memasukan suatu sistem dari sumber luar dan kemudian diadopsi (dengan perubahan kecil yang relatif atau adaptasi) dan diimplementasikan sebagai bagian dari operasi organisasi yang berkesinambungan.(Rogers dan Rekha Argawala-Rogers, 1976: 159). Dalam kenyataannya, banyak inovasi selanjutnya mengalami revisi yang ekstensive, pada dasarnya sama dengan reinvention (penemuan kembali), dalam proses adopsi dan inovasi mereka di dalam organisasi. Sehingga organisasi seringkali mengadopsi tidak benar-benar spesifik seperti cetak birunya untuk inovasi tetapi suatu konsep umum yang mana mengoperasionalkan makna secara bertahap dan berkembang dalam proses implementasi. Kemudian  ”inovasi” dalam organisasi sering dikatakan  reinventing the wheel (Rogers dan Rekha Argawala-Rogers, 1976: 160).

 

2.       External Accountability

External Acountability adalah tingkatan dimana suatu organisasi tergantung atau bertanggungjawab kepada lingkungannya. Ketergantungan adalah suatu kebutuhan organisasi pada dana dan pada personel serta kliennya, dimana hal itu tergantung pada sumber dari luar untuk menyediakan pertukaran transaksi secara terus menerus dengan lingkungannya.

 

3.       Slack Resources (berkurangnya sumberdaya)

Slack resources adalah sumberdaya yang tidak siap digunakan pada maksud/tujuan yang lain. Kehadiran organization slack adalah hal penting dalam mencocokan suatu inovasi dengan masalah. Semua inovasi memasukkan suatu ivestasi dari paling tidak beberapa sumberdaya untuk implementasi mereka. Selanjutnya kesadaran tentang berkurangnya sumberdaya untuk implementasi mereka. Selanjutnya kesadaran tentang berkurangnya sumberdaya rupaya penting bagi adopsi dari suatu inovasi. Kemunduran sudah ada didalam organisasi, atau hal itu mungkin dengan sengaja dibuat. Jumlah dari berkurangnya sumberdaya sekarang ini dalam suatu organisasi pada point yang ada (dan semua organisasi mempunyai kekurangan/kemunduran pada semua waktu) benar –benar berhubungan pada kemungkinan bahwa beberapa inovasi yang biasa akan diadopsi. Berkurangnya sumberdaya adalah esensial bagi inovasi yang tejadi dalam suatu organisasi : suatu tingkat yang sangat tinggi dari kemunduran sumberdaya mungkin bahkan dibuat untuk kebutuhan dari inovasi tersebut. Perasaan kesenjangan performance kemudian didefinisikan dalam terminologi penggunaan yang maksimal dari berkurangnya sumberdaya.(Rogers dan Rekha Argawala-Rogers, 1976: 162).

 

4.       Organizational Structure

Struktur organisasi adalah susunan dari komponen – komponen dan subsistem – subsistem di dalam suatu sistem. Banyak penelitian memberi perhatian pada hubungan berbagai kelengkapan dari suatu struktur organisasi dengan perilaku inovasinya. Variabel – variabel seperti sentralisasi, formalisasi, kompeleksitas, integrasi dan keterbukaan terhadap pengaruh dimana organisasi sedang merasa ada masalah solusi dan membuat keputusan. Secara relatif hubungan yang lambat dengan keinovatifan telah sering diperoleh di dalam penelitian ini menyarankan bahwa faktor – faktor yang lain yang telah kita identifikasikan (seperti faktor lingkungan) mungkin mempunyai suatu peran yang lebih besar didalam proses inovasi. Variabel – variabel struktural mempengaruhi proses definisi masalah didalam suatu organisasi dan hasilnya. Kita mencatat sejak awal bahwa inovasi bukanlah suatu hasil yang dapat dihindarkan dari suatu proses. Hasil yang memungkinkan lainnya adalah :

(a).   Tidak ada perubahan

(b).   Ekspansi atau penciutan dari aktivitas sekarang ini, dan

(c).   Tidak ada perubahan inovatif (perencanaan kembali dari elemen-elemen inovatif yang bisa diidentifikasi)

5.       Stages in the Innovation Process

Tahap pertama dari proses inovasi mengandung keselarasan dari suatu masalah organisasi (kesenjangan performance) dengan suatu inovasi. Pada point yang sama suatu keputusan organisasi dibuat untuk menyelaraskan masalah dengan inovasi dengan berkurangnya sumberdaya yang tepat bagi adopsi. Keputusan organisasi untuk menyelaraskan masalah, inovasi dan sumberdaya adalah point bersama yang diidentifikasi sebagai adopsi dari inovasi. Hal itu tanda pergeseran dari definisi masalah menuju inovasi yang tepat. (rogers dan Rekha Argawala-Rogers, 1976: 162-163)

     

PENERIMAAN INOVASI PADA LEVEL INDIVIDU

Dalam penerimaan inovasi oleh suatu masyarakat tidak terjadi secara serempak mengingat tingkat pengetahuan yang dimiliki mengenai inovasi yang telah diadopsi oleh organisasi berbeda. Ada yang memang sudah menanti datangnya inovasi (karena sadar akan kebutuhannya), ada yang melihat dulu sekelilingnya, ada yang baru menerima setelah yakin benar akan keuntungan – keuntungan yang kelak diperoleh dengan penerimaan itu dan ada pula yang tetap bertahan untuk tidak mau menerima. Masyarakat yang menghadapi suatu difusi inovasi oleh Everett  M Rogers(1995 :22) dikelompokan dalam kategori :

1.       Inovator, yakni mereka yang memang sudah pada dasarnya menyenangi hal – hal baru dan rajin melakukan percobaan – percobaan.

2.       Penerima dini (early adopters), yaitu orang – orang yang berpengaruh, tempat teman-teman sekelilingnya memperoleh informasi dan merupakan orang-orang yang lebih maju dibanding orang sekitarnya.

3.       Mayoritas dini (early majority), yaitu orang – orang yang baru bersedia menerima suatu inovasi selangkah lebih dahulu dari rata – rata kebanyakan orang lainnya.

4.       Mayoritas belakangan (late majority), yakni orang – orang yang baru bersedia menerima suatu inovasi apabila menurut penilaiannya semua orang sekelilingnya sudah menrima.

5.       Laggards, yaitu lapisan yang paling akhir dalam menerima suatu inovasi atau bahkan tidak menerimanya.

 

 

DAMPAK DARI ADOPSI INOVASI  DALAM ORGANISASI

            Terjadinya perubahan dalam suatu organisasi, antara lain disebabkan oleh diperkenalkan atau dimasukan hal – hal, gagasan – gagasan dan ide – ide baru. Hal – hal yang baru tersebut dikenal sebagai inovasi. Kebijakan untuk mengadopsi suatu inovasi merupakan suatu keputusan yang dibuat oleh organisasi setelah melalui suatu tahapan tertentu(Rogers, Everett M, 1995).  Menurut Rogers dan Rekha Argawala, (1976 : 150), inovasi dalam organisasi dibedakan berdasarkan dinamika penerimaan dari proses inovasi, 1.). inovasi dalam organisasi adalah inovasi yang diadopsi sebagai suatu hasil dari keputusan organisasi dimana tidak memasukan sebagian besar anggota untuk berperilaku berbeda sebagai individu. 2.). inovasi organisasi adalah inovasi dengan memasukan perubahan dalam perilaku individu.

            Menurut David F. Andersen (1991: 79) teknologi informasi mempengaruhi pemerintah dalam empat cara. Pertama, teknologi baru dapat mengubah rincian tahap-tahap operasi pemerintah. Kedua, teknologi secara halus megubah hubungan antar pimpinan pilihan masyarakat dengan para pakar teknologi di pemerintahan. Ketiga, akan terjadi perubahan karakter pemerintahan sebagai sumber informasi bagi masyarakat. Keempat, perkembangan teknologi akan mengubah tanggung jawab pemerintah sebagai pemilik informasi publik.

            Dalam penerapan teknologi informasi di negara berkembang, dua karakter dominan segera muncul, yaitu pertama, dominasi pemerintah atas komponen lainnya di dalam masyarakat; kedua, ketergantungan total pada transfer teknologi dari negara maju. Sebagaimana halnya negara maju, pemerintah negara berkembang memelopori penggunaan komputer untuk administrasi dan riset ilmu pengetahuan dan teknologi. Perbedaannya adalah jika di negara maju kemudian pihak swasta menyusul bahkan mengambil alih peran pemerintah  dalam pengembangan teknologi informasi, dibanyak negara berkembang pemerintah sering menjadi satu-satunya tumpuan pengembangan.

                       

 

 

           

           

DAFTAR PUSTAKA

Pace and Faules,(2002), Komunikasi Organisasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Pacey, Arnold.,(1983), The Culture of Technology. Massachusetts :    The MIT    Press.

Rogers, Everett M (1995), Diffusion of Innovations.—Fourth Edition.    New York : The       Free Press.

Straubhaar, Yoseph and LaRose, Robert.,(2004), Media Now :            Understanding Media, Culture,and Technology.—Fourth Edition. Australia : Thomson

Sampurna, (1996), Membuat Homepage dan HTML.—Jakarta : PT. Elex                Media       Komputindo.

Littlejohn, Stephen W., (2002), Theories Of Human Communication.—  Seventh   Edition.— Australia : Wadsworth

Yin, Robert K.,(1995), Studi Kasus (desain dan Metode).—edisi revisi.Jakarta : RajaGrafindo Persada

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selamat belajar

Oleh: tonz94 | 21 Desember 2008

TRANSAKSI ELEKTRONIK MELALUI MEDIA ONLINE(6)

PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI

ICT ADOPTION

TRANSAKSI ELEKTRONIK MELALUI MEDIA ONLINE

 

1.   PENDAHULUAN

 

Transaksi elektronik yang sering disebut sebagai online contract sebenarnya lebih ditujukan dalam lingkup transaksi yang dilakukan secara electronic. Transaksi elektronik memadukan jaringan system informasi berbasiskan computer (computer based information system), dengan system komunikasi yang berdasarkan atas jaringan jasa telekomunikasi (telecommunication based). Transaksi elektronik ini difasilitasi oleh keberadaan jaringan computer global internet (network of network). Oleh karena itu, esensi dari system elektronik sebagai wujud dari konvergensi teknologi informasi, media dan telekomunikasi  adalah mencakup keberadaan content dari informasi itu sendiri, computing sebagai system informasinya dan communication sebagai sarana pertukaran informasinya serta community sebagai pengguna. Menurut RUU ITE pasal 1 butir 10, Transaksi elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan computer, jaringan computer, atau media elektronik lainnya.

Pertukaran informasi melalui media elektronik (internet) yang terkait dengan transaksi bisnis atau perdagangan secara elektronik, memerlukan pengamanan melalui infrastruktur kunci publik (Public Key Infrastructure) agar informasi yang dipertukarkan hanya bisa dibaca oleh penerima yang berhak dan tidak dapat difahami oleh pihak yang  tidak berhak.

Pengamanan terhadap informasi (pesan) yang dikirim dalam suatu transaksi melalui media elektronik menempati tataran paling  tinggi dan sangat penting. Fakta menunjukkan perubahan pesan-pesan eletronik dapat dilakukan dengan mudah dan tidak terdeteksi, sehingga meningkatkan resiko terjadinya manipulasi terhadap pesan elektronik yang dikirim. Meningkatnya penggunaan jaringan komunikasi terbuka (internet), akan meningkatkan pula resiko kecurangan, penipuan serta akses ilegal.

Untuk itu diperlukan sistem dan prosedur pengamanan yang handal, dalam konteks penggunaan sistem komunikasi dengan jaringan terbuka (internet), agar timbul kepercayaan dan kepastian hukum bagi pengguna terhadap sistem komunikasi tersebut. Tindakan pencegahan untuk mengelola resiko tersebut termasuk penggunaan infrastruktur kunci publik, mensyaratkan keterlibatan pihak ketiga terpercaya (Trusted Third Party) dan independen.

 

2.   TANDA TANGAN DIGITAL

Tanda tangan digital (Digital Signature) bukan merupakan digitized image of handwritten signature. Tanda tangan elektronik bukan tandatangan yang dibubuhkan diatas kerta sebagaimana lazimnya suatu tanda tangan. Tanda tangan elektronik diperoleh dengan terlebih dahulu menciptakan suatu massage digest atau hast yaitu mathematical summary dokumen yang akan dikirimkan melalui cyberspace.

 

Digital Signature adalah sebuah item data yang berhubungan dengan sebuah pengkodean pesan digital yang dimaksudkan untuk memberikan kepastian tentang keaslian data dan memastikan bahwa data tidak termodifikasi. Digital signature sebenarrnya bukan suatu tanda tangan seperti yang dikenal selam ini, namun didasarkan dari isi pesan itu sendiri.

Menurut RUU ITE pasal 1 butir 5,  pengertian tanda tangan elektronik adalah informasi elektronik yang dilekatkan, memiliki hubungan langsung atau terasosiasi pada suatu informasi elektronik lain yang dibuat oleh penandatangan untuk menunjukan identitas dan statusnya sebagai subjek hokum, termasuk dan tidak terbatas pada penggunaan infrastruktur kunci public (tanda tangan digital), biometric, kriptografi simetrik.

 

3.   KEUNTUNGAN PENGGUNAAN TANDA TANGAN DIGITAL;

Beberapa keuntungan yang ditawarkan dari penggunaan digital signature, yaitu

1.   Authenticity (Ensured)

Dengan menggunakan digital signature maka dapat ditunjukkan dari mana data elektronik tersebut sesungguhnya berasal. Integritas pesan terjamin karena adanya digital certificate yang diperoleh berdasarkan aplikasi yang disampaikan kepada certification authority oleh user/subscriber. Digital certificate berisi informasi mengenai pengguna, antara lain: identitas, kewenangan, kedudukan hukum, dan status dari user. Dengan keberadaan digital certificate ini maka pihak ketiga yang berhubungan dengan pemegang digital certificate tersebut dapat merasa yakin bahwa pesan yang diterimanya adalah benar berasal dari user tersebut.

2.   Integrity

Penggunaan digital signature dapat menjamin bahwa pesan atau data elektronik yang dikirimkan tersebut tidak mengalami suatu perubahan atau modifikasi oleh pihak yang tidak berwenang. Jaminan authenticity ini dapat dilihat dari adanya fungsi hash dalam sistem digital signature dimana penerima data dapat melakukan pembandingan hash value. Jika hash value­nya ,sama dan sesuai maka data tersebut benar-benar otentik, tidak termodifikasi sejakdikirimkan sehingga terjamin keasliannya.

3.   Non-Repudiation

Pengirim pesan tidak akan dapat menyangkal bahwa ia telah mengirimkan pesan jika ia memang sudah mengirimkan pesan tersebut. Ia juga tidak dapat menyangkal isi pesan tersebut.

Hal ini disebabkan digital signature yang menggunakan enkripsi asimetris yang melibatkan private key dan public key. Suatu pesan yang telah dienkripsi dengan menggunakan kunci privat akan hanya dapat dibukajdekripsi dengan kunci publik milik pengirim.

4.   Confidentiality

Dengan mekanisme digital signature yang sedemikian rupa maka akan dapat terjamin kerahasiaan suatu pesan yang dikirimkan. Hal ini dimungkinkan karena tidak semua orang dapat mengetahui isi pesanjdata elektronik yang telah di-sign dan dimasukkan dalam digital envelope.

 

 

 

 

The process of checking digital signatures

Highly Accelerated Stress Test (HAST)

4.   FAKTOR PENDORONG TRANSAKSI ELEKTRONIK

Faktor-faktor yang mendorong perkembangan transaksi elektronik, yaitu:

1.   Peranan sektor swasta dalam pengembangan transaksi elektronik yang pelaksanaannya berdasarkan kepada prinsip-prinsip global dan universal;

2.   Adanya kebijaksanaan pemerintah untuk menghilangkan batasan atau hambatan dalam menyelanggarakan transaksi elektronik secara konsisten berdasarkan kepada ketentuan hukum.

 

 

5.   CERTIFICATION AUTHORITY (CA)

Certification Authority (CA)  atau Trusted Third Party (TTP) adalah sebuah badan hukum yang berfungsi sebagai pihak ketiga terpercaya yang menerbitkan Sertifikat Digital (SD) dan menyediakan  keamanan yang dapat dipercaya oleh para pengguna dalam menjalankan pertukaran informasi secara elektronis.  4 (empat) aspek keamanan yang harus dipenuhi dalam menjalankan transaksi elektronik  oleh CA yaitu :

1.   informasi yang dipertukarkan hanya bisa dibaca oleh penerima yang berhak dan tidak dapat difahami oleh pihak yang  tidak berhak (Privacy/Confidentiality);

2.   Identitas pihak yang terkait dapat diketahui atau dijamin otentisitasnya (Authentification);

3.   Informasi yang dikirim dan diterima  tidak berubah (Integrity);

4.   Pihak yang terkait tidak dapat  menyangkal  telah melakukan transaksi (Non Repudiation).

Pihak ketiga terpercaya akan membantu menjamin identitas dari para pihak pelaku transaksi elektonik melalui infrastruktur kunci publik dan menyediakan mekanisme untuk melakukan transaksi elektronik secara aman.

 

 

 

 

Referensi

1.     Undang – Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE)

2.     http://business.fortunecity.com/buffett/842/art080399_transelektronik.htm

 

Certificate Authority

Public Key Infrastructure (PKi)

Oleh: tonz94 | 20 Desember 2008

E-GOVERNMENT (7)

PENDAHULUAN
Indonesia pada saat ini tengah mengalami perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara secara fundamental menuju ke sistem kepemerintahan yang demokratis transparan serta meletakkan supremasi hukum. Perubahan yang tengah dialami tersebut memberikan peluang bagi penataan berbagai segi kehidupan berbangsa dan bernegara, dimana kepentingan rakyat dapat kembali diletakkan pada posisi sentral. Namun setiap perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara selalu disertai oleh berbagai bentuk ketidakpastian. Dengan demikian pemerintah harus mengupayakan kelancaran komunikasi dengan lembaga-lembaga tinggi negara, pemerintah daerah serta mendorong partisipasi masyarakat luas, agar ketidakpastian tersebut tidak mengakibatkan perselisihan paham dan ketegangan yang meluas, serta berpotensi menimbulkan permasalahan baru. Pemerintah juga harus lebih terbuka terhadap derasnya aliran ekspresi aspirasi rakyat dan mampu menanggapi secara cepat dan efektif.

TUNTUTAN MASYARAKAT
Perubahan-perubahan di atas menuntut terbentuknya kepemerintahan yang bersih, transparan, dan mampu menjawab tuntutan perubahan secara efektif. Pemerintah harus mampu memenuhi dua modalitas tuntutan masyarakat yang berbeda namun berkaitan erat, yaitu :
1. Masyarakat menuntut pelayanan publik yang memenuhi kepentingan masyarakat luas di seluruh wilayah negara, dapat diandalkan dan terpercaya, serta mudah dijangkau secara interaktif;
2. Masyarakat menginginkan agar asiprasi mereka didengar dengan demikian pemerintah harus memfasilitasi partisipasi dan dialog publik di dalam perumusan kebijakan negara.

UPAYA PEMERINTAH
Pengembangan e-government merupakan upaya untuk mengembangkan penyelenggaraan kepemerintahan yang berbasis (menggunakan) elektronik dalam rangka meningkatkan kualitas layanan publik secara efektif dan efisien. Melalui pengembangan e-government dilakukan penataan sistem manajemen dan proses kerja di lingkungan pemerintah dengan mengoptimasikan pemanfaatan teknologi informasi. Pemanfaatan teknologi informasi tersebut mencakup 2 (dua) aktivitas yang berkaitan yaitu :
(1) pengolahan data, pengelolaan informasi, sistem manajemen dan proses kerja secara elektronis;
(2) pemanfaatan kemajuan teknologi informasi agar pelayanan publik dapat diakses secara mudah dan murah oleh masyarakat di seluruh wilayah negara.
Untuk melaksanakan maksud tersebut pengembangan e-government diarahkan untuk mencapai 4 (empat) tujuan, yaitu :
a. Pembentukan jaringan informasi dan transaksi pelayanan publik yang memiliki kualitas dan lingkup yang dapat memuaskan masyarakat luas serta dapat terjangkau di seluruh wilayah Indonesia pada setiap saat tidak dibatasi oleh sekat waktu dan dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat.
b. Pembentukan hubungan interaktif dengan dunia usaha untuk meningkatkan perkembangan perekonomian nasional dan memperkuat kemampuan menghadapi perubahan dan persaingan perdagangan internasional.
c. Pembentukan mekanisme dan saluran komunikasi dengan lembaga-lembaga negara serta penyediaan fasilitas dialog publik bagi masyarakat agar dapat berpartisipasi dalam perumusan kebijakan negara.
d. Pembentukan sistem manajemen dan proses kerja yang transparan dan efisien serta memperlancar transaksi dan layanan antar lembaga pemerintah dan pemerintah daerah otonom.
PEMANFAATANA ICT
Pemanfaatan teknologi informasi pada umumnya ditinjau dari sejumlah aspek sebagai berikut :
a. E-Leadership; aspek ini berkaitan dengan prioritas dan inisiatif negara di dalam mengantisipasi dan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi.
b. Infrastruktur Jaringan Informasi; aspek ini berkaitan dengan kondisi infrastruktur telekomunikasi serta akses, kualitas, lingkup, dan biaya jasa akses.
c. Pengelolaan Informasi; aspek ini berkaitan dengan kualitas dan keamanan pengelolaan informasi, mulai dari pembentukan, pengolahan, penyimpanan, sampai penyaluran dan distribusinya.
d. Lingkungan Bisnis; aspek ini berkaitan dengan kondisi pasar, sistem perdagangan, dan regulasi yang membentuk konteks bagi perkembangan bisnis teknologi informasi, terutama yang mempengaruhi kelancaran aliran informasi antara pemerintah dengan masyarakat dan dunia usaha, antar badan usaha, antara badan usaha dengan masyarakat, dan antar masyarakat.
e. Masyarakat dan Sumber Daya Manusia, aspek ini berkaitan dengan difusi teknologi informasi didalam kegiatan masyarakat baik perorangan maupun organisasi, serta sejauh mana teknologi informasi disosialisasikan kepada masyarakat melalui proses pendidikan.

STRATEGI E-GOVERNMENT
Dengan mempertimbangkan kondisi saat ini, pencapaian tujuan strategis e-government perlu dilaksanakan melalui 6 (enam) strategi yang berkaitan erat, yaitu :
Strategi 1 : – Mengembangkan sistem pelayanan yang andal dan terpercaya, serta terjangkau oleh masyarakat luas. Masyarakat mengharapkan layanan publik yang terintegrasi tidak tersekat-sekat oleh batasan organisasi dan kewenangan birokrasi. Dunia usaha memerlukan informasi dan dukungan interaktif dari pemerintah untuk dapat menjawab perubahan pasar dan tantangan persaingan global secara cepat. Kelancaran arus informasi untuk menunjang hubungan dengan lembaga-lembaga negara, serta untuk menstimulasi partisipasi masyarakat merupakan faktor penting dalam pembentukan kebijakan negara yang baik. Oleh karena itu, pelayanan publik harus transparan, terpercaya, serta terjangkau oleh masyarakat luas melalui jaringan komunikasi dan informasi. Strategi ini mencakup sejumlah sasaran sebagai berikut
a. Perluasan dan peningkatan kualitas jaringan komunikasi dan informasi ke seluruh wilayah negara pada tingkat harga yang dapat terjangkau oleh masyarakat, dengan sejauh mungkin melibatkan partisipasi dunia usaha.
b. Pembentukan portal-portal informasi dan pelayanan publik yang dapat mengintegrasikan sistem manajemen dan proses kerja instansi pemerintah terkait, sehingga masyarakat pengguna tidak merasakan sekat-sekat organisasi dan kewenangan di lingkungan pemerintah, sasaran ini akan diperkuat dengan kebijakan tentang kewajiban instansi pemerintah dan pemerintah daerah otonom untuk menyediakan informasi dan pelayanan publik secara on-line.
c. Pembentukan jaringan organisasi pendukung (back-office) yang menjembatani portal-portal informasi dan pelayanan publik tersebut di atas dengan situs dan sistem pengolahan dan pengelolaan informasi yang terkait pada sistem manajemen dan proses kerja di instansi yang berkepentingan. Sasaran ini mencakup pengembangan kebijakan pemanfaatan dan pertukaran informasi antar instansi pemerintah pusat dan daerah.
d. Pembakuan sistem manajemen dokumen elektronik, standardisasi, dan sistem pengamanan informasi untuk menjamin kelancaran dan keandalan transaksi informasi antar organisasi diatas.
Strategi 2 : – Menata sistem dan proses kerja pemerintah dan pemerintah daerah otonom secara holistik.
Pencapaian Strategi-1 harus ditunjang dengan penataan sistem manajemen dan proses kerja di semua instansi pemerintah pusat dan daerah. Penataan sistem manajemen dan prosedur kerja pemerintah harus dirancang agar dapat mengadopsi kemajuan teknologi informasi secara cepat. Penataan itu harus meliputi sejumlah sasaran yang masing-masing atau secara holistik membentuk konteks bagi pembentukan kepemerintahan yang baik, antara lain meliputi :
a. Fokus kepada kebutuhan masyarakat, kewibawaan pemerintah sangat dipengaruhi oleh kemampuan menyelenggarakan pelayanan publik yang dapat memuaskan masyarakat serta memfasilitasi partisipasi masyarakat dan dialog publik dalam pembentukan kebijakan negara.
b. Manajemen perubahan, pengembangan kepemerintahan yang baik hanya dapat dicapai apabila didukung oleh komitmen yang kuat dari seluruh tingkatan manajemen untuk melakukan perubahan-perubahan sistem manajemen dan proses kerja secara kontinyu, agar pemerintah dapat menghadapi perubahan pola kehidupan masyarakat yang semakin dinamis dan pola hubungan internasional yang semakin kompleks. Organisasi pemerintah harus ber-evolusi menuju organisasi jaringan, dimana setiap unsur instansi pemerintah berfungsi sebagai simpul dalam jaringan desentralisasi kewenangan dengan lini pengambilan keputusan yang sependek mungkin dan tolok ukur akuntabilitas yang jelas.
c. Penguatan e-leadership, penataan sistem manajemen dan proses kerja di lingkungan pemerintah dan pemerintah daerah otonom perlu ditunjang oleh penguatan kerangka kebijakan yang fokus dan konsisten untuk mendorong pemanfaatan teknologi informasi, agar simpul-simpul jaringan organisasi di atas dapat berinteraksi secara erat, transparan, dan membentuk rentang kendali yang efektif.
d. Rasionalisasi peraturan dan prosedur operasi, termasuk semua tahapan perubahan, perlu diperkuat dengan landasan peraturan dan prosedur operasi yang berorientasi pada organisasi jaringan, rasional, terbuka, serta mendorong pembentukan kemitraan dengan sektor swasta.
Strategi 3 : – Memanfaatkan teknologi informasi secara optimal.
Pelaksanaan setiap strategi memerlukan kemampuan dalam melaksanakan transaksi, pengolahan, dan pengelolaan berbagai bentuk dokumen dan informasi elektronik dalam volume yang besar, sesuai dengan tingkatannya.

Kemajuan teknologi informasi dan perkembangan jaringan komunikasi dan informasi memberikan peluang yang luas bagi instansi pemerintah untuk memenuhi keperluan tersebut. Agar pemanfaatan teknologi informasi di setiap instansi dapat membentuk jaringan kerja yang optimal, maka melalui strategi ini sejumlah sasaran yang perlu diupayakan pencapaiannya, adalah sebagai berikut :
a. Standardisasi yang berkaitan dengan interoperabilitas pertukaran dan transaksi informasi antar portal pemerintah.
b. Standardisasi dan prosedur yang berkaitan dengan manajemen dokumen dan informasi elektronik (electronic document management system) serta standardisasi meta-data yang memungkinkan pemakai menelusuri informasi tanpa harus memahami struktur informasi pemerintah.
c. Perumusan kebijakan tentang pengamanan informasi serta pembakuan sistem otentikasi dan public key infrastucture untuk menjamin keamanan informasi dalam penyelenggaraan transaksi dengan pihak-pihak lain, terutama yang berkaitan dengan kerahasiaan informasi dan transaksi finansial.
d. Pengembangan aplikasi dasar seperti e-billing, e-procurement, e-reporting yang dapat dimanfaatkan oleh setiap situs pemerintah untuk menjamin keandalan, kerahasiaan, keamanan dan interoperabilitas transaksi informasi dan pelayanan publik.
e. Pengembangan jaringan intra pemerintah untuk mendukung keandalan dan kerahasiaan transaksi informasi antar instansi pemerintah dan pemerintah daerah otonom.
Strategi 4 : – Meningkatkan Peran Serta Dunia Usaha dan Mengembangkan Industri Telekomunikasi dan Teknologi Informasi.
Pengembangan pelayanan publik tidak perlu sepenuhnya ditangani oleh pemerintah. Partisipasi dunia usaha dapat mempercepat pencapaian tujuan strategis e-government. Beberapa kemungkinan partisipasi dunia usaha sebagai berikut perlu dioptimalkan :
a. Dalam mengembangkan komputerisasi, sistem manajemen, proses kerja, serta pengembangan situs dan pembakuan standard, pemerintah harus mendayagunakan keahlian dan spesialisasi yang telah berkembang di sektor swasta.
b. Walaupun pelayanan dasar bagi masyarakat luas harus dipenuhi oleh pemerintah, namun partisipasi dunia usaha untuk meningkatkan nilai informasi dan jasa kepemerintahan bagi keperluan-keperluan tertentu harus dimungkinkan.
c. Peran dunia usaha untuk mengembangkan jaringan komunikasi dan informasi di seluruh wilayah negara merupakan faktor yang penting. Demikian pula partisipasi usaha kecil menengah untuk menyediakan akses serta meningkatkan kualitas dan lingkup layanan warung internet perlu didorong untuk memperluas jangkauan pelayanan publik. Semua instansi terkait harus memberikan dukungan dan insentif, serta meninjau kembali dan memperbaiki berbagai peraturan dan ketentuan pemerintah yang menghambat partisipasi dunia usaha dalam memperluas jaringan dan akses komunikasi dan informasi.
Di samping itu, perkembangan e-government akan membentuk pasar yang cukup besar bagi perkembangan industri teknologi informasi dan telekomunikasi. Dengan demikian pemerintah harus memanfaatkan perkembangan e-government untuk menumbuhkan industri dalam negeri di bidang ini. Oleh karena perkembangan industri di bidang ini sangat dipengaruhi oleh tarikan pasar dan dorongan kemajuan teknologi, maka dukungan bagi industri tersebut harus mencakup penyediaan akses pasar pemerintah seluas-luasnya, dukungan penelitian dan pengembangan, serta penyediaan insentif untuk mengatasi berbagai bentuk kesenjangan dan tingkat risiko yang berkelebihan yang menghambat investasi dunia usaha dibidang ini dalam mengembangkan kemampuan teknologi.
Strategi 5 : – Mengembangkan kapasitas sumber daya manusia (SDM), baik pada pemerintah maupun pemerintah daerah otonom, disertai dengan meningkatkan e-literacy masyarakat.
Sumber daya manusia (SDM) baik sebagai pengembang, pengelola maupun pengguna e-government merupakan faktor yang turut menentukan bahkan menjadi kunci keberhasilan pelaksanakan dan pengembangan e-government.
Untuk itu, perlu upaya peningkatan kapasitas SDM dan penataan dalam pendayagunaannya, dengan perencanaan yang matang dan komprehensif sesuai dengan kebutuhan, serta pelaksanaannya dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Hal tersebut dilakukan melalui jalur pendidikan formal dan non formal, maupun pengembangan standar kompetensi yang dibutuhkan dalam pengembangan dan implementasi e-government.
Upaya pengembangan SDM yang perlu dilakukan untuk mendukung e-government adalah sebagai berikut :
a. Meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya informasi serta pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi (e-literacy), baik di kalangan pemerintah dan pemerintah daerah otonom maupun di kalangan masyarakat dalam rangka mengembangkan budaya informasi ke arah terwujudnya masyarakat informasi (information society).
b. Pemanfaatan sumberdaya pendidikan dan pelatihan termasuk perangkat teknologi informasi dan komunikasi secara sinergis, baik yang dimiliki oleh lembaga pemerintah maupun non pemerintah/masyarakat.
c. Pengembangan pedoman penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi lembaga pemerintah agar hasil pendidikan dan pelatihan tersebut sesuai dengan kebutuhan pengembangan dan pelaksanaan e-government.
d. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan teknologi informasi dan komunikasi bagi aparat pelaksana yang menangani kegiatan bidang informasi dan komunikasi dan aparat yang bertugas dalam memberikan pelayanan publik, maupun pimpinan unit/lembaga, serta fasilitasi pendidikan dan pelatihan bagi calon pendidik dan pelatih maupun tenaga potensial di bidang teknologi informasi dan komunikasi yang diharapkan dapat mentransfer pengetahuan/keterampilan yang dimiliki kepada masyarakat di lingkungannya.
e. Peningkatan kapasitas penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan jarak jauh (distance learning) dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara optimal untuk pemerataan atau mengurangi kesenjangan SDM di bidang teknologi informasi dan komunikasi antar daerah.
f. Perubahan pola pikir, sikap dan budaya kerja aparat pemerintah yang mendukung pelaksanaan e-government melalui sosialisasi/penjelasan mengenai konsep dan program e-government, serta contoh keberhasilan (best practice) pelaksanaan e-government.
g. Peningkatan motivasi melalui pemberian penghargaan/apresiasi kepada seluruh SDM bidang informasi dan komunikasi di pemerintah pusat dan daerah serta masyarakat yang secara aktif mengembangkan inovasi menjadi karya yang bermanfaat bagi pengembangan dan pelaksanaan e-government.
Strategi 6 : – Melaksanakan pengembangan secara sistematik melalui tahapan yang realistik dan terukur.
Setiap perubahan berpotensi menimbulkan ketidakpastian, oleh karena itu pengembangan e-government perlu direncanakan dan dilaksanakan secara sistematik melalui tahapan yang realistik dan dan sasaran yang terukur, sehingga dapat difahami dan diikuti oleh semua pihak. Berdasarkan sifat transaksi informasi dan pelayanan publik yang disediakan oleh pemerintah melalui jaringan informasi, pengembangan e-government dapat dilaksanakan melalui 4 (empat) tingkatan sebagai berikut :
Tingkat 1 – Persiapan yang meliputi :
– Pembuatan situs informasi disetiap lembaga;
– Penyiapan SDM;
– Penyiapan sarana akses yang mudah misalnya menyediakan sarana Multipurpose Community Center, Warnet, SME-Center, dll;
– Sosialisasi situs informasi baik untuk internal maupun untuk publik.
Tingkat 2 – Pematangan yang meliputi :
– Pembuatan situs informasi publik interaktif;
– Pembuatan antar muka keterhubungan dengan lembaga lain;
Tingkat 3 – Pemantapan yang meliputi :
– Pembuatan situs transaksi pelayanan publik;
– Pembuatan interoperabilitas aplikasi maupun data dengan lembaga lain.
Tingkat 4 – Pemanfaatan yang meliputi :

Pembuatan aplikasi untuk pelayanan yang bersifat G2G, G2B dan G2C yang terintegrasi.
Situs pemerintah pusat dan daerah harus secara bertahap ditingkatkan menuju ke tingkat – 4. Perlu dipertimbangkan bahwa semakin tinggi tingkatan situs tersebut, diperlukan dukungan sistem manajemen, proses kerja, dan transaksi informasi antar instansi yang semakin kompleks pula. Upaya untuk menaikkan tingkatan situs tanpa dukungan yang memadai, akan mengalami kegagalan yang tidak hanya menimbulkan pemborosan namun juga menghilangkan kepercayaan masyarakat. Untuk menghindari hal tersebut, perlu dibakukan sejumlah pengaturan sebagai berikut :
a. Standar kualitas dan kelayakan situs pemerintah bagi setiap tingkatan perkembangan di atas.
b. Peraturan tentang kelembagaan dan kewenangan yang berkaitan dengan pemanfaatan dan transaksi informasi yang dimiliki pemerintah. Pengaturan ini harus mencakup batasan tentang hak masyarakat atas informasi, kerahasiaan dan keamanan informasi pemerintah (information security), serta perlindungan informasi yang berkaitan dengan masyarakat (privacy).
c. Persyaratan sistem manajemen dan proses kerja, serta sumber daya manusia yang diperlukan agar situs pemerintah dapat berfungsi secara optimal dan mampu berkembang ke tingkat yang lebih tinggi.

Referensi
Instruksi Presiden N0. 6 tahun 2003

Oleh: tonz94 | 27 Januari 2008

DESAIN KEMASAN

DALAM DUNIA PEMASARAN (5)

Disampaikan oleh :

Soekartono, S.IP., M.Si

tonz94@gmail.com

 

 

 

1.   PENDAHULUAN

Dalam era globalisasi seperti sekarang ini di mana situasi persaingan dalam pasar semakin tajam, “estetika” dapat berfungsi sebagai “perangkap emosional” yang sangat ampuh untuk menarik perhatian konsumen. Pertarungan produk tidak lagi terbatas pada keunggulan kualitas atau teknologi canggih semata, tetapi juga pada usaha untuk mendapatkan nilai tambah untuk memberikan emotional benefit kepada konsumen.

Salah satu usaha yang dapat ditempuh untuk menghadapi persaingan perdagangan yang semakin tajam adalah melalui desain kemasan. Daya tarik suatu produk tidak dapat terlepas dari kemasannya. Kemasan merupakan “pemicu” karena ia langsung berhadapan dengan konsumen. Karena itu kemasan harus dapat mempengaruhi konsumen untuk memberikan respon positif, dalam hal ini membeli produk; karena tujuan akhir dari pengemasan adalah untuk menciptakan penjualan. 1

 

Kemasan adalah salah satu bidang dalam Desain Komunikasi Visual yang mempunyai banyak tuntutan khusus karena fungsinya yang langsung berhadapan dengan konsumen, antara lain tuntutan teknis, kreatif, komunikatif dan pemasaran yang harus diwujudkan ke dalam bahasa visual. Sebagai seorang desainer komunikasi visual, hal ini merupakan suatu tantangan karena selain dituntut untuk dapat menyajikan sebuah (desain) kemasan yang estetis, kita juga dituntut untuk memaksimalkan daya tarik kemasan untuk dapat menang dalam pertarungan untuk menghadapi produk-produk pesaing. Tantangan yang lain adalah klien tidak hanya mengharapkan peningkatan penjualan tetapi juga agar konsumennya tetap setia menggunakan produknya.2

 

2.   DEFINISI KEMASAN

Kemasan dapat didefinisikan sebagai seluruh kegiatan merancang dan memproduksi wadah atau bungkus atau kemasan suatu produk. Kemasan meliputi tiga hal, yaitu merek, kemasan itu sendiri dan label. Ada tiga alasan utama untuk melakukan pembungkusan, yaitu:

1.   Kemasan memenuhi syarat keamanan dan kemanfaatan. Kemasan melindungi produk dalam perjalanannya dari produsen ke konsumen. Produk-produk yang dikemas biasanya lebih bersih, menarik dan tahan terhadap kerusakan yang disebabkan oleh cuaca.

2.    Kemasan dapat melaksanakan program pemasaran. Melalui kemasan identifikasi produk menjadi lebih efektif dan dengan sendirinya mencegah pertukaran oleh produk pesaing. Kemasan merupakan satu-satunya cara perusahaan membedakan produknya.

3.   Kemasan merupakan suatu cara untuk meningkatkan laba perusahaan.Oleh karena itu perusahaan harus membuat kemasan semenarik mungkin. Dengan kemasan yang sangat menarik diharapkan dapat memikat dan menarik perhatian konsumen. Selain itu, kemasan juga dapat mangurangi kemungkinan kerusakan barang dan kemudahan dalam pengiriman.

1 Iwan Wirya (1999), Kemasan yang Menjual, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. h. ix

2 Alan Swann (1997), The New Graphic Design School, New Burlington Books, London. h. 156

 

 

3.   SEJARAH KEMASAN

Kemasan telah dikenal sejak jaman manusia purba. Orang- orang primitif menggunakan kulit binatang dan keranjang rumput untuk mewadahi buah-buahan yang dipungut dari hutan. Kemudian 8.000 tahun yang lalu, bangsa Cina membuat aneka ragam keramik untuk mewadahi benda padat ataupun cair. Orang-orang Indonesia kuno membuat wadah dari bambu untuk menyimpan benda cair. Menjelang abad pertengahan, bahan-bahan kemasan terbuat dari kulit, kain, kayu, batu, keramik dan kaca. Tetapi pada jaman itu, kemasan masih terkesan seadanya dan lebih berfungsi untuk melindungi barang terhadap pengaruh cuaca atau proses alam lainnya yang dapat merusak barang. Selain itu, kemasan juga berfungsi sebagai wadah agar barang mudah dibawa selama dalam perjalanan.

Selama berabad-abad, fungsi sebuah kemasan hanyalah sebatas untuk melindungi barang atau mempermudah barang untuk dibawa. Seiring dengan perkembangan jaman yang semakin kompleks, barulah terjadi penambahan nilai-nilai fungsional dan peranan kemasan dalam pemasaran mulai diakui sebagai satu kekuatan utama dalam persaingan pasar.

Sebenarnya peranan kemasan baru dirasakan pada tahun 1950-an, saat banyak munculnya supermarket atau pasar swalayan, di mana kemasan harus “dapat menjual” produk-produk di rak-rak toko. Tetapi pada saat itupun kemasan hanya berfungsi memberikan informasi – memberitahu kepada konsumen tentang apa isi atau kandungan di dalam kemasan tersebut.

Baru pada tahun 1980-an di mana persaingan dalam dunia usaha semakin tajam dan kalangan produsen saling berlomba untuk merebut perhatian calon konsumen, bentuk dan model kemasan dirasakan sangat penting peranannya dalam strategi pemasaran. Di sini kemasan harus mampu menarik perhatian, menggambarkan keistimewaan produk, dan “membujuk” konsumen. Pada saat inilah kemasan mengambil alih tugas penjualan pada saat jual beli terjadi.

 

4.   FUNGSI KEMASAN

Hermawan Kartajaya, seorang pakar di bidang pemasaran mengatakan bahwa teknologi telah membuat packaging berubah fungsi, dulu orang bilang “Packaging protects what it sells (Kemasan melindungi apa yang dijual).” Sekarang, “Packaging sells what it protects (Kemasan menjual apa yang dilindungi).” 3 Dengan kata lain, kemasan bukan lagi sebagai pelindung atau wadah tetapi harus dapat menjual produk yang dikemasnya.

Perkembangan fungsional kemasan tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Sekarang ini kemasan sudah berfungsi sebagai media komunikasi. Misalnya pada kemasan susu atau makanan bayi seringkali dibubuhi nomor telepon toll-free atau bebas pulsa. Nomor ini bisa dihubungi oleh konsumen tidak hanya untuk complain, tetapi juga sebagai pusat informasi untuk bertanya tentang segala hal yang berhubungan dengan produk tersebut.

Kemasan juga dapat berfungsi untuk mengkomunikasikan suatu citra tertentu. Contohnya, produk-produk makanan Jepang. Orang Jepang dikenal paling pintar membuat kemasan yang bagus. Permen Jepang seringkali lebih enak dilihat daripada rasanya. Mereka berani menggunakan bahan-bahan mahal untuk membungkus produk yang dijual. Walaupun tidak ada pesan apa-apa yang ditulis pada bungkus tersebut, tapi kemasannya mengkomunikasikan suatu citra yang baik.

Semua produk yang dijual di pasar swalayan harus benar-benar direncanakan kemasannya dengan baik. Karena produk dalam kategori yang sama akan diletakkan pada rak yang sama. Jika produsen ingin meluncurkan suatu produk baru, salah satu tugas yang penting adalah membuat kemasannya stands out, lain daripada yang lain dan unik. Kalau tidak terkesan berbeda dengan produk lain, maka produk baru itu akan “tenggelam”. Sebelum mencoba isinya, konsumen akan menangkap kesan yang dikomunikasikan oleh kemasan. Dengan demikian kemasan produk baru tersebut harus mampu “beradu” dengan kemasan produk-produk lainnya.

3 Hermawan Kartajaya (1996), Marketing Plus 2000 Siasat Memenangkan Persaingan Global, PT. Gramedia Pustaka Utama. h.263

 

Dengan melihat fungsi kemasan yang sangat penting, maka konsep fungsional pengemasan harus mencakup seluruh proses pemasaran dari konsepsi produk sampai ke pemakai akhir.

 

 

5.   FAKTOR-FAKTOR DESAIN KEMASAN

Kemasan yang baik dan akan digunakan semaksimal mungkin dalam pasar harus mempertimbangkan dan dapat menampilkan beberapa faktor, antara lain sebagai berikut.

1.   Faktor pengamanan Kemasan harus melindungi produk terhadap berbagai kemungkinan yang dapat menjadi penyebab timbulnya kerusakan barang, misalnya: cuaca, sinar matahari, jatuh, tumpukan, kuman, serangga dan lain-lain. Contohnya, kemasan biskuit yang dapat ditutup kembali agar kerenyahannya tahan lama.

2.   Faktor ekonomi Perhitungan biaya produksi yang efektif termasuk pemilihan bahan, sehingga biaya tidak melebihi proporsi manfaatnya. Contohnya, produk-produk refill atau isi ulang, produk-produk susu atau makanan bayi dalam karton, dan lain-lain.

 

3.   Faktor pendistribusian Kemasan harus mudah didistribusikan dari pabrik ke distributor atau pengecer sampai ke tangan konsumen. Di tingkat distributor, kemudahan penyimpanan dan pemajangan perlu dipertimbangkan. Bentuk dan ukuran kemasan harus direncanakan dan dirancang sedemikian rupa sehingga tidak sampai menyulitkan peletakan di rak atau tempat pemajangan.

4.   Faktor komunikasi Sebagai media komunikasi kemasan menerangkan dan mencerminkan produk, citra merek, dan juga bagian dari produksi dengan pertimbangan mudah dilihat, dipahami dan diingat. Misalnya, karena bentuk kemasan yang aneh sehingga produk tidak dapat “diberdirikan”, harus diletakkan pada posisi “tidur” sehingga ada tulisan yang tidak dapat terbaca dengan baik; maka fungsi kemasan sebagai media komunikasi sudah gagal.

5.   Faktor ergonomi Pertimbangan agar kemasan mudah dibawa atau dipegang, dibuka dan mudah diambil sangatlah penting. Pertimbangan ini selain mempengaruhi bentuk dari kemasan itu sendiri juga mempengaruhi kenyamanan pemakai produk atau konsumen. Contohnya, bentuk botol minyak goreng Tropical yang pada bagian tengahnya diberi cekungan dan tekstur agar mudah dipegang dan tidak licin bila tangan pemakainya terkena minyak.

6.   Faktor estetika Keindahan pada kemasan merupakan daya tarik visual yang mencakup pertimbangan penggunaan warna, bentuk, merek atau logo, ilustrasi, huruf, tata letak atau layout, dan maskot . Tujuannya adalah untuk mencapai mutu daya tarik visual secara optimal.

7.   Faktor identitas Secara keseluruhan kemasan harus berbeda dengan kemasan lain, memiliki identitas produk agar mudah dikenali dan dibedakan dengan produk-produk yang lain.

8.   Faktor promosi Kemasan mempunyai peranan penting dalam bidang promosi, dalam hal ini kemasan berfungsi sebagai silent sales person. Peningkatan kemasan dapat efektif untuk menarik perhatian konsumen-konsumen baru.

9.   Faktor lingkungan Kita hidup di dalam era industri dan masyarakat yang berpikiran kritis. Dalam situasi dan kondisi seperti ini, masalah lingkungan tidak dapat terlepas dari pantauan kita. Trend dalam masyarakat kita akhir-akhir ini adalah kekhawatiran mengenai polusi, salah satunya pembuangan sampah. Salah satunya yang pernah menjadi topik hangat adalah styrofoam. Pada tahun 1990 organisasi-organisasi lingkungan hidup berhasil menekan perusahaan Mc Donalds untuk mendaur ulang kemasan-kemasan mereka. Sekarang ini banyak perusahaan yang menggunakan kemasan-kemasan yang ramah lingkungan (environmentally friendly ), dapat didaur ulang (recyclable) atau dapat dipakai ulang (reusable).

Faktor-faktor ini merupakan satu kesatuan yang sangat vital dan saling mendukung dalam keberhasilan penjualan, terlebih di masa sekarang dimana persaingan sangat ketat dan produk dituntut untuk dapat menjual sendiri. Penjualan maksimum tidak akan tercapai apbila secara keseluruhan penampilan produk tidak dibuat semenarik mungkin. Keberhasilan penjualan tergantung pada citra yang diciptakan oleh kemasan tersebut. Penampilan harus dibuat sedemikian rupa agar konsumen dapat memberikan reaksi spontan, baik secara sadar ataupun tidak. Setelah itu, diharapkan konsumen akan terpengaruh dan melakukan tindakan positif, yaitu melakukan pembelian di tempat penjualan.

 

6.   DESAIN KEMASAN

Kunci utama untuk membuat sebuah desain kemasan yang baik adalah kemasan tersebut harus simple (sederhana)4, fungsional dan menciptakan respons emosional positif yang secara tidak langsung “berkata”, “Belilah saya.” Kemasan harus dapat menarik perhatian secara visual, emosional dan rasional. Sebuah desain kemasan yang bagus memberikan sebuah nilai tambah terhadap produk yang dikemasnya.

Menurut penelitian, dari seluruh kegiatan penginderaan manusia, 80 % adalah penginderaan melalui penglihatan atau kasatmata (visual). Karena itulah, unsur-unsur grafis dari kemasan antara lain: warna, bentuk, merek, ilustrasi, huruf dan tata letak merupakan unsur visual yang mempunyai peran terbesar dalam proses penyampaian pesan secara kasatmata (visual communication). Agar berhasil, maka penampilan sebuah kemasan harus mempunyai daya tarik. Daya tarik pada kemasan dapat digolongkan menjadi dua, yaitu daya tarik visual (estetika) dan daya tarik praktis (fungsional) 5

1.   Daya tarik visual (estetika) Daya tarik visual mengacu pada penampilan kemasan yang mencakup unsur-unsur grafis yang telah disebutkan di atas. Semua unsur grafis tersebut dikombinasikan untuk menciptakan suatu kesan untuk memberikan daya tarik visual secara optimal. Daya tarik visual sendiri berhubungan dengan faktor emosi dan psikologis yang

4 Hukum persepsi menunjukkan bahwa mata dan otak membutuhkan kesederhanaan dan keseimbangan dalam
segala hal yang dilihat. Setiap orang hanya akan melihat hal-hal tertentu yang akan direkam otak dan
kemudian mempengaruhi pola pikir dan tindakan seseorang. (Iwan Wirya, h.11)
5 Hal ini sesuai dengan sifat dasar desain, yaitu bersifat fungsional dan estetis. (Christine S. Cenadi (1998),
Jurnal Nirmana Jurusan Desain Komunikasi Visual Volume 1, Universitas Kristen Petra, Surabaya.)

terletak pada bawah sadar manusia. Sebuah desain yang baik harus mampu mempengaruhi konsumen untuk memberikan respons positif tanpa disadarinya. Sering terjadi konsumen membeli suatu produk yang tidak lebih baik dari produk lainnya walaupun harganya lebih mahal. Dalam hal ini dapat dipastikan bahwa terdapat daya tarik tertentu yang mempengaruhi konsumen secara psikologis tanpa disadarinya. Misalnya produk-produk sabun mandi yang pada umumnya memiliki komposisi yang tidak jauh berbeda. Tetapi produk sabun mandi yang dapat menampilkan kelembutan yang divisualkan dengan baik pada desain kemasannya, di antaranya menggunakan warna-warna lembut (pastel) dan merek dengan font Script atau Italic (miring) dan memberikan kesan lembut dan anggun akan lebih banyak dipilih oleh konsumen. Visualisasi yang ditampilkan memberikan efek psikologis bahwa konsumen akan merasakan kulitnya lebih lembut setelah menggunakan sabun mandi tersebut.

 

2.Daya tarik praktis (fungsional) Daya tarik praktis merupakan efektivitas dan efisiensi suatu kemasan yang ditujukan kepada konsumen maupun distributor. Misalnya, untuk kemudahan penyimpanan atau pemajangan produk. Beberapa daya tarik praktis lainnya yang perlu dipertimbangkan antara lain : -Dapat melindungi produk -Mudah dibuka atau ditutup kembali untuk disimpan -Porsi yang sesuai untuk produk makanan/minuman -Dapat digunakan kembali (reusable) -Mudah dibawa, dijinjing atau dipegang -Memudahkan pemakai untuk menghabiskan isinya dan mengisi kembali dengan jenis produk yang dapat diisi ulang (refill)

 

7.   PEMASARAN MELALUI DESAIN KEMASAN

Dalam prinsip pemasaran dikenal 4 elemen penting dalam strategi pemasaran, yaitu: Product (produk), Price (harga), Place (tempat) dan Promotion (promosi). Namun demikian, dewasa ini banyak pakar pemasaran yang menganggap kemasan (Packaging) sebagai P kelima dalam elemen strategi pemasaran.6

Banyak orang menganggap bahwa kemasan tidak begitu berpengaruh, tetapi mengapa kemasan seperti botol Coca Cola dengan bentuk botol yang unik dan khas dapat terkenal di seluruh dunia dan merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan dari Coca Cola itu sendiri? Beberapa konsumen malah beranggapan bahwa kalau tidak minum Coca Cola dari “botol unik” berarti yang diminum bukan merek Coca Cola.

Disini menunjukkan bahwa kemasan dapat mengangkat citra dari sebuah perusahaan dan menciptakan kesetiaan atau loyalitas konsumen terhadap produk yang dikemasnya.

Sebuah kemasan yang berhasil merupakan perpaduan antara pemasaran dan desain, tetapi ada perbedaan yang sangat besar antara cara berpikir para pakar pemasaran dengan para desainer. Kita sebagai desainer cenderung berpikir lebih subjektif dan kreatif ­mencari ide. Sedangkan seorang staf pemasaran lebih berpikir secara objektif dan marketing oriented – bagaimana meningkatkan penjualan dengan biaya seminimal mungkin. Akan tetapi dibalik perbedaan itu, ada satu kesamaan tujuan, yaitu mendapatkan respons positif dari pengamat sasaran. Karena itu seorang desainer komunikasi visual perlu mengerti konsep dasar pemasaran dan hubungannya dengan visualisasi, sebaliknya seorang staf pemasaran perlu mengerti cara visualisasi para konsumennya.

Dengan berkembangnya jumlah produk di pasar ditambah dengan persaingan yang tajam dewasa ini , membuat pasar menjadai sebuah arena di mana setiap produk harus mampu bersaing dengan produk lainnya. Ditambah lagi dengan banyaknya pasar swalayan (self service), menuntut sebuah produk menjadi wiraniaga tan wicara (silent sales person), di mana produk tersebut harus mampu menjual. Faktor-faktor inilah yang meningkatkan pentingnya peranan desain kemasan dalam pemasaran.

Menurut Hermawan Kartajaya, kita tidak boleh menganggap remeh “estetika”7 (baca:desain). Hal ini disebabkan oleh bertambahnya jumlah produsen yang ikut serta dalam persaingan pasar. Dahulu ketika jumlah produk di pasar masih sedikit, estetika tidak punya arti apa-apa di mata konsumen. Konsumen tidak peduli dengan bentuk

6 Philip Kotler (1987), Marketing Jilid 1, Penerbit Erlangga, Jakarta, h. 200. 7 Hermawan Kartajaya (1997), h. 201.

produk yang unik, pilihan kemasan yang lain daripada yang lain, dan lain-lain. Tetapi kini ketika informasi sangat mudah didapat dan diakses dari berbagai sumber seperti koran, majalah, televisi hingga internet, maka mau tidak mau estetika memegang peranan penting dan menjadi nilai tambah di samping kualitas produk dan layanan pasca jual.

 

 

 

 

Tiga (3) alasan penting mengapa estetika penting dalam pemasaran, yaitu:8

1.   Estetika dapat menciptakan loyalitas konsumen dengan memberikan pengaruh psikologis dan emosional. Contohnya melalui keunikan sebuah logo pada kemasan.

2.   Estetika dapat menjadi standar perusahaan untuk menetapkan harga. Menurut Bernd Schmitt, seorang brand strategist, “When your company or product provides specific experience that customers can see, hear, touch and feel, you are adding value and you can price that value.”

3.   Estetika dapat membuat sebuah produk menjadi berbeda (point of differentiation) di tengah persaingan merek yang semakin ketat.

 

Selain mempertimbangkan estetika, sebuah desain kemasan yang ditujukan untuk penjualan swalayan harus memenuhi beberapa kriteria, antara lain:9

1.   Stands out (menonjol) Kriteria yang paling penting adalah bahwa kemasan harus menonjol. Kalau kemasan tidak atau kurang menonjol maka ia akan kehilangan fungsinya, karena suatu produk harus bersaing dengan berpuluh-puluh produk lainnya dalam kategori yang sama di tempat penjualan. Salah satu cara adalah dengan penggunaan warna yang cermat, karena konsumen melihat warna jauh lebih cepat daripada melihat bentuk atau rupa. Dan warnalah yang pertama kali terlihat bila produk berada di tempat penjualan. Warna yang terang akan lebih terlihat dari jarak jauh, karena memiliki daya tarik dan dampak yang lebih besar.

2.   Contents (Isi) Kemasan harus dapat memberikan informasi tentang isi kemasan dan apa yang terkandung dalam produk. Misalnya, pada kemasan produk-produk makanan biasanya dicantumkan kandungan gizi produk tersebut dan berapa kalori yang dihasilkan setelah konsumen mengkonsumsi produk tersebut.

8Iwan Wirya (1999).
9 Bob Cotton (1990), The New Guide to Graphic Design, Phaidon Press Limited, Oxford, England. h. 171

3.   Distinctive (Unik) Secara keseluruhan desain kemasan harus unik dan berbeda dengan produk pesaing.

4.   Suitable (Sesuai) Desain kemasan harus sesuai dengan produk yang dikemas. Misalnya, bentuk kemasan botol untuk produk cair.

 

8.   KESIMPULAN

Kemasan merupakan salah satu solusi untuk menarik perhatian konsumen karena berhadapan langsung dengan konsumen. Seiring dengan berkembangnya jaman dan meningkatnya persaingan, fungsi kemasan yang dulunya hanya sebagai wadah atau pelindung berubah menjadi alat jual yang memberikan dan menciptakan citra kepada produk yang dijualnya.

Kemasan merupakan satu bagian dari Desain Komunikasi Visual yang menuntut banyak pertimbangan dalam proses pembuatannya karena selain mempertimbangkan faktor estetis dan fungsionalnya, seorang desainer komunikasi visual yang baik juga harus memikirkan bagaimana kemasan yang didesain itu dapat menarik perhatian konsumen dan memenangkan persaingan pasar.

Akhirnya, kemasan bagaikan “kulit luar” atau tampilan dari sebuah produk untuk menarik konsumen membeli produk tersebut. Seperti kata iklan sebuah produk parfum, “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda.”

 

KEPUSTAKAAN

Christine Suharto Cenadi, Peranan Desain Kemasan Dalam Dunia Pemasaran, Universitas Kristen Petra
Arntson, Amy E. Graphic Design Basics. Holt, Reinhart and Winston, Inc., Orlando, 1988.

Cenadi, Christine S. Elemen-elemen dalam Desain Komunikasi Visual. Jurnal Nirmana volume 1 nomor 1, Unversitas Kristen Petra, Surabaya, 1999.

Cotton, Bob. The New Guide to Graphic Design. Phaidon, Oxford, 1990.

Hisrich, Robert D. & Michael P. Peters. Marketing Decisions for New and Mature Products. Macmillan Publishing Co., New York, 1991.

Holland, DK. Great Package Design – Creating Competitive Edge. Rockport Publishers,
Inc., Minnessota, 1992.
Kartajaya, Hermawan.
Marketing Plus 2000 Siasat Memenangkan Persaingan Global.
PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1996.
Kotler, Philip. Marketing 1. Penerbit Erlangga, Jakarta, 1987.
Nitisemito, Alex S. Marketing. Ghalia Indonesia, Jakarta, 1986.
Stanton, William J. & Y. Lamarto. Prinsip Pemasaran. Penerbit Erlangga, Jakarta, 1988.
Swann, Allan.
The New Graphic Design School. New Burlington Books, London, 1997.
Wirya, Iwan. Kemasan yang Menjual. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1999.

 

===========    Selamat Belajar    =========

 

Oleh: tonz94 | 26 Januari 2008

LAYOUT DESAIN GRAFIS (6)

BAHAN AJAR DESAIN GRAFIS

LAYOUT DESAIN GRAFIS (6)

Disampaikan oleh

Soekartono,S.IP.,M.Si

tonz94@gmail.com

   

Layout berkaitan dengan pengaturan huruf dan visual pada permukaan dua dimensi agar seluruh informasi dapat dibaea, jelas, dan menarik. Layout merupakan pengaturan huruf dan visual pada sebuah cetakan atau halaman elektronik. Agar Anda sukses dalam mendesain

      layout, Anda harus memulai dengan beberapa pertanyaan.

·        Siapa yang akan membaca atau melihat ini?

·        Gaya apa yang eoeok untuk audien?

·        Apa fungsi desain tersebut?

·        Apa informasi atau pesan yang akan disampaikan?

·        Di mana itu akan dilihat?

 

Dari jawaban ini, anda dapat memulai membuat sketsa kasar dalam berbagai variasi layout. Ini hanyalah salah satu cara untuk dari beberapa cara yang mendasar untuk menjaga tetap di benak anda. Prinsip – prinsip desan yang paling penting yang berpengaruh pada layout adalah fokus hirarki visual, kesatuan, dan keseimbangan.

 

Ketika Anda membangun titik fokus, maka Anda membuat sebuah. daerah utama yang menarik pada halaman. Pemilihan elemen pada titik fokus,

apakah elemen itu huruf atau visual, didasarkan pada beberapa faktor:

·        Apa pesan utama atau informasi yang butuh dikomunikasikan?

·        Elemen mana yang paling menarik?

·        Elemen mana yang paling penting?

 

Iklan Low Fat Milk dari Parmalat yang berjudul “Unbrellas” menggunakan titik fokus, yaitu tertuju pad a jariyang sedang memegang tempat Low Fat Milk (payung keeil). Selanjutnya, tertuju pad a payung besar dan kemudian baru elemen lainnya. Iklan buatan Del Campo Nasea Saatehi & Saatehi Buenos Aires ini memenangkan penghargaan “Gold Lion” pada festival Cannes 2002. Iklan tersebut ditunjukkan pada Gambar 4.14.

Gambar 4.14

 

Gambar 4.15

 

Gambar 4.15 menunjukkan iklan Toyota menggunakan titik fokus pada tempat parkir yang bersih dari olL Iklan Toyota yang berjudul “Parking” tersebut mendapat penghargaan “Silver” pad a festival Hispanic Creative Advertising Awards 2003.

 

 

Dalam mendesain layout, posisi elemen pada halaman, hubungan antara elemen satu dengan yang lainnya, yaitu ukuran, warna, kontras nilai, tekstur, dan bentuk serta hirarki visual harus dipertimbangkan. Iklan Museum Komunis yang berjudul “Opening Hours” buatan Leo Burnett Praha merupakan contoh baik mendesain layout. Iklan tersebut memenangkan

“Golden Drum” pada festival Golden Drum 2002. Lihat Gambar 4.16.

Gambar 4.16

 

 

Layout akan berhasil, jika menggunakan prinsip kesatuan. Seperti yang telah dibahas di muka, prinsip kesatuan dapat dengan menggunakan hubungan, kesejajaran, grid, dan aliran. Iklan Energizer yang berjudul “Train” menggunakan prinsip kesatuan dengan hubungan. Iklan buatan J. Walter Thonson memenangkan “Bronze” pad a festival Hispanic Creative Advertising Awards. Lihat Gambar 4.17.

 

Gambar 4.17

 

 

Iklan PCK Polish red cross menggunakan prinsip kesatuan dengan grid. Iklan berjudul “Dresden” buatan McCann Erickson tersebut memenangkan “Golden Drumstick” pada festival periklanan Golden Drum 2002. Lihat Gambar 4.18.

Gambar 4.18

 

Keseimbangan merupakan distribusi bobot dalam layout. Seperti halnya hirarki visual, keseimbangan merupakan faktor yang penting dalam kesuksesan merancang layout. Untuk membuat keseimbangan desain, Anda harus memepertimbangkan bobot visual, posisi, dan pengaturan.

 

 

Iklan Diet Pepsi menggunakan prinsip keseimbangan dalam layout. Iklan buatan BBDO Bangkok dengan judul “Cat” terse but mendapat penghargaan “Silver” untuk kategori minuman non alkohol pada festival Adfest 2002. Iklan Diet Pepsi tersebut ditunjukkan pada Gambar 4.19.

Gambar 4.19

 

Iklan Nintendo yang be~udul “Reduce Speed” juga menggunakan prinsip keseibangan dalam layout. Iklan buatan Leo Burnett London tersebut memenangkan penghargaan “Gold” pada festival Effie 2003. Lihat Gambar 4.20.

 

Gambar 4.20

 

Salah satu perusahaan yang berhasil melaksanakan pesan iklan adalah Nike. Nike termasuk merek sepuluh terbesar dunia. Nike menganggap iklan bukan menjual produk, tetapi menjual merek. Dalam merancang pesan Nike menggabungkan nama merek dan citra ke dalam struktur budaya olah raga dan menggunakan kekuatan emosionalnya. Nike, Procter & Gamble, Levi Strauss, Nissan, Compaq, Coke, Pepsi, dan McDonald menghabiskan jutaan dolar setiap tahun untuk membuat pesan iklan yang kreatif.

 

Strategi merancang pesan yang sukses membutuhkan pengembangan strategi kreatif dan eksekusi strategi kreatif. Burger King mengganti tema iklan 18 kali dalam 20 tahun dan mengganti agen periklanan sebanyak 7 kali untuk mendapatkan identitas yang kuat dalam pasar makanan cepat saji (fast-food). Pangsa pasar turun dan pemegang waralaba merasa tidak senang dengan tidak mampunya perusahaan melakukan kampanye yang efektif. Akhirnya, pada tahun 1994 ia menggunakan kata “Get your burger’s worth”.

Kreativitas adalah kemampuan menyajikan gagasan atau ide baru. Inovasi merupakan aplikasi gagasan atal1 ide baru tersebut. Menciptakan ide yang orisinil tidaklah mudah. Karena itu perlu adanya beberapa teknik menciptakan ide, yaitu penyesuaian (adaptasi), pembesaran (maksimasi), pengecilan (minimasi), pembalikan (inversi), penggantian (substitusi), perubahan (modifikasi), pengaturan kembali, dan perpaduan (kombinasi). Voltai mengatakan bahwa “Orisinil itu tidak ada, yang ada adalah tiruan yang bijaksana”. Kreativitas hampir selalu digunakan dalam periklanan (multimedia) karena kreativitas dapat membantu periklanan dalam memberi informasi, membujuk, mengingatkan, meningkatkan nilai, dan dapat “meledakkan” periklanan.

 

Sosiolog asal Jerman, Max Weber menentukan bahwa orang berpikir melalui dua cara, yaitu cara berpikir objektif, rasional, berdasarkan fakta dan cara berfikir kualitatif, intuitif, berdasarkan nilai. Contoh, saat menjawab tes kita menggunakan gaya berpikir rasional dan berdasarkan fakta. Saat membeli mobil dan mencoba, kita menggunakan intuisi dan pengetahuan untuk membuat keputusan yang bernilai kualitatif dari

 

 

feature, gaya, dan kinerja mobil terhadap harga mobil. Kebanyakan teori berpikir mengikuti dua kategorikan umum, yaitu cara berpikir berdasarkan fakta dan cara berpikir berdasarkan nilai. Jika tim kreatif lebih menyukai gaya berpikir berdasarkan nilai, maka cenderung menghasilkan iklan yang lembut, halus, intuitif, emosional, dan kiasan, contohnya iklan Nike dan BMW. Pemasang iklan juga menyukai pendekatan seperti ini. Akan tetapi, jika pemasang iklan lebih menyukai gaya berpikir berdasarkan fakta, maka akan mencari agen periklanan yang menghasilkan iklan yang sederhana, langsung, rasional, dan banyak menggunakan data. Printer Hewlett-Packard yang ditangani oleh agen periklanan Saatchi 8: Saatchi menggunakan pendekatan ini.

Pembentukan pesan tentang produk pada prinsipnya manfaat utama yang ditawarkan merek sebagai pengembangan konsep produk. Pesan iklan harus dapat disampaikan secara kreatif, bahkan kreativitas ini lebih penting daripada jumlah uang yang dikeluarkan. Kreativitas dalam periklanan (multimedia) merupakan proses yang meliputi beberapa tahap. Graham Wallas membagi proses kreativitas tersebut menjadi empat tahap, yakni persiapan, inkubasi, illuminasi, verifikasi, dan revisi. Sumber variasi informasi tersedia untuk membantu spesialis kreatif menentukan tema kampanye, daya tarik, atau gaya eksekusi.

 

Pada tahap preparasi, informasi latar belakang yang diperlukan dikumpulkan untuk memecahkan masalah lewat studi dan penelitian. Tahap inkubasi mengambil langkah untuk mengembangkan ide kreatif tersebut. Tahap Iluminasi melihat cahaya terang dari penyelesaian tersebut. Akhirnya tahap verifikasi dan revisi melihat kembali dan menyempurnakan ide serta memilih di antara ide kreatif tersebut yang terbaik.

 

 

 

COPY PLATFORM

Seperti halnya proses promosi dan pemasaran lainnya, aspek kreatif periklanan dipandu oleh tujuan dan sasaran yang spesifik. Strategi kreatif memfokuskan pada apa yang harus dikomunikasikan yang akan memandu pengembangan seluruh pesan yang digunakan dalam kampanye periklanan. Strategi kreatif didasarkan pada beberapa faktor:

·        identifikasi audien sasaran

·         masalah dasar, isu, atau peluang periklanan

·        ide penjualan utama

·        tema kampanye

·        daya tarik

·        gaya eksekusi yang digunakan

·        informasi pendukung yang dibutuhkan dalam periklanan

     

Faktor-faktor tersebut oleh beberapa agen periklanan didokumentasikan dan dikenal sebagai Copy Platform atau Crative Platform atau Creative Brief atau Work Plan. Dalam pembuatan film kartun atau game, Copy platform ini biasa disebut Treatment. Bagian penting dari strategi kreatif adalah menentukan ide penjualan utama, yang akan menjadi tema pusat kampanye periklanan. Beberapa pendekatan menentukan ide penjualan utama antara lain menggunakan strategi generik, strategi preemtive, strategi unique selling proposition, strategi menciptakan suatu brand image, strategi mencari inherent drama in the brand, strategi resonansi, dan strategi positioning.

 

 

IDENTIFIKASI AUDIEN SASARAN

Identifikasi audien sasaran maksudnya melakukan identifikasi pad a pasar yang ingin kita bidik atau melakukan segmentasi pasar. Segmentasi pasar adalah tindakan membagi-bagi pasar ke dalam kelompok­kelompok pembeli yang berbeda yang mungkin menghargai variabel untuk mendapatkan mana yang mengungkapkan peluang segmenta si terbaik. Untuk pemasaran produk konsumen, variabel segmentasi utama adalah geografi, demografi, psikografi, perilaku, dan manfaat. Segmentasi komunitas Internet, variabel segmentasi utamanya adalah komunitas minat, komunitas relasi, komunitas fantasi, komunitas transaksi, dan komunitas profesional. Segmentasi pasar industri, variabel utamanya adalah menurut variabel demografi, variabel operasional, pendekatan pembelian, faktor situasional, dan karakteristik pribadi.

Untuk masing-masing segmen potensial, dikembangkanlah profil segmen pelanggan. Efektivitas analisis segmentasi tergantung pada dapat tidaknya kita menentukan segmen yang dapat diukur, cukup besar, dapat dimasuki, dan dapat digarap. Berikutnya, penjual harus membidik segmen (segmen-segmen) pasar yang terbaik. Untuk melakukannya, penjuallebih dulu mengevaluasi potensi laba masing-masing segmen. Ini adalah fungsi ukuran dan pertumbuhan segmen, daya tarik struktural segmen (menurut model lima kekuatan dari Porter), serta tujuan dan sumber daya perusahaan.

 

Selanjutnya, pengiklan harus memutuskan berapa banyak segmen yang akan diliput. Pengiklan dapat mengabaikan perbedaann antar segmen (pemasaran serba neka), mengembangkan berbagai penawaran pasar untuk beberapa segmen (pemasaran serbasama), atau menggarap satu atau beberapa segmen (pemasaran terpadu). Keputusan peliputan pasar akan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti sumber daya perusahaan, homogenitas produk dan pasar, tahap siklus hidup produk, dan strategi pemasaran bersaing. Dalam memilih segmen sasaran, para pemasar perlu menyadari adanya keterkaitan antarsegmen serta kemungkinan pergerakan ke segmen lain.

 

 

STRATEGI GENERIK

Pendekatan generik ditemukan oleh Michael E. Porter. Pendekatan ini berorientasi pada keunggulan biaya keseluruhan dan diferensiasi. Keunggulan biaya keseluruhan menonjolkan harga lebih rendah daripada pesaing. Iklan Sasturn menggunakan strategi keunggulan biaya keseluruhan. Iklan buatan Jung von Matt AG Hamburg tersebut memenangkan penghargaan “Silver” pada festival Euro Effie 2003. Lihat Gambar 5.1.

 

 

 

 

 

Diferensiasi menonjolkan perbedaan yang menyolok pada mereknya dengan merek pesaing tidak secara superior. Diferensiasi terdiri dari diferensiasi produk, diferensiasi pelayanan, diferensiasi personal, diferensiasi saluran, dan diferensiasi citra. Diferensiasi produk terdiri dari bentuk, pernik-pernik, kualitas, kehandalan, dan mudah diperbaiki baik gaya dan rancangannya.

 

Iklan BMW menggunakan strategi diferensiasi produk. Ini adalah perusahaan paling mengagumkan, peringkat satu dunia pada tahun 2002, versi majalah Fortune. Iklan BMW buatan Fallon New York ditunjukkan pada Gambar 5.2.

 

Demikian juga IBM, ia menggunakan strategi diferensiasi produk. Lihat Gambar 5.3. IBM merupakan perusahaan peringkat 19 dunia berdasarkan pendapatan dan perusahaan peringkat pertama dunia dari industri komputer dan peralatan kantor. Perusahaan ini mempunyai filosofi rasa hormat kepada individu, memberikan terbaik pad a pelanggan, dan melaksanakan semua tugas dengan gagasan bahwa semua dapat dicapai dengan cara yang unggul. IBM merupakan perusahaan teknologi berkomitmen yang tidak habis-habisnya pada mutu. IBM Thinkpad Transnote adalah produk pemenang penghargaan “For Technological Excellence” untuk kategori PC dari PC Magazine pada tahun 2001. Pada Gambar 5.3, IBM mengiklankan perangkat lunak yang membidik pasar programmer muda, dot.comcer muda, dan pembuat tes teknologi muda.

 

Diferensiasi pelayanan meliputi mudahnya pemesanan, instalasi pelatihan pelanggan, konsultasi pelanggan, pemeliharaan dan perbaikan, dan pelayanan lainnya. Perusahaan yang menggunakan strategi ini adalah Dell Computer. Dell merupakan perusahaan peringkat dua puluh tiga yang paling mengagumkan dunia dan peringkat empat dunia dalam industri Komputer. Penghargaan yang diterima pad a tahun 2002 yang berkait dengan strategi pelayanan antara lain sebagai Leadership Position dalam produk pelayanan teknologi informasi, server, desktop, dan notebook dari Technology Business Research, The Best Service and Support dari pembaca majalah Computer Shopper, dan Pemenang penghargaan dari pembaca PC Magazine untuk kategori Service and Reliability for desktops. Pada tahun 2001, Dell mendapat penghargaan sebagai “Good PC Reliability and Service dalam kategori Work PCs, Home PCs, and Notebooks dari PC World dan penghargaan “Premier Support” untuk dell.com dari The Association of Support Professionals. Pada tahun 2000 Dell computer mendapat penghargaan dari Web Host Industry Review sebagai “Web hosting excellence” dalam kategori virtual hosting. Iklannya ditunjukkan pada gambar 5.4

 

 

Federal Express juga menggunakan strategi diferensiasi pelayanan untuk meraih kesuksesannya yang menempatkannya pad a peringkat tujuh perusahaan yang paling mengagumkan dunia pada tahun 2002. Iklannya ‘ dapat dilihat pada Gambar 5.5.

 

 

Diferensiasi personal adalah diferensiasi lewat keunggulan rsonal. Salah satu perusahaan yang menggunkan strategi diferensiasi rsonal adalah Singapore Airlines. Perusahaan ini mempunyai reputasi mugari yang istimewa. Oleh karena itu, dalam iklannya ditampilkan foto pramugari. Singapore Aiirlines merupakan perusahaan yang !nempati peringkat lima puluh perusahaan yang paling mengagumkan Inia pada tahun 2002. Dapat dilihat iklannya pada Gambar 5.6.

 

 

Diferensiasi saluran adalah diferensiasi lewat keunggulan rancangan distribusi, cakupan, keahlian, dan kinerja. Caterpillar menggunakan strategi ini untuk memenangkan persaingan. Perusahaan merupakan perusahaan peringkat tiga puluh sembilan, perusahaan yang paling mengagumkan dunia versi majalah Fortune pada tahun 2003. in Caterpillar ditunjukkan pada Gambar 5.7.

 

Strategi Preemtive

Strategi preemtive serupa dengan strategi generik, tetapi menonjolkan superioritasnya. Strategi ini digunakan oleh perusahaan yang produknya keeil. Strategi preemtive ini merupakan strategi yang eerdik karena menonjolkan superioritasnya dan merupakan pernyataan yang unik. Pendekatan ini dilakukan oleh Visine, yaitu salah satu merek obat tetes mata yang tersedia di pasar yang telah mendapatkan reputasi dari pelanggan untuk kualitas dan kemanjuranya dengan semboyan “getting the red out”. Sejak dikenalkan 30 tahun yang lalu, Visisne selalu menjadi merek obat tetes mata nomor satu dan sinonim dengan pemeliharaan mata. Demikian juga Nurofen Menstrual yang berjudul A Man, menyampaikan pesan yang menonjol, tidak pernah menstruasi seperti pria. Iklan buatan McCann-Erickson Polandia tersebut memenangkan penghargaan “Golden Drum” 2003. Iklan tersebut ditunjukkan pada Gambar 5.8.

Gambar 5.8

 

 

 

STRATEGI UNIQUE SELLING PROPOSITION.

Strategi Unique Selling Proposition dikembangkan oleh Rosser Reeves. Strategi ini berorientasi pada keunggulan atau kelebihan produk yang tidak dimiliki oleh produk saingannya. Kelebihan tersebut juga merupakan sesuatu yang dicari atau dijadikan alasan konsumen menggunakan suatu produk. Produk dibedakan oleh karakter yang spesifik. Pendekatan ini dilakukan oleh mobil Land Rover pad a kampanye iklannya dengan “Freelander brings out the free spirit in you”. Iklan yang berjudul “Meercats” ini menyajikan realitas petualangan Afrika yang dilihat sebagai sebuah mimpi. Iklan buatan Young & Rubicam London tersebut memenangkan penghargaan “Gold” pada Euro Effie 2003. Iklan tersebut ditunjukkan pad a Gambar 5.9.

 

 

 

STRATEGI BRAND IMAGE

Sebuah merek atau produk diproyeksikan pada suatu citra (image) tertentu (melalui periklanan). Gagasannya adalah agar konsumen dapat menikmati keuntungan psikologis dari sebuah produk (selain keuntungan fisik yang mungkin ada). Ini biasanya berorientasi pad a simbol kehidupan. Pendekatan ini dipopulerkan oleh David Ogilvy dalam bukunya Confessions of an Advertising Man. Perusahaan yang menggunakan pendekatan ini antara lain Sony, yaitu menggambarkan citra kualitas dari Jepang. Sony merupakan peringkat dua puluh delapan perusahaan yang mengagumkan dunia dan perusahaan elektronik dan peralatan listrik peringkat dua dunia versi majalah Fortune dengan penjualan 60.608 juta dolar per tahun.

 

 

 

STRATEGI INHERENT DRAMA

Strategi Inherent Drama atau strategi karakteristik produk yang membuat konsumen membeli. Inherent Drama menggunakan pendekatan yang menekankan filosofi periklanan dari Leo Burnett, pendiri agensi Leo Burnet di Chicago. pia percaya bahwa iklan didasarkan pad a landasan manfaat yang diperoleh komsumen dengan menekankan elemen dramatik yang diekspresikan pada manfaat tersebut. Contoh, iklan pakaian santai Cherokee yang dibuat oleh Lowe & Partners yang secara dramatik merasa santai meskipun dikelilingi ikan hiu. Iklan Cherokee tersebut ditunjukkan pada Gambar 5.11.

 

 

STRATEGI RESONANSI

Strategi ini tidak berfokus pad a produk dan citra merek, tetapi lebih berfokus pada situasi atau kondisi yang ditemukan yang menguatkan penglaman hidup konsumen. Ini biasanya berorientasi pada pada gaya hidup dari pasar yang diharapkan. Contoh, iklan mobil Mercedes yang menggunakan strategi resonansi. Lihat Gambar 5.12.

 

 

STRATEGI POSITIONING

Strategi Positioning sebagai dasar strategi pemasaran dikemukakan oleh Jack Trout dan Al Ries pad a awal tahun 1970-an dan menjadi dasar yang populer pengembangan strategi kreatif. Gagasan umum positioning adalah menempatkan sebuah produk untuk mendapatkan posisi yang baik dalam benak konsumen. Merek yang telah memiliki posisi mapan dalam benak konsumen menjadi faktor pengaruh yang kuat pad a saat konsumen memerlukan solusi. Ini biasanya berorientasi pada market leader.’ Jack Trout dan Al Ries mengatakan bahwa positioning bukan yang dikerjakan terhadap produk, tetapi yang dikerjakan terhadap benak konsumen. Pendekatan ini dilakukan oleh Volvo dengan positioning “Volvo for Life”. Gambar 5.13. melukiskan strategi positioning Volvo yang dibuat oleh Cowtown Studio Kansas tersebut.

 

 

REFERENSI

M.     Suyanto, Aplikasi Desain Grafis, Yogyakarta : Andi,

 

===========    Selamat Belajar    =========

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori